Senin, 16 November 2020

Food Junction Pakuwon

Ahad, 15 Nopember 2020 setelah tilik bayi ke rekan kerja isteri di Benowo, lalu menyempatkan untuk mengunjungi Food Junction di Pakuwon.

Sebuah destinasi yang menyediakan aneka makanan minuman dan juga spot foto yang menarik dengan danau di tengahnya.

Harga mamin yang dijual pun relatif terjangkau, seperti pada tempat mall lainnya



























Sabtu, 24 Oktober 2020

Dinamika Sosial

Sebuah masyarakat adalah komunitas yang beragam dari berbagai latar belakang. Tak terlepas dengan Tambak Medokan Ayu RT 08 / RW 02.

Berawal menempati rumah baru tahun 2011 saat areal masih banyak tambak yang diisi dengan ikan tawar, warganya-pun masih jejarang jaraknya. Namun struktural kepemimpinan lokal sudah terbentuk. 

Mengadopsi tradisional desa yang guyub rukun dan mengedepankan "cangkruk" setiap malam pada pos ronda menjadikan bentuk dialektika masyarakat urban rasa "Matraman"

Satu persatu lahan kavlingan dan tambak yang mulai terbangun, mengubah perwajahan sosial karena warga yang datang terakhir lebih cenderung "individualis" dengan rutinitas pagi bekerja sore pulang kerja dan langsung istirahat, akhir pekan liburan bersama keluarga.

Gejolak muncul dengan warga yang lebih dulu merintis "perkampungan" karena merasa "pendatang" memiliki tingkat kepedulian yang minim terhadap komunikasi antar warga dan bentuk kegiatan sosial non-formal lainnya.

Arena perdebatan mulai muncul di permukaan saat menentukan sistem keamanan, golongan "tua" lebih cenderung membuat pam swakarsa dengan menjadwal giliran setiap warga dengan alasan bahwa tidak semua warga sanggup untuk membayar iuran sekuriti sekaligus untuk bisa saling mengenal sesama warga.

Namun bagi golongan yang lebih muda dengan tingkat kesibukan kerja paginya membuat jaga malam beban tersendiri, bila tidak datang dikenai denda Rp. 100ribu perkehadiran atau mencari pengganti. Bila ikut jaga malam hingga pukul 04.00 dinihari membuat kantuk yang berat di tempat kerjanya.

Persoalan ini menjadi bibit "disparitas" golongan yang akhirnya mengkristal hingga masuk ke dalam persendian struktural RT dan Ketakmiran Mushola As-Suyudi.

Karena golongan "muda" yang lebih mengedepankan logika dan secara kuantitas semakin banyak jumlahnya menjadikan keberadaannya mulai mendesak golongan "tua". sehingga lambat laun peranannya semakin terabaikan dalam percaturan pengambilan keputusan.

Dengan kesamaan platform dalam ide dan pelaksanaan, masyarakat lebih mempercayai diri ini karena mulai dari ide, fikiran, inisiasi, gerakan serta targetan dapat terukur dengan jelas dan tuntas hingga evaluasinya.

Akhirnya, konotasi-pun tersematkan seakan urusan kampung yang meliputi RT dan Ketakmiran didominasi dan dikendalikan oleh "Onny" dalam menentukan merah hijaunya kampung.

Dalam sebuah diskusi kecil yang muncul dari warkop dan forum cangkrukan. Saking inginnya lepas dalam bayang-bayang "Onny", Ketua RT (pak Huri) pernah mengatakan bahwa dirinyapun akan menolak ide "Onny" bila tidak menyetujuinya.

Begitu pula Ketua Takmir mulai enggan untuk merapatkan kegiatan ketakmiran dan cenderung untuk mendiskusikan non-formal tanpa adanya "Onny" lalu mengumumkan sebagai kegiatan resmi takmir.

Banyak rekan yang menyarankan "Onny" untuk tidak mendominasi urusan kampung. Pernyataan ini memang pernah muncul dari orang-orang yang berseberangan prinsip pengelolaan organisasi dengan "Onny" dan mereka cenderung "gagal" dalam mengelola saat di zamannya memimpin.

Maka, setelah intropeksi dapat diambil kesimpulan bahwa :

Dalam masyarakat dikenal golongan : 
  1. Orang yang tidak aktif, 
  2. Orang yang pasif
  3. Orang yang aktif, yang pertama aktif dalam "omongan" saja, dan yang kedua adalah orang yang aktif dalam fikiran, dana, dan tenaganya
  4. Orang yang mendominasi dan menentukan arah kebijakan.
Tanpa terasa, sembilan tahun keberadaan di kampung baru dan usia yang masih di bawah 40 tahun ternyata masyarakatnya sendiri yang memberikan predikat nomor 4. (pada prinsipnya semua orang bisa berperan lebih di masyarakat dengan memiliki karakter yang kuat, tanpa harus menunggu usia tua). 

Karena merupakan titik tertinggi dalam capaian sosial di masyarakat, maka sudah selayaknya peranan itu mulai dikurangi ataupun didelegasikan kepada rekan yang lainnya untuk sama-sama berproses menuju kematangan di tengah masyarakat.

Dalam sebuah diskusi internal dari rekan yang diharapkan menggantikan peran, telah tersampaikan anasir-anasir :
  1. Bahwa setelah terpilihnya Ketua RT dan Ketua Takmir masa bakti 2019-2022 yang merupakan orang satu jamaah, dan friksi-friksi di masyarakat pasca pemilihan sudah mulai reda, maka konsolidasi pengurus pada semester pertama dirasa sudah cukup baik dan kuat. Sehingga memasuki semester kedua diharapkan sudah mulai ada transisi dalam melepas perlahan-lahan peranan "yang mendominasi"
  2. Bahwa "Onny" telah berpijak satu kaki di RT 08 dan satunya lagi sudah di organisasi eksternal, artinya sebagian sudah fokus dalam mengurusi NU Medokan Ayu dan NU Kecamatan Rungkut. Kedua organisasi NU itu awalnya vakuum, sehingga mendapatkan tugas dari "suara langit" untuk membantu menghidupkan dan "ngurip-nguripi" kembali
  3. Bagi yang di dalam kampung, berkomitmen untuk tidak akan datang lagi pada awal rapat pengurus RT dan takmir. Karena dikhawatirkan ide pikirannya akan membentuk dan mempengaruhi pola keputusan di kedua lembaga tersebut. Tetapi tetap hadir pada rapat warga sebagai wujud partisipatif untuk mendukung kegiatan positifnya
  4. Menjaga jarak dengan dua lembaga tersebut bukan berarti "Klandestin", tetapi rekam jejak digital aktivitas sebelumnya tetap tertulis "abadi" pada web blog. Tergantung kontennya menjadi refrensi pijakan langkah atau memulai dengan ide kreatif yang baru bagi pengurusnya.
  5. Dengan mengurangi peran, maka terbuka bagi orang-orang yang merasa selama ini "kalah" peran dari "Onny" untuk masuk kembali dalam mewarnai kehidupan masyarakat.
  6. Benturan awal bisa terjadi dengan merasa takmir dikendalikan, diatur, atau didikte oleh orang luar jamaah sholat rowatib.
  7. Begitupula RT secara keputusan akan mendapatkan pertentangan dari "oposisi". Sehingga bila "gagap" dalam bersikap maka tidak mustahil RT akan menjadi "bulan-bulanan" warganya sendiri.
  8. Masyarakat akan membanding-bandingkan capaian prestasi dengan era kepengurusan sebelumnya, sehingga itu seharusnya menjadi cambuk lecutan untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik di masyarakat.
  9. Apapun yang diputuskan dari lembaga RT dan Takmir tetap didukung walaupun dengan standart karakter yang berbeda kualitasnya dibanding masa sebelumnya.
  10. Marilah kita sikapi momentum ini dengan bijak dan semangat kedewasaan, bahwa adakalanya kebersamaan tidak selamanya harus bersama langkah. Karena Allah jua yang memberikan amanah  dengan menempatkan kita pada tempat yang diKehendaki-Nya.




Rabu, 14 Oktober 2020

Usaha "Mama Pin Laundry"

Setelah dua generasi menjalankan usaha warung nasi di Rungkut Kidul gg ss/2, kini lahan tersebut diubah menjadi usaha "Mama Pin Laundry"


Dengan mengoperasikan dua unit mesin cuci, memastikan cucian pelanggan akan tepat waktu sesuai pesanan.

Buka jam 05.00 - 20.00 wib, dengan melayani :

  • Cuci Basah : Rp. 2000/kg
  • Cuci Kering : Rp. 3000/kg
  • Cuci Setrika : Rp. 5000/kg
  • Setrika: Rp. 3000/kg
Juga menjual es batu plastik ukuran 1 kg dengan harga : Rp. 500,-

Menjual kebutuhan pokok diantaranya :

Minyak Goreng

Gula Pasir

Telor










Selasa, 13 Oktober 2020

Ujian di musim pandemi

Sudah seminggu Ayah Siaman dan Ibu Nursiyati sakit di rumah dengan kondisi semakin memburuk.

Ibu sakit lambung dengan tidak mau makan, obat dari dokter tidak bisa masuk karena selalu muntah, sedangkan ayah merasa demam (gregesi) 

Akhirnya, Ahad (20/09/2020) bakda sholat dhuhur Ning Ivin menelpon untuk memastikan ayah dan ibu dibawa berobat ke rumah sakit Haji. Sehingga kami pun datang dari Medokan Ayu mengendarai mobil bersama Bp. Suparman

Sesampainya di ruang IGD ayah - ibu langsung didiagnosa dengan foto rontgen dan pemasangan alat oksigen, karena khususnya ibu ada sesaknya.

Kondisi Saturasi oksigen ibu yang berkisar antara 88 membuat kesimpulan bahwa kondisinya buruk, karena orang normal saturasinya sekitar 95-100.

Semua berkas medis yang saya tandatangani tertulis bahwa status dan pembiayaan kedua pasien adalah Covid-19, awalnya terkejut saat membaca berkas medis tersebut. Akan tetapi muncul semangat bahwa pengobatan kepada ayah dan ibu lebih utama, apalagi di rumah sakit peralatan dan tenaga medis yang lebih profesional untuk menjamin ayah ibu mendapatkan penanganan yang lebih baik daripada dirawat sendiri oleh keluarga di rumah.

Selasa pagi ayah mendapatkan bed di ruang isolasi, sedangkan ibu dikirim ke ruang isolasi pada bakda dhuhurnya. Peralihan dari ruang transit UGD ke Ruang isolasi terlihat ibu mulai gelisah, itu adalah wajah terakhir saya melihat ibu sebelum akhirnya kami harus terpisah di pintu ruang isolasi, karena selain pasien dan tenaga medis dilarang masuk ruangan tersebut.

Sebelum pulang, ada yang harus saya tandatangani yaitu kesediaan pemasangan ventilator kepada ibu, mengingat kondisinya yang sudah memburuk dan sebuah klausul bila pasien wafat harus di makamkan di TPU Keputih. Sebuah kondisi dilematis, tapi semuanya kami telah pasrahkan kepada Kehendak Allah SWT.

Bakda maghrib, info dari perawat menyampaikan bahwa ibu sudah dipasang NIV Ventilator, karena oksigen dengan kadar yang terbaik belum bisa mengendalikan saturasi oksigennya yang semakin memburuk.

Rabu (23/09/2020) pukul 01.30 dinihari perawat memberi info bahwa ibu semakin gelisah, hanya permohonan doa saja yang diharapkan dari keluarga untuk menghadapi kondisi yang menegangkan ini. Praktis setelah info tersebut, suasana kebatinan sudah tidak menentu hingga shubuh sulit mata ini dipejamkan.

Pada Rabu pagi harinya masih menyempatkan presensi kehadiran di tempat kerja, sepulang kerja pukul 14.00 info dari perawat menyampaikan kondisi ibu semakin memburuk, selang 30 menit berikutnya muncul notifikasi perintah untuk menghadap ke ruang isolasi saat itu juga. Akhirnya saya datang bersama dengan ning Ivin yang sebelumnya sudah saya pesan ke keluarga di gang ss bila terjadi kemungkinan yang terburuk untuk keluarga dikondisikan beserta warga di sekitar rumah.

Tepat pukul 16.00 sampai di depan ruang isolasi, kebetulan ada seorang penunggu pasien yang ada di situ menyampaikan bahwa baru saja ada pasien wanita yang meninggal. Sontak batin ini berkata, itu pasti ibu yang telah berpulang ke Rahmatullah.

Sejurus kemudian, datang perawat yang menyampaikan perihal wafatnya ibu Nursiyati lengkap dengan dokumen kematian serta beberapa surat yang harus ditandatangani. 

Perawat mengatakan bahwa ibu Nursiyati wafat pukul 15.45 (ket : Rabu, 23 September 2020/ 5 Safar 1442 H/ Rabu Pahing) dan pemulasaran jenazah harus mengikuti protokol Covid-19 serta di makamkan di TPU Keputih. Mewakili pihak keluarga kami menerima yang menjadi ketentuan rumah sakit, tetapi dua permohonan yang saya ajukan adalah sebagai anak untuk diijinkan menyolatkan jenazah sebagai penghormatan dan bakti anak yang terakhir kali serta mengantarkan jenazah hingga ke liang lahat. Syukurlah dua permintaan tersebut dikabulkan.

Sambil menunggu proses berikutnya, saya menyampaikan berita duka ini kepada ning Ivin yang dari tadi sudah melihat percakapan saya dengan perawat. Raut mukanya yang termenung seakan lintasan kenangan mengingat kembali saat-saat kebersamaan ibu di kala masih hidup terutama saat merawat Aisyah setiap hari di rumah gang ss.

Perlahan bibir ini berucap, sudahlah kita sudahi kenangan silam bersama ibu, mari kita segerakan prosesi hingga pemakaman.

Tertulis di surat kematian, bahwa ibu meninggal karena penyakit menular walaupun hasil PCR-SWAB belum terbit, sehingga keputusan cepat kami ambil berdua dari rumah sakit haji. 

Suara hati berkata, "Kita sayang ibu, Kita sayang keluarga, Kita pun juga sayang kepada warga" jadi saat itu pula saya umumkan melalui WA berbagai grup bahwa bu. Nursiyati wafat dan dimakamkan di TPU Keputih.

Sengaja pengumuman saya cantumkan TPU Keputih dengan maksud agar warga tidak perlu takziyah ke rumah gang SS dan perangkat pemakaman di Rungkut Kidul untuk tidak bertugas hari itu.

Refleks keputusan muncul dari pembiasaan saat menangani warga kampung Medokan Ayu yang meninggal karena Covid-19 dan dimakamkan di TPU Keputih, yaitu untuk sementara warga tidak bertakziyah dulu ke rumah duka sekaligus keluarganya kami beri pengertian bersama satgas Covid-19.

Bakda maghrib, kami menerima surat pengantar pengambilan jenazah yang ditujukan kepada pegawai pemulasaran jenazah. Dari komunikasi dengan pegawai pemulasaran dijelaskan bahwa para dokter mendiagnosa awal pasien Covid-19 dengan foto rontgen. Bila dari foto tersebut tampak paru-paru pasien muncul kabut / flek seperti orang terjangkit TBC enam bulan dengan nafas yang tersengal-sengal, maka kemungkinan besar pasien tersebut adalah Covid-19 walaupun hasil SWAB nya belum terbit. Sehingga penanganannya di ruang isolasi, bukan di ruang rawat inap umumnya.

Dari cerita tersebut membuka pencerahan tentang penyakit yang sedang menjadi pandemi, sekaligus ciri-ciri tersebut seperti yang tampak di akhir hayat ibu sebelum meninggal. 

Tidak berselang lama, jenazah ibu sudah didorong turun dari ruang isolasi lantai enam ke ruang pemulasaran jenazah dalam keadaan sudah dimandikan dan disucikan. 

Dalam aturan permenkes menyebutkan jenazah pasien menular (Covid-19) cukup diusap dan ditayamumkan saja, namun di RS Haji ada ketentuan walaupun Covid-19 tetap dimandikan dan dikafani.

Kesempatan untuk bisa menyolatkan jenazah ibu dapat terlaksana, bukan itu saja petugas juga memberikan kesempatan keluarga untuk bisa melihat wajah ibu yang terakhir kalinya.

Raut muka ibu yang tenang, tanpa menyisakan guratan sakit sisa sakaratul maut membuat hati yang melihatnya juga ikut bahagia. Bahkan tampak lebih segar dibandingkan awal masuk IGD yang tampak sudah pucat dan sayu.

Setelah meyakini bahwa yang terbujur di depan itu adalah jenazah ibu kami, maka selanjutnya kami persilakan petugas untuk melaksanakan proses selanjutnya. Petugas dengan hati-hati menutup wajah ibu dengan kapas, merapikan kembali balutan plastik pada lapisan pertama, lalu kain kafan dan selanjutnya yang terakhir kantong jenazah sebelum dimasukkan kedalam peti. Itulah detik-detik terakhir kami melihat ibu untuk berpisah selamanya.

Tak lupa kami menyempatkan sholat jenazah bersama petugas pemulasaran dan keluarga yang ikut saat itu (Mas Syamsul Huda dan Pak Parman) sedangkan Ning Ivin, Bunda Sri, dan Nisfa menunggu di luar ruangan.

Segera mobil jenazah mengangkut jasad ibu mengarahkan perjalanan ke TPU Keputih di iringi mobil keluarga. Laju cepat tanpa halangan sudah berada di lokasi pemakaman.

Tampak sebuah liang lahat yang sudah menga-nga membuat hati ini berdesir. Inikah tempat peristirahatan ibu ?

Petugas memakai pakaian hazmat mulai menurunkan peti jenazah dengan hati-hati ke liang lahat dan selanjutnya menimbunnya dengan gundukan tanah menggunakan buldozer. Sebuah pemandangan yang lazim dilihat di TV dan sekarang melihatnya secara langsung.

Setelah menata hati, lalu mengajak keluarga yang hadir saat itu merapat ke pusara ibu untuk membacakan talqin dan tahlil. Sekaligus "salam perpisahan" bahwa yang hidup akan kembali pulang untuk melanjutkan kehidupan dunia ini.

Selamat beristirahat ibu.....Semua yang kami perjuangkan ikhlas untuk ibu.

Selamat menghadap Robbul Izzati dalam keadaan tenang dengan melepaskan semua beban penyakit dan tanggungan duniawi.

Walaupun pengiring pemakaman tidak sebanyak di kampung, tetapi Semoga kepergian ibu dipersaksikan oleh para malaikat dan penghuni langit. Menjadi bagian dari para syahidah yang gugur karena wabah pandemi ini. 

Semoga Allah menempatkan ibu pada kedudukan yang mulia di-SisiNya dan kelak dimudahkan memasuki syurgaNya tanpa penghisaban.

Aamiin yaa Robbal A'alamin.

Berziarah 

Pemasangan rumput





Berpulangnya H. Tukiyat

  


Menjelang maghrib, Sabtu (18/07/2020) bertepatan 27 Dzulqo'dah 1441 H di Medokan Ayu sudah menemui dua tamu, yang pertama adalah keluarga mbak Chotimah yang berhajat untuk menikahkan putrinya, dengan khotmil Qur'an dari ketakmiran mushola As-Suyudi sebagai awalan untuk walimahnya

Bakda Isya, mas Budirama mengajak untuk berkumpul sambil menikmati mentok bumbu rica-rica yang disajikan di jalan depan rumahnya. untuk acara ini hadir bersama Abil dengan nikmatnya sambel pedas.

Warga yang hadir pun bercengkerama sehabis makan-makan, pukul 21.30 notifikasi WA muncul pesan dari ibu mertua (bu Tum) yang mengharapkan kehadiran saya saat itu juga ke Kedungasem, mengkhabarkan bahwa bapak mertua kondisinya tiba-tiba menurun dan tidak bisa merespon jawaban lesan bila ditanyai

Bergegas kami meluncur ke rumah mertua dan langsung menuju kamar bapak Tukiyat di kamarnya. Melihat kedatangan saya, beliau hanya memandangi satu persatu saya, bunda Sri, dan Abil. tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibir beliau. sedangkan adik Dwi (menantu kedua) dalam perjalanan mengambil mobilnya ke Medayu untuk membawa Bapak Tukiyat ke rumah sakit. Sedangkan Pujianto putra kandungnya sedang dinas malam pukul 21.00 di RSJ Menur

Sambil menunggu mobil, saya bersama isteri mencoba menurunkan bapak dari lantai dua kamarnya. saat kami berdirikan terasa kaki beliau sudah tidak berdaya, untuk melangkah saja sudah sulit. sehingga kami mencoba mengangkat kakinya satu persatu, yang agak sulit adalah saat menuruni tangga.

sesampainya di lorong lantai bawah, bapak duduk pada kursi paanjang. tidak berselang lama datang mobil disertai lik Minto juga hadir di rumah. Dari Isyarat tangan, bapak sepertinya tidak mau diajak ke rumah sakit karena tangan beliau menggenggam erat ujung lemari di depannya. sontak ibu berusaha melepaskan pengangan itu dan segera tubuh bapak yang lemas langsung jatuh pada punggung lik Minto dalam posisi seperti menggendong. saya dan ibu berjaga di kanan-kiri gendongan tersebut

Adik Dwi menyopiri mobil, duduk di sampingnya adalah bunda Sri. sedangkan Bapak ada di bagian tengah diapit oleh lik Minto di kanan, dan ibu di kiri. saya berada di kursi belakang sambil memegangi dada bapak dari belakang. Mobil dipacu dengan cepat menuju rumah sakit Islam Jemursari

Setelah melewati SMAN 16, terdengar sayup-sayup lantunan bacaan surat Al-Fatichah dari bibir bapak, hingga memasuki putar balik ke arah RS bacaan tersebut selesai diiringi rontahan bapak yang ingin melepaskan pegangan kami. saat memasuki portal parkir untuk mengambil karcis, terdengar suara "dengkuran" pada tenggorokan bapak, suara ini yang saya kenali sebagai tarikan nafas terakhir / nazak. ibu langsung menangis memeluk bapak, sedangkan dalam hati ini terucap innalillahi wa inna ilahi rojiun.

Tepat di depan pintu masuk IGD, tubuh bapak sudah tidak bergerak dan langsung direbahkan pada bed dorong. saat itu masih terdengar dengkuran di tenggorokan walau kecil sekali bunyinya, adik Dwi melihat itu sebagai tanda bahwa bapak masih hidup, sedangkan batin ini menyakini itu adalah sisa udara yang keluar terakhir dari tenggorokan bapak. 

Karena saking tergesa-gesanya tadi, sehingga saya lupa memakai sandal sehingga saya tidak mengikuti bapak masuk di ruang IGD, saya menunggu di luar bersama lik Minto. Tidak berselang lama, saya dipanggil masuk ke dalam IGD untuk mendapatkan penjelasan dari dokter.

Sambil melihat tubuh bapak yang membujur, kami mendapatkan penjelasan bahwa bapak sudah meninggal di perjalanan sebelum masuk ke ruang IGD, karena setelah dipasang peralatan detektor jantung ternyata sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah penjelasan dokter, saya pun menguatkan diri dengan mencium kening bapak yang terakhir kalinya, sebelum saya harus mengendalikan keadaan bersama keluarga. Jam pada dinding menunjukkan pukul 22.45 wib

Tak lama, saya dipanggil oleh tim dokter yang menyampaikan bahwa statusnya bapak adalah probable covid-19 karena dari interview ke keluarga dekat bahwa dua hari yang lalu bapak berobat ke dokter umum karena batuk. Tim dokter mengarahkan pemulasaran jenazah bapak mengikuti protokol covid-19 dan dimakamkan di TPU Keputih.

Saya pun bernegosiasi bahwa bolehlah jenazah bapak diproses dengan prokes, tapi pemakaman kami harap di pemakaman Islam Kedungasem. Awalnya tim dokter keberatan, tapi akhirnya memperbolehkan dengan syarat ada surat rekomendasi dari RT/ RW bahwa jenazah diperbolehkan dimakamkan di Kedungasem dan pekerja makam harus memakai alat pelindung diri. saya pun berjanji menyanggupi untuk memenuhi semua persyaratan malam itu juga.

Penyelamat

Tanpa fikir panjang, saya mengontak ustadz Yusuf yang merupakan ketua PRNU Kedungasem sekaligus teman di pengurusan MWC NU Rungkut. Tokoh yang sangat berpengaruh ini segera mengkoordinasikan perangkat kampung meliputi Sekretaris, RT, dan RW hingga pekerja makam malam itu juga. Saat saya pulang dari rumah sakit untuk mengurus surat rekomendasi, sudah tidak butuh waktu lama untuk mendatangi perangkat kampung. Begitu pula dari musyawarah kecil bersama mereka diputuskan untuk pemakaman bapak pada malam itu juga, tidak usah menunggu pagi karena masyarakat masih sensitif dengan isu-isu tentang covid-19.

Pukul 01.30 sayapun sudah balik kembali ke rumah sakit sambil membawa surat rekomendasi bersama adik Pujianto yang ijin pulang dari tempat kerjanya, setelah itu kami minta dik Puji pulang bermotor dengan lik Minto untuk mengurus yang di rumah, prosesi jenazah bapak saya tunggui bersama bunda Sri, sedangkan ibu dan dik Dwi sudah pulang bersama saya saat mengurus surat rekomendasi ke perangkat kampung.

Pukul 02.30 jenazah bapak siap diantar pulang dalam keadaan sudah dimasukan dalam peti kayu, saya sempatkan untuk sholat jenazah di dalam ruang jenazah bersama seorang modin dan seorang pegawai RS. Tak berselang lama jenazah bapak sudah diangkut di atas mobil jenazah meluncur ke Kedungasem, segera saya mengontak ustadz Yusuf dan keluarga bahwa 15 menit lagi jenazah sudah sampai di pemakaman depan sekolahan Jiwanala.

Sesampai di pemakaman sudah berkumpul keluarga dan warga walaupun langit masih gelap gulita, setelah menyerahkan jenazah petugas RS bergegas pergi dan peti jenazah segera digotong untuk dimasukan ke dalam liang lahat, saat itu hati "berdesir" merasakan perpisahan dengan bapak, sosok yang selalu membersamai Abil dalam sekolah dan bermain.

Terdengar Modin Kedungasem untuk mengarahkan para pelayat untuk berkenan mensholati jenazah bapak di pemakaman, dengan alas kaki di lepas lalu diinjak dengan kaki. Setelah disholatkan, terdengar perintah ustadz Yusuf untuk mengumandangkan adzan pada peti yang sudah berada di dalam liang lahat kemudian ditimbun dengan tanah. Selanjutnya dibacakan talqin oleh pak Modin.

Pukul 03.30 terdengar sayup-sayup suara masjid memulai aktivitasnya, saat itu pula paripurna seluruh prosesi pemakaman bapak H. Tukiyat. 

Selamat beristirahat Bapak dengan tenang, semoga segala khilaf dan kesalahan diampuni oleh Allah SWT, diterima seluruh amal ibadah dan ditempatkan Allah pada kedudukan yang mulia di Sisi-Nya

Ais dan Abil di pusara sang Kakek


Yang paling berkesan dari almarhum adalah, beliau mengajarkan untuk hidup mandiri. karena cepat atau lambat, orang tua pasti akan meninggal. Sehingga rumah tangga anak-anaknya harus bersiap untuk kuat berdiri sendiri, tanpa banyak menggantungkan kepada orang tua.








Senin, 07 September 2020

Obituari : Pak Krido Saptomo yang selalu hadir


Menjelang dhuhur tadi (7/9/2020) berita duka menghampiri warga RT 08 RW 02 Medokan Ayu dan Keluarga besar Jamaah Mushola As-Suyudi.

Adalah Bapak Krido Saptomo, warga gang VIa no 2a meninggal dunia di Rumah Sakit Premier Nginden. Padahal malam sebelumnya masih sempat bercakap-cakap dengan almarhum sepulang sholat berjamaah di musholah As-Suyudi. Begitu pula Shubuh tadi masih sempat ikut sholat berjamaah.

Beliau sosok yang istiqomah mengikuti sholat jamaah, kegiatan amaliyah rutinan, hingga perayaan hari besar Islam yang diadakan di mushola As-Suyudi.

Di tengah kerja bakti malam untuk meratakan jalan di bawah gapura gang VI

Begitupula dengan agenda sosial kampung, selalu membersamai dalam rapat warga, kerjabakti, hajatan warga, bahkan menjenguk warga yang sakit opname di rumah sakit, hingga takziyah mengantarkan jenazah warga ke pemakaman

Kanan Berkopyah - Jaring aspirasi bersama anggota dewan di masa reses via zoom

Sosok yang sebetulnya kaya dengan pengalaman, karena diskusinya selalu argumentatif seakan menguasai tema yang dibicarakan. Walau terkadang bisa melebar dari topik yang dibahas.

Saat komen di WA grup, tak jarang almarhum melontarkan joke-joke ringan (lelucon kata) untuk mengimbangi percakapan warga yang mulai menyengit atau emosional, sehingga menjadi penawar untuk cooling down sesaat.

Dalam kondisi fisik yang kurang sehat, almarhum mempunyai semangat hidup untuk bisa beraktivitas seperti warga pada umumnya, saat Rombongan ziaroh tiga bus di tahun 2017 ke makam Gus Dur, Troloyo, hingga Bung Karno dan kampung coklat di Blitar, beliau tidak mengeluh selama diperjalanan

Berbaju kuning

Kebersamaan kerja bakti saat membuat kandang ternak qurban Idul Adha tahun 2020 menjadi saksi "keperkasaan" almarhum, walaupun sebelumnya sempat opname di rumah sakit karena infeksi paru-paru dan hasil tiga kali tes swab yang negatif.

Kini takdir jualah yang memisahkan kebersamaan, namun almarhum telah menuliskan sejarah tersendiri di hati para warga, khususnya oleh takmir dan jamaah mushola As-Suyudi, karena saat kami mengambil persaksian sebelum sholat Ghoib, tentang :
  1. Apakah almarhum orang yang baik ? Jawabnya : Inggih
  2. Apakah almarhum orang yang aktif berjamaah ? Jawabnya : Inggih
  3. Apakah almarhum orang yang aktif dalam kegiatan sosial di RT 08 ? Jawabnya : Inggih
Dengan jawaban yang serentak dan serempak tersebut, semoga menjadi pengantar dalam menghadap yang Maha Kuasa dalam keadaan jiwa yang tenang - Muthmainnah

Semoga Almarhum ditempatkan dalam bagian dari taman-taman Surga-Nya.

Selasa, 25 Agustus 2020

Memori Tokoh Rungkut Kidul


Dari kiri :
  • KH. Muhadjir Yusuf Achmaturmudzi
  • KH. Misbach Hudin
  • KH. M. Thowil Huda
  • KH. Said Aqil Sirodj (PBNU)
  • H. Abdul Fatah
  • H. Achmad Yasak
Mendapati foto para tokoh NU Rungkut Kidul di era tahun 90-an, ingin rasanya menuliskan kisah tentang perjuangan beliau-beliau sesuai dengan kesanggupan pengamatan dan pengalaman yang pernah membersamainya.

KH. Muhadjir Yusuf Achmaturmudzi
Beliau berprofesi sebagai guru di SDI Wachid Hasyim dan juga sebagai guru PNS di Madrasah Ibtidaiyah Negeri, tempat tinggalnya di jalan Zamhuri sekaligus pengasuh dari Taman Pendidikan Al-Qur'an Kyai Syuhadak.

Alhamdulillah saya pernah mendapatkan keberkahan ilmu Fikih, Qur'an Hadits, Ke-Nu-an, dan Aswaja saat beliau mengajar di SDI Wachid Hasyim

Dalam pengabdian di NU Rungkut Kidul sebagai pengurus Tanfidziyah, beliaupun sering berkhutbah di masjid Al-Musthofa, sekaligus penasehat kepanitian zakat infaq dan shodaqoh khususnya di bulan Ramadhan. 

Pada suatu kesempatan setelah distribusi zakat fitrah di masjid, saya pernah dipanggil oleh beliau dan duduk berdua di salah satu serambi masjid (kebetulan saat itu, saya sebagai pengurus IPNU Rungkut Kidul yang bertugas menyediakan dan menjual paket zakat fitrah). beliau menyampaikan detail tentang pengelolaan zakat fitrah beserta prioritas asnaf yang perlu diberikan zakatnya. di akhir diskusi berdua tersebut, ada satu kalimat yang beliau terucap "ini semua saya sampaikan agar generasi muda mengetahui cara pengelolaan zakat fitrah". seakan itu sebuah pesan terakhir sebelum dalam tahun yang sama beliau berpulang ke Rahmatullah (Al-Fatichah) 

KH. Misbach Hudin
Baliau alumni dari Pesantren Tambak Beras Jombang, keilmuannya sering diajarkan pada jamaah di masjid Al-Musthofa pada pengajian rutin Ahad pagi bakda shubuh. begitupula khutbah sholat Jum'at mapun Iedain.

Domisili beliau dekat makam kembar di sisi timur, dengan memiliki toko peralatan rumah tangga yang buka setiap harinya. di samping rumah beliau berdiri Musholah Al- Hidayah 

Perjuangan beliau pernah menjadi Rois Syuriah NU Rungkut Kidul, juga menjadi Ketua Yastamaa' (Yayasan Ta'mirul Masjid Al-Musthofa) sebuah lembaga yang mengurusi pendidikan : TK. Wachid Hasyim, SDI Wachid Hasyim dan SMP Al-Wachid. 

Saat beliau menjadi Rois sekitar tahun 2005, bersamaan pula saya mendapatkan amanah sebagai Ketua PR IPNU Rungkut Kidul, pesan beliau adalah menghidupkan kembali kader - kader muda NU di Rungkut Kidul, yang sempat mengalami kevakuman sejak tahun 2001

Beliau wafat tahun 2016 dalam usia sekitar 55-an dan di makamkan di makam kembar Rungkut kidul sisi barat (Al-Fatichah)

KH. M. Thowil Huda
Tempat tinggal beliau di gang III berdekatan dengan Musholla Abdul Ghoni, dan merupakan purna tugas dari kepegawaian Departemen Agama.

Sebagai sesepuh Rungkut Kidul dan NU menjadikan beliau sebagai tempat rujukan dalam mengambil keputusan, khususnya terkait dengan keagamaan

Pengalaman yang sangat berkesan adalah saat beliau menegur keras, ketika kami menggabungkan acara IPNU dan organisasi remaja lain dalam pentas seni yang menampilkan gabungan sholawat, tari, dan band, serta gamelan. beliau beralasan bahwa IPNU memiliki marwah yang menempatkannya harus murni sesuai dengan amaliyah dan tradisi NU.

Sebagai kader yang harus sami'na wa atho'na kepada kyai, maka teguran tersebut kami terima dengan lapang  dada, dan menjadikan IPNU - IPPNU mereposisi tugas dan perannya sebagai organisasi kader yang berbasis pada sekolah naungan NU dan kemasjidan, dan menjadikan SMP Al-Wachid sebagai pilot project pengkaderan

Pembukaan Makesta di SMP Al-Wachid

Materi di dalam kelas

Orientasi lapangan bersama CBP
(Corps Brigade Pembangungan)

Pertemuan terakhir saat beliau sama-sama menghadiri acara akad nikah kerabat di masjid Al-Mustofa pada Jumat, 07 Agustus 2020, beliau didapuk sebagai pemimpin doa setelah akad nikah

Kyai berpeci putih

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kesehatan jasmani dan ruhani kepada beliau (Al - Fatichah)

H. Abdul Fatah
Tidak banyak yang bisa dituliskan, karena saat beliau menjadi Ketua Yastamaa saya masih menempuh pendidikan di SDI Wachid Hasyim

Hanya saja rekan satu leting pernah menyampaikan bahwa abah-nya merupakan ketua yayasan, sedangkan saya lulus SD pada tahun 1994

Semoga amal perjuangan beliau diterima di-Sisi Allah SWT (Al-Fatichah)

H. Achmad Yasak
Tempat tinggal beliau di gang II, saat saya mendapatkan amanah sebagai Ketua PR IPNU Rungkut Kidul tahun 2005, beliau adalah Ketua Tanfidziyah sekaligus Ketua Takmir Masjid Al-Musthofa Rungkut Kidul

Beliau memberikan banyak perhatian kepada IPNU - IPPNU yang baru merintis kembali, diantaranya : mempersilakan salah satu ruang masjid untuk menjadi sekretariat, membelikan seragam untuk petugas pengatur shof dan menertibkan anak-anak kecil saat sholat teraweh di masjid.

Beliau mengajarkan kemandirian organisasi dan taktikal wirausaha dengan meminjamkan modal usaha pengadaan beras zakat fitrah. rekan - rekan IPNU - IPPNU mengorganisir dari pembelian beras di toko Bima Putra, menimbang, mengantongi hingga menjualnya kepada para muzakki pada malam penerimaan zakat fitrah di masjid Al-Musthofa. bakda sholat Iedul Fitri pinjaman modal segera kami kembalikan dan laba penjualan masuk ke dalam kas IPNU - IPPNU.

Begitu pula dalam dukungannya saat mempersilakan ruang lantai dua masjid sebagai tempat pelatihan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta)


Sebelum wafat, beliau dirawat di RSI Jemursari, sempat membersamainya saat detik - detik terakhir di penghujung usia hingga beliau menghadap  ke Rahmatullah (Al-Fatichah)

Rasanya tidak bisa kami ungkapkan kepada para tokoh dan sesepuh NU yang telah membentuk karakter, membangkitkan jiwa, serta kesetiaan pada organisasi beserta dinamikanya. kecuali ucapan jazakumulloh khoiron katsiro.

Semoga kami bisa mewarisi semangat perjuangannya dalam mengemban amanah.

Oleh : Onny Fahamsyah
(terlahir dan dilahirkan kembali di Rungkut Kidul)


Rabu, 19 Agustus 2020

Memaknai Tahun Baru Islam


Saat sahabat Ali bin Abi Tholib mengusulkan penanggalan tahun baru Islam berdasarkan dimulainya hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), sesungguhnya memiliki makna kontekstual bahwa umat islam harus senantiasa berhijrah menuju yang lebih baik dalam setiap waktu yang dimiliki.

Tetapi, dipakainya kalender masehi yang secara jamak dalam kehidupan umum, menyebabkan pergeseran paradigma bagi golongan muta-akhirin.

Kalender masehi menempatkan pemakaiannya untuk urusan duniawi : pekerjaan, pendidikan, dan perencanaan hiburan. Sedangkan mengingat almanak hijriyah untuk penentuan kegiatan keagamaan, bahkan tidak jarang ada "gerutuan" bila menjelang Ramadhan datang, seakan puasa menyandera kebebasan dalam beraktivitas. Maka Kalender Hijriyah seperti berputar dalam konotasi yang negatif

Bagi yang menyandarkan bahwa kehidupan ini hanyalah untuk "numpang ngombe mung sediluk" maka memanfaatkan sisa umur  untuk bercocok tanam dalam  memperbanyak amal ibadah pastilah cocok dalam mengenali "musim" dan memahami isi kalender Hijriyah.

Sandaran dalam menentukan waktu sholat,  agenda rutin setiap pekan dengan nutrisi ruhani setiap Jum'at. Puasa serta amaliyah sunnah bulanan (puasa ayamubidh), durasi tahunan dalam Ramadhan dan ibadah haji seperti ladang amal yang silih berganti menu, membuat para "salikin" akan sangat menikmati lezatnya pengembaraan dalam menuju Allah dengan perasan kerinduannya.

Nilai esoteris - holistik yang terkandung dalam kalender Hijriyah perlu kiranya ditransformasikan kepada rekan - saudara sesama muslim, sehingga ketika setiap 1 Muharrom menjadi libur nasional, sepatutnya diisi dengan kegiatan monumental untuk menandai datangnya tahun baru Islam. Atau justru saking sibuknya lupa bahwa besok tanggal merah itu libur apa ?

Menyikapi kondisi yang penuh ujian sejak pandemi Covid-19, membutuhkan sentuhan hati sekaligus mempertebal semangat religi. Agar semuanya tetap bersandar pada kepasrahan kepada Allah SWT. Disamping mengisi ruang waktu dengan nilai-nilai kebajikan yang senantiasa diinduksikan kepada lingkungan sebagai bentuk komitmen bahwa "mari kita jalani bersama"

Peringatan tahun baru Islam, 1 Muharrom 1442 H memiliki makna yang harus digaungkan khususnya kepada masyarakat muslim. Karena sejatinya dengan kalender hijriyah tersebut, kita mampu merencanakan sedari awal tentang amal ibadah dalam kurun waktu setahun.

Begitu pun dengan remaja yang memasuki akil baligh, secara taklif harus siap menjalankan beban kwajiban agama, yang kepadanya pena malaikat Rakib - Atid sudah mulai mencatat buku amalannya.

Bagi anak kecil, dengan mengedukasi kegiatan tersebut sebagai pembelajaran "pedagogis" untuk menanamkan wawasan kognitif terstruktur, apalagi sejak belajar dari rumah secara "daring" maka momen tersebut sebagai bentuk kegiatan empiris di luar kelas.

Isi yang menjadi konten kegiatan, merupakan sunnah yang didalilkan secara shahih maupun qiyas yang bisa menjadi rujukan dalam beristinbat / mengambil dasar hukumnya. Sebut saja adzan yang dilakukan di titik - titik batas wilayah RT 08, merujuk pada Imam an-Nawawi menyebutkan dalam al-Minhaj terkait adzan-adzan di luar shalat yang disunnahkan, Disunnahkan adzan selain shalat, yaitu saat adzan untuk bayi yang baru lahir, orang yang sedang bersedih hati, orang yang menderita penyakit epilepsi, orang yang sedang marah, orang atau binatang yang memiliki perangai buruk, saat perang sedang berkecamuk, saat kebakaran, dan dikatakan juga menurunkan mayat pada liang kubur dengan mengqiyaskan saat awal terlahirnya ke dunia, namun aku (an-Nawawi) menententang kesunnahannya dalam syarh al-‘Ubaab; saat terdapat gangguan jin berdasarkan hadis yang shahih di dalamnya, juga Adzan dan iqamah dalam penyambutan musafir. Setidaknya dengan adzan yang dikumandangkan sebagai penyejuk gejolak hati yang bersedih dikarenakan wabah pandemi.

Maksud Perjalanan keliling dengan bermotor atau sepeda angin untuk tetap menjaga physical distancing, begitu pula dengan makna bertaaruf untuk menyampaikan makna tersirat bahwa kita saling mengunjungi wilayah warga, silaturahim kepada masyarakat sekitarnya, dan mempererat kekeluargaan.

Puncak esensi kegiatan adalah doa yang dimunajatkan kepada Allah SWT tentang keselamatan kampung, keselamatan warganya, keselamatan harta bendanya, sedangkan bagi ketakmiran juga mengemban fungsi untuk menyebarkan kesalehan sosial di tengah masyarakat.

Akhirnya, pemaknaan peringatan tahun baru islam merupakan perencanaan untuk meningkatkan produktivitas diri dalam kualitas beragama. bila mampu memperbanyak amal ibadah yang mendatangkan pahala; atau setidaknya mengurangi segala yang berpotensi menjadikan maksiyat dan dosa.

Medokan Ayu, 1-2 Muharrom 1442 H

Onny Fahamsyah
Bidang Dakwah dan Pendidikan
Ketakmiran Musholah As-Suyudi


Janduman : mengulik masa lalu


Era foto yang menggunakan klise film membuat perencanaan kegiatan pasti menganggarkan dana dan personil panitia bidang dokumentasi, begitu juga kegiatan Masa Kesetiaan Anggota IPNU dan IPPNU Rungkut Kidul bertarikh 4-5 Maret 2006.

Hasil dokumentasi, tampak seorang pemateri yang merupakan tokoh senior IPNU Rungkut sedang menyajikan materi analisa diri. Beliau yang kita kenal dengan cak Ali Sa'du.

Pada kesempatan "janduman" tadi malam (18/8/2020) di gedung MWC NU Rungkut, kami bersua kembali dengan cerita-cerita romansa selama mengarungi perjalanan "ngopeni" NU di Rungkut.

Gayengnya diskusi dimulai dengan membicarakan  ketokohan KH. Chusaini Tiway yang makamnya berada di pemakaman Islam Kedung asem (depan sekolah Jiwanala). Selama ini warga NU Rungkut sering mengaitkan cak Ali memiliki "trah" dengan kyai kharismatik ini.


Alur kisah dimulai saat cak Ali mengurai pertemuan beliau dengan kyai Tiway yang dimintai untuk mengisi materi IPNU pada kisaran tahun 1988. Saat itu kyai Tiway sudah dalam kondisi sepuh dan sakit-sakitan.

Baca pula : sejarah berdirinya GP Ansor

Namun, ulasan sejarahnya menjadi sangat minim saat ingin mengulik peranan kyai Tiway dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Banyak anasir-anasir cerita bahwa sang kyai yang merupakan anggota laskar Hizbulloh pimpinan Kyai Masykur - Malang, hingga tokoh yang punya peranan dalam berdirinya Gerakan Pemuda Ansor, sehingga tak ayal setiap harlah ormas pemuda NU ini, makam beliau selalu diziarahi oleh anggota Ansor.

Diskusipun bergeser tentang "etnografi" Rungkut, termasuk sejak kapan NU masuk ke wilayah Rungkut. Umpan diskusi ini menjadi "santapan" menu argumentatif bagi Ustadz Yusuf, Ustadz Rozy, dan Ustadz Syafik yang merupakan akademisi muda yang juga hadir tadi malam.

Cak Ali melukiskan secara "genealogi" bahwa seberang timur ada makam Dewi Sekardadu yang merupakan ibunda dari Sunan Giri yang hidup di masa akhir Kerajaan Majapahit, hingga nama Pandugo yang identik dengan kata "mandeg" dan Penjaringan yang mirip dengan kata "jaring" ikan, seakan dengan dalil "cocokologi" bahwa orang Rungkut secara keturunan berasal dari kaum nelayan dari pesisir timur ?

Disatu sisi, ada yang berpendapat bahwa Kyai Tholabudin di Rungkut Lor, dan Kyai Nakidin di Rungkut Kidul merupakan sisa laskar pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri pasca berakhirnya perang Jawa 1825 - 1830 M. Sejak ditangkapnya Pahlawan dari Goa Selarong oleh Belanda di Magelang. Seakan ingin mentahbiskan bahwa warga Rungkut yang aseli adalah keturunan dari darah pejuang bangsa.

Di saat menghangatnya diskusi, muncul tawaran dari Ketua MWC NU Rungkut, Kyai Mujib. Agar kelak di bulan April tahun depan (bersamaan harlah Ansor), agar cak Ali siap untuk menjadi pemateri sarasehan tentang "masuknya NU di Rungkut dan sosok Kyai Tiway" yang akan dipaneliskan dengan DR. KH. Muhibbin Zuhri selaku Ketua PCNU kota Surabaya yang juga akademisi ini, sekaligus pernah menjadi sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur.

Tentu ini menjadi tugas bagi pengurus MWC NU Rungkut untuk menggali dan menyusun naskah ilmiah yang akan menjadi pencatatan sejarah para tokoh yang pernah memperjuangkan dan mengharumkan Nahdlatul Ulama di Rungkut ini.

Semoga Allah Memudahkan dan Meridloi

Oleh : Onny Fahamsyah
Wakil Sekretaris MWC NU Rungkut


Selasa, 11 Agustus 2020

Mata Kuliah Bahasa Indonesia


Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu memahami berbagai kaidah tentang bahasa Indonesia ragam ilmiah serta penulisan karya ilmiah serta mampu menerapkannya dalam praktik penulisan karya ilmiah.
  1. Pengertian karya tulis ilmiah, Ciri-ciri karya tulis ilmiah, Jenis-Jenis karya tulis Ilmiah 
  2. Ciri-ciri Bahasa ilmiah 
  3. Tahap-tahap penulisan karya ilmiah. (1) Tahap persiapan (2) Pengumpulan data (3) Pengorganisasian dan pengonsepan (4) Pemeriksaan/penyuntingan (5) Penyajian
  4. Pemakaian tanda baca dalam bahasa Indonesia, Pemakaian ejaan dalam bahasa Indonesia.
  5. Kaidah penyerapan istilah asing, istilah asing dalam bidang tertentu (register). 
  6. Pilihan kata (diksi) dalam penulisan karya ilmiah
  7. Ketepatan makna dan bentuk kata baku dan tidak baku
  8. Prinsip-prinsip kalimat efektif : (1) prinsip kebakuan (2) prinsip kesepadanan (3) prinsip kesejajaran 
  9. Lanjutan prinsip - prinsip kalimat efektif : (4) prinsip penekanan (5) prinsip kehematan (6) prinsip kevariasian
  10. Pengertian paragraf, Ciri-ciri paragraf yang baik, Pengembangan paragraf
  11. Organisasi karangan : (1) Penentuan tema, topik, tesis, dan judul (2) Penulisan bagian pendahuluan karangan (3) Penulisan bagian isi karangan 
  12. lanjutan Organisasi karangan : (4) Penulisan bagian simpulan atau penutup (5) Penulisan kutipan, catatan kaki, dan daftar pustaka
  13. Kegiatan praktik menulis karya ilmiah : (1) Kegiatan prapenulisan (2) Penulisan draf (3) Revisi draf (peer review) 
  14. lanjutan kegiatan praktik menulis karya ilmiah : (4) Penyuntingan format dan bahasa (5) publikasi 

Daftar Pustaka :
  1. Prayitno, Harun Joko, dkk. 2000. Pembudayaan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Muham- madiyyah University Press. Arifin, E. Zainal. 1998. Dasar-Dasar Penulisan Karya ilmiah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 
  2. Widjono Hs. 2005. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
  3. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas. 2004. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan & Pedoman Umum pembentukan Istilah. Bandung: CV. Yrama Widya. 
  4. Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 
  5. Pusat Bahasa Depdiknas. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 
  6. Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Soeparno, dkk. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonisia. 
  7. Wibowo, Wahyu. 2005. Enam Langkah Jitu Agar Tulisan Anda Makin Hidup dan Enak Dibaca. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  8. Razak, A. 1992. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.
  9. Kuntarto, Niknik M. 2007. Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam Berpikir. Jakarta: Mitra Wacana Media 
KUMPULAN : 

Jumat, 07 Agustus 2020

Merah Putih Berkibarlah selalu




Bila berziaroh ke makam kembar di sisi barat, bagian Rungkut Kidul. Terlihat bambu runcing berwarna kuning dengan bendera Merah Putih tertancap pada sebuah pusara.

Dari penelusuran beritanya, makam tersebut adalah milik Bapak Madenur. Seorang pejuang 1945 yang berdomisili hingga akhir hayatnya di Rungkut Kidul.


Menurut penuturan keluarganya yang masih hidup, Salah satu kisah heroiknya adalah saat masa pendudukan Jepang, kediamannya pernah dikepung oleh tentara Dai Nippon tersebut.

Mengetahui kedatangan tentara Jepang lengkap dengan bayonet di ujung senapan laras panjang, Bapak Madenur lalu sembunyi di bawah wuwungan rumahnya (batas antara atap dengan rangka genteng). Berdiri di antara kuda - kuda atap rumah.

Senapan dengan bayonet di ujungnya

Tentara "Sakura" yang tidak menemukannya di sela-sela ruang kamar, lalu mencoba spekulasi menusuk-nusuk bayonetnya pada atap rumah yang terbuat dari gedek (anyaman bambu). Tidak terbayangkan seandainya ujung bayonet menusuk bagian tubuh dari pejuang yang gigih membela bangsanya tersebut, atau bila tentara Jepang berhasil menangkapnya, pasti siksaan kejam para kempetai yang bermarkas di Kalisosok akan menderanya.

Setelah Indonesia Merdeka, Bapak Madenur melanjutkan kehidupannya dengan berjualan nasi rawon, pecel, lodeh dan es balok pada warung di dekat makam kembar, sebelum akhirnya di masa tua warungnya harus boyong ke rumahnya di Rungkut Kidul gg SS dikarenakan harga sewa warung dipinggir jalan semakin "meroket", dan tidak mampu untuk memenuhinya.

Semangat keperwiraan, berani berjuang, rela berkorban tanpa pamrih, dan tidak pernah mengharapkan tanda jasa demi bangsa dan negara patut menjadi teladan bagi generasi selanjutnya.

Dalam sanubarinya terpatri jiwa "Merah Putih" yang dibawa hingga menghadap kepada Sang Ilahi.

Sebagai generasi penerus, malu rasanya bila tidak mewarisi semangat Nasionalisme dan Patriotisme para pejuang, apalagi yang masih "enggan" untuk memasang bendera Merah Putih di depan rumahnya, itupun hanya setahun sekali di bulan Agustus. Sedangkan buah jerih payah para pejuang berupa alam kemerdekaan tinggal kita nikmati bersama

Kisah ini ditulis dalam menyongsong peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke - 75, di tengah musim pandemi Covid-19, kita sesama warga belum tentu bisa duduk bersama dalam malam tirakatan dan kirim doa.

Tetapi dalam setiap akhir membaca kisah kepahlawanan para pejuang kemerdekaan, tetap  terkirimkan doa untuk mereka

Merdeka...(Al-Fatichah)

Bersama isteri di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya

Bersama dengan cucu

Cicit - cicitnya berziarah di pusara





Senin, 03 Agustus 2020

Qurban di Mushola As-Suyudi



Kegiatan PHBI Idul Adha 1441 H di Musholah As-Suyudi barusan telah usai, ada pernak-pernak yang menarik untuk ditulis terkait pelaksanaannya.

Tapi pendekatan ilmiah lebih menjadi pilihan penulisan karena mengharapkan masyarakat berfikir rasional, logis, empati, dan membuka ruang mimbar pemikiran ilmu yang komprehensif.

Rapat pembentukan panitia mengamanahkan untuk menyusun panitia lengkap dengan job discription serta petunjuk teknis dan penganggaran yang diproyeksikan di awal.

Maka prinsip Balancescore card mulai bisa dirancang, dengan Perspektif keuangan. Dana taktis yang "dipinjamkan" dari kas mushola menjadikan modal awal panitia untuk menjalankan tugasnya, dengan harapan kualitas kinerja panitia mendapatkan "revenue" dari donatur dalam berinfaq dan mengamanahkan qurbannya di panitia musholah As-Suyudi.

Terbukti, walaupun musim pandemi Covid -19 yang kalangan pakar menilai resesi keuangan mencapai penurunan 5%, tetapi masyarakat di RT 08 RW 02 Medokan Ayu tetap antusias dalam berqurban. Tercatat ada lima ekor sapi, 16 ekor kambing dan infaq Rp. 6.700.000,- telah disampaikan oleh panitia dalam portopolio pelaporannya

"Persepektif Pelanggan" secara substansi adalah jamaah dan warga yang  menaruh kepercayaan kepada Ketakmiran Mushola As-Suyudi yang telah terbangun secara sosiologi dan antropologi dengan maturity (kematangan). sehingga kemajemukan menjadikan struktur masyarakat semakin kuat, disertai dengan kesadaran dalam nilai religius-spiritual yang semakin meningkat pula.

Pelaporan cepat yang "Quick Report" dan berkala menjadikan citra reputasi As-Suyudi sebagai wadah panitia - ketakmiran yang mulai bermetamorfosis dari  awalnya pelayanan beribadah lalu berekspansi dalam merawat kehidupan sosial seperti halnya lembaga filantropi.

Memberikan pelayanan para dhuafa mulai dirintis dalam menyerahkan kepala dan kulit hewan qurban. Selanjutnya para dhuafa bersepakat untuk menjualnya sebagai nilai ekonomis secara berkeadilan.

Untuk Perspektif Manajemen Internal, kepanitian senantiasa melakukan evaluasi dan benchmarking, selaksa tidak menutup mata akan dinamisasi perkembangan zaman yang semakin pesat.

Proses inovasi dengan menggiatkan media publikasi berbagai sektor, mulai tradisional kultural dari mulut ke mulut, edaran tertulis, baliho, hingga web blog dan Whattapp Grup

Begitu pula dalam transaksi pembayaran qurban dan infaq  bisa melalui panitia yang senantiasa berada di musholah saat bakda sholat berjamaah, maupun transfer antar bank. Sehingga memudahkan para donatur dalam mentasharufkan hartanya

Proses operasi diawali dengan pengadaan ternak sapi kolektif yang "purchasing"-nya melalui rapat penentuan survey yang mengedepankan demokrasi, sehingga didapat dua ekor sapi dari kandang peternak Bangkalan, dua ekor sapi dari stand Merr Rungkut, sedangkan seekor lagi merupakan sumbangan dari keluarga Bapak Bambang Ghoib.

Begitu pula dalam pengadaan kambing qurban dan konsumsi panitia dibelanjakan kepada mitra panitia, sehingga mendapatkan nilai ekonomis dan tetap memiliki mutu yang berkualitas.

Just in time, merupakan batasan waktu yang telah digariskan oleh panitia dengan mempertimbangkan jeda untuk sholat Jumat dan batas akhir pengerjaan yang tepat waktu.

Pengerjaan mulai dari penyembelihan, pengulitan, pencacahan tulang hingga pengemasan daging dan distribusi merupakan durasi waktu yang dikendalikan dengan cermat dengan target zero accident, walaupun pengerjaannya ada yang menggunakan mesin potong tulang.

Sehingga berakhirnya seluruh agenda kerja panitia beserta kebersihan areal mushola menjadikan tolak ukur ketepatan waktu seperti kereta cepat Shinkanzen - Jepang. Praktis pukul 16.30 sesuai jadwal, jalan 6c sudah bisa dibuka dan dilalui kembali oleh kendaraan warga.

Untuk layanan purna acara, meliputi distribusi sisa daging tetap mengedepankan akuntabilitas dari pelaporan penerimanya, baik yang mengajukan proposal resmi maupun spontanitas.

Sebuah testimoni bagi yang membantu menyebarkan sisa daging ke daerah Bakung - Kalirungkut, baik penerima maupun penyebarnya saling berangkulan tangis terharu, karena selama ini tidak pernah mendapatkan daging qurban di daerahnya, padahal mereka adalah kaum dhuafa yang salah satunya adalah janda tua penjual jamu keliling di sekitar Ubaya - Tenggilis.

Sebagai perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, bahwa melaksanakan tugas ketakmiran maupun kepanitiaan merupakan pekerjaan sosial yang retensi-nya harus tetap dipertahankan selamanya.

Tidak menampik bahwa kritikan yang muncul pasca kegiatan pasti ada, namun hal itu membuka ruang diskusi publik dalam mendapatkan solusi yang terbaik.

Pertumbuhan dalam setiap waktu perlu Project Re-enginering yang berkelanjutan, dengan tidak hanya cukup puas oleh pencapaian, tetapi harus perbaikan dan inovasi yang tiada henti.

Begitu pula pembelajaran untuk menginduksi kader muda dalam remaja musholah tetap harus dilakukan dalam menyiapkan kader penerus yang menjadi penggerak kehidupan sosial bermasyarakat untuk era-nya nanti.

Jadi Merayakan Hari Raya Idul Adha merupakan perayaan yang secara esensinya, semuanya harus ikut merayakan. Tidak terkecualipun.

Dan dengan tetap mengharapkan keridloan Allah SWT.

Rungkut, 16 Dzulhijjah 1441 H