Selasa, 22 November 2022

Gajah Mada

Kemaharajaan Majapahit melebarkan sayapnya ke seluruh Nusantara tak lepas dari sang Mahapatih Gajah Mada yang bersumpah Tan Amukti Palapa di hadapan Raja Hayam Wuruk 

Sejarah itu bisa diceritakan ke generasi penerus bahwa kita adalah bangsa yang besar.

Desa Wisata Bumi Mulyojati, Mojopahit - Mojokerto (13/11/2022)





















Pesantren Kilat

Untuk melatih anak mandiri dan bersiap bila melanjutkan pendidikan di dunia pesantren, maka kegiatan pesantren kilat yang diadakan oleh SD Al-Fatih Pandugo menjadi salah satu solusi alternatif 











































Senin, 14 November 2022

Guest Lecture UNM

Kimia yang sangat sederhana dari diet sehat

Prof Chris Thompson

Direktur Pendidikan Institut Penemuan Biomedis, Universitas Monash

Senin, 14 November 2022

Pukul 13. Wib

Kimia yang sangat sederhana dari diet sehat

Begitu banyak rencana diet

1920-an: Diet rokok

1930-an: Diet grapefruit

1940-an: Diet limun, amfetamin

1950-an: Diet sup kubis

1960-an: Diet Weight Watchers

1970-an: Diet kecantikan, tidur

1990-an: Diet Atkins, diet keto

Dan BANYAK diet selebriti!


Makronutrien

  • Protein
  • Lemak dan minyak
  • Karbohidrat

karbohidrat kita?

  • Glukosa
  • Sukrosa 
  • Laktosa
Pemanis :
  • Sukrosa
  • Sakarin
  • Aspartam
Lemak dan minyak (biodiesel, phospholipids)

Protein : Enzim, Co-enzyme

Vitamin 


Minggu, 13 November 2022

Meniup Balon dengan mereaksikan cuka dan soda kue

 


Tujuan :

  1. Mengetahui reaksi antara cuka dan soda kue
  2. Mengetahui cara membuat gas dari reaksi kimia
Teori Dasar  :

Asam cuka atau asam asetat adalah senyawa organi. Batang soda atau natrium karbonat adalah senyawa yang kelarutannya dalam air bersifat basa lemah.

Senyawa yang bersifat asam dan dicampurkan dengan senyawa bersifat basa akan menghasilkan senyawa yang bersifat netral

Campuran soda kue dengan cuka menghasilkan gelembung gas yang merupakan gas CO2.

Sebuah balon dapat mengembang karena balon itu terisi oleh udara atau gas yang dihasilkan dari reaksi kimia setelah cuka dan soda kue itu bercampur kedua zat tersebut, saling bereaksi dan menghasilkan gas

Ini dapat dilihat dan dibuktikan melalui balon yang kempis lalu mengembang dikarenakan terisi gas CO2 hasil reaksi dua bahan kimia tersebut

Alat dan Bahan :
  • Labu erlenmeyer
  • Spatula
  • Balon karet
  • Cuka 
  • Soda kue

Prosedur :
  1. Siapkan alat dan bahan
  2. Tuangkan soda kue ke balon secukupnya
  3. Tuangkan cuka ke labu erlenmeyer secukupnya
  4. Pasangkan balon ke bagian atas erlenmeyer
  5. Setelah terpasang tegakkan balon
  6. Setelah itu amati
Tutorial praktikum :

Soal :
  1. Apa saja macam-macam reaksi kimia ? Jelaskan !
  2. Apa yang dimaksud dengan hasil reaksi ?
  3. Faktor apa saja yang mempengaruhi reaksi kimia ?
  4. Apakah semua reaksi kimia berbahaya ?
  5. Apa syarat syarat terjadinya reaksi kimia ?
  6. Apa saja yang dihasilkan dari reaksi kimia ?
Tugas Instagram :
Buatlah video maksimal 3 menit, meresume praktikum meniup balon dengan asam cuka dan soda kue

Video memuat :
  1. Judul percobaan
  2. Tujuan percobaan
  3. Prosedur percobaan
  4. Hasil percobaan
  5. Kesimpulan 

Jumat, 11 November 2022

Gravimetri

Dalam analisis gravimetri, zat yang akan ditetapkan diubah terlebih dahulu menjadi suatu endapan yang tidak larut kemudian dikumpulkan dan ditimbang, misalnya konsentrasi perak dalam sampel logam dapat ditetapkan secara gravimetri dengan cara mula-mula melarutkan sampel tersebut dalam asam nitrat kemudian kedalam larutan tersebut ditambahkan ion klorida secara berlebihan sehingga semua ion perak yang ada dalam larutan mengendap sebagai perak klorida. Setelah dilakukan pencucian, endapan perak klorida dikeringkan dan akhirnya ditimbang.

Gravimetri dapat digunakan dalam analisis kadar air. Kadar air bahan bisa ditentukan dengan cara gravimetri evolusi langsung ataupun tidak langsung. Bila yang diukur ialah fase padatan dan kemudian fase gas dihitung berdasarkan padatan tersebut maka disebut gravimetri evolusi tidak langsung.

Kelebihan Gravimetri yaitu : Pengotor yang terdapat didalam sampel dapat diketahui. Untuk menghilangkan pengotor pada sampel tersebut dilakukan dengan proses pencucian endapan. Mudah dalam proses pengerjaannya.

Berikut ini adalah tahapan atau langkah-langkah dalam melakukan analisis gravimetri :

  1. Pelarutan sampel.
  2. Pengendapan.
  3. Penyaringan.
  4. Pencucian.
  5. Pengeringan.
  6. Penimbangan.
  7. Perhitungan.
Persyaratan pada analisa Gravimetri adalah Zat yang ditentukan harus dapat diendapkan secara terhitung (99%)

Endapan yang terbentuk harus cukup murni dan dapat diperoleh dalam bentuk yang cocok untuk pengolahan selanjutnya.

Endapan terjadi ketika suatu larutan ditambah zat terlarut hingga larutan mencapai titik jenuhnya. Hal ini terjadi ketika Qc > Ksp. Ksp merupakan hasil kali kelarutan, s, yang sudah merupakan ketetapan. Sedangkan Qc adalah hasil perhitungan dengan kondisi tertentu.

Pengendapan bertujuan untuk memisahkan air dari partikel-partikel padat dalam air dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Padatan yang berat jenisnya lebih besar daripada air akan mengendap di dasar bak. Absorbsi merupakan penyerapan bahan-bahan tertentu yang terlarut dalam air.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengendapan, yaitu : pH larutan, suhu pengendapan, konsentrasi pengendap, waktu pengendapan, dan kecepatan pengadukan (Sukarsono dkk., 1966 : 55 ).

Cara mencuci endapan : 
  1. Menyaring sampai larutan habis, lalu memasukkan endapan kedalam penyaring. Kemudian menuangkan cairan pencuci pada endapan dan dibiarkan mengalir habis, lalu diberikan lagi cairan pencuci, begitu seterusnya dan diulang beberapa kali 
  2. Menyaring dengan dekantasi (mengenaptuangkan).


Dekantasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memisahkan campuran larutan dan padatan yang paling sederhana yaitu dengan menuangkan cairan secara perlahan sehingga endapan tertinggal di bagian dasar bejana



Rabu, 09 November 2022

Wawancara tugas PPG



Dengan Bapak Kepala Sekolah (Rabu, 09 Nopember 2022 pukul 12.15 - 13.00 wib)

Drs. Heru Mursanyoto, MM

1.) Semangat belajar yang rendah ;

  • Perkembangan dan pertumbuhan siswa yang masih labil (emosi siswa) 
  • Banyak yang tidak bisa memfilter 
  • Kecenderungan lebih ke arah yang kurang bagus
  • Menganggap sekolah bukan yang utama
2.) Pemetaan gaya belajar peserta didik belum maksimal
  • Belum bisa melakukan pemetaan
  • Bila pun ada yang sudah, tidak mencermati keseluruhan karena mendapatkannya dengan cara sampling 
  • Butuh waktu lama karena jumlah siswanya banyak (ribuan)

3.) Relasi guru, orang tua dan peserta didik belum terjalin efektif
  • Keterlibatan tidak dilakukan 100%, untuk memonitor prestasi siswa mengundang orang tua pada pembagian raport
  • Memanggil orang tua karena adanya masalah siswa
  • Belum ada pelibatan kegiatan denga mengundang orang tua karena kesibukan kerja
4.) Penggunaan satu model pembelajaran untuk semua kelas
  • Guru kurang memahami kondisi siswa
  • Siswa dianggap sama, padahal siswa berbeda dalam IQ, kepandaian, kepatuhan, PBM, dan konsentrasi
  • Idealnya harus dilakukan untuk setiap kondisi siswa (pendekatan individual) karena klasikal jadi kewalahan. 
  • Belum adanya up-skilling guru, agar guru mampu menerapkan model pembelajaran yang lain
5.) Pembelajaran dengan HOTS masih sulit
  • Belum adanya analisis, penalaran luar biasa untuk memperoleh kompetensi berdasarkan pemikiran kritis
  • Guru belum memiliki pengalaman untuk memahami HOTS
6.) Pemanfaatan teknologi baik guru dan peserta didik belum optimal 
  • Masih ada siswa dan guru yang gadgednya belum support digitalisasi
  • Sebagian kecil kendala sarana dan prasarana
  • Guru masih menginginkan pembelajaran tatap muka agar bisa melihat respon dan karakteristik siswa dalam menerima materi.



Pakar : DR. Anton Sujarwo, M.Pd
  1. Instruktur HOTS Nasional
  2. Penulis UN matematika
Wawancara Rabu, 09 November 2022 pukul 13.30 - 14.30 wib

1.) Semangat belajar yang rendah ;
  • Faktor internal siswa, dengan perkembangan medsos, gadget, mereka lebih senang bermain daripada belajar
  • Faktor eksternal siswa : lingkungan, pergaulan cenderung cangkruk di warkop sehingga waktu habis untuk kegiatan di luar belajar
2.) Pemetaan gaya belajar peserta didik belum maksimal
  • Pemetaan oleh sebuah instrumen, dari pengembangan instrumen untuk memetakan gaya belajarnya. Namun dalam prakteknya belum bisa diimplementasikan di lapangan
  • Guru jarang memetakan terkait gaya belajar, semua anak diperlukan sama
3.) Relasi guru, orang tua dan peserta didik belum terjalin efektif
  • Karena pandemi, kesempatan berbagi informasi dengan orang tua belum maksimal
  • Tidak semua orang tua "melek" teknologi
  • Ada miskomunikasi sekolah dengan orang tua, contoh : terkait informasi kurikulum, jam masuk, jam pulang, kegiatan sekolah, aturan tata tertib, (pelanggaran - poin) perlu disosialisasikan. Sehingga bila ada siswa bermasalah tidak "ujug-ujug" poin tinggi / akan dikeluarkan
4.) Penggunaan satu model pembelajaran untuk semua kelas
  • Guru tidak mau ribet dengan karakteristik siswa, sehingga diperlukan sama
5.) Pembelajaran dengan HOTS masih sulit
  • Tidak bisa serta merta, sehingga perlu dilatih dalam KD yang akan diajarkan
  • Guru hanya mayoritas menerapkan HOTS pasca pelatihan 
  • Untuk membuatnya butuh keterampilan tersendiri, sehingga sebagian besar masih sulit menerapkan 
  • Sebagian besar guru belum mau menerapkan
  • Belum bisa memecahkan soal-soal HOTS dalam pembiasaan pembelajaran
6.) Pemanfaatan teknologi baik guru dan peserta didik belum optimal 
  • Bagi guru yang sudah usia tua dan mendekati pensiun, tidak mau ribet dengan perubahan yang baru pada ICT
  • Belum maksimal apa yang dimiliki oleh siswa



Guru : Herman Supratiyo, S.Si
Ketua Bidang Keahlian Kimia Industri 
Wawancara Rabu, 09 November 2022 pukul 15.30 - 16.30 wib

1.) Semangat belajar yang rendah ;
  • Tidak sesuai dengan keinginannya, karena pertimbangan jarak yang dekat dan ingin masuk sekolah negeri
2.) Pemetaan gaya belajar peserta didik belum maksimal
  • Tidak ada pemetaan - program identifikasi sejak awal masuk 
3.) Relasi guru, orang tua dan peserta didik belum terjalin efektif
  • Orang tua sibuk kerja
  • Orangtuanya merupakan golongan menengah ke bawah sehingga tuntutan pekerjaan yang diprioritaskan
4.) Penggunaan satu model pembelajaran untuk semua kelas
  • Tuntutan pekerjaan guru yang banyak selain mengajar (administrasi, ekstrakurikuler, PKL)
5.) Pembelajaran dengan HOTS masih sulit
  • Siswa pragmatis, hanya terampil pada bidang vokasi yang diinginkan
  • Intake-nya dari level rendah
6.) Pemanfaatan teknologi baik guru dan peserta didik belum optimal 
  • Jumlah peralatan praktek terbatas, dipakai banyak siswa secara bergantian 



Teman Sejawat : Drs. Eko Budi Purnomo
Ketua MGMP Teknik Kimia Jawa Timur
Wawancara : Selasa, 8 November 2022
Pukul 12.30 - 13.30


1.) Peserta didik masih memiliki semangat belajar yang rendah
  • Karena zonasi sehingga mendapatkan peserta didik yang kualitasnya rendah
  • Efek pandemic sehingga pemahaman pengetahuan yang kurang memadai

2.) Pemetaan gaya belajar peserta didik yang belum maksimal
  • Kegiatan pembelajaran yang masih klasikal sehingga pemetaan gaya belajar siswa belum maksimal

3.) Relasi guru, orang tua dan peserta didik belum terjalin dengan efektif
  • Karena komunikasi antara guru, orang tua dan peserta didik masih searah

4.) Penggunaan satu model pembelajaran untuk semua kelas
  • Pengetahuan tentang model pembelajaran guru sudah cukup namun guru enggan menggunakan berbagai macam modell pembelajaran

5.) Pembelajaran dengan HOTS masih sulit
  • Belum dibiasakannya peserta didik diajak berfikir secara logis

6.) Pemanfaatan teknologi baik guru dan peserta didik belum optimal
  • Pengetahuan tentang teknologi bagi guru sangat kurang terutama bagi guru yang usianya sudah tua sedang bagi peserta didik lebih suka memanfaatkan teknologi untuk bermain game
Wawancara dengan pengawas SMK
Dra. Emie Ismiatie. M. Pd
Kamis, 10 Nopember 2022
Pukul 13.00 - 14.00 wib



1.) Peserta didik masih memiliki semangat belajar yang rendah
  • Belum memiliki wawasan pentingnya tujuan hidup dan kejelasan arah
  • Belum  bisa membagi kegunaan gadget yang semestinya. Berapa jam untuk pembelajaran dan bermain
2.) Pemetaan gaya belajar peserta didik yang belum maksimal
  • Belum dilaksanakan tes diagnostik yang memetakan peminatan. walaupun tidak detail tetapi membantu dalam peminatan dan belajar
  • Guru belum memfasilitasi belajar tanpa batasan kemampuan yang berbeda
  • Guru belum memberikan ruang - mediasi differrensiasi dengan tujuan yang sama. Karena IKM berpihak pada siswa, harus bahagia di dalam kelasnya tanpa harus tertekan
  • Guru belum memanfaatkan "equalizer" dalam mengatur masing-masing muridnya (intermediate - advance)
3.) Relasi guru, orang tua dan peserta didik belum terjalin dengan efektif
  • Belum meningkatkan peran kerjasama walikelas, guru mapel dan BK. Karena walikelas harus hapal nama anak, karakter, keluarga, hobi, sehingga bila ada something wrong cepat teratasi
  • Tidak semua walikelas peduli
  • Belum maksimal pelaksanaan home visit 
4.) Penggunaan satu model pembelajaran untuk semua kelas
  • Belum tampak kreativitas untuk model bervariasi dan differrensiasi
  • Guru belum mau belajar untuk update dan tidak boleh berhenti belajar dan mau menerima perubahan
  • Belum banyak menerapkan teaching factory yang dimaksudkan oleh dirjen vokasi.
5.) Pembelajaran dengan HOTS masih sulit
  • Literasi orang Indonesia masih rendah berdasarkan (PISA). perlu dipupuk dengan lomba narasi, merangkum essay hingga mempunyai tahapan berfikir kritis dan apresiasi bagi literasi yang terbaik
  • Pelaksanaan GLS Gerakan Literasi Sekolah belum maksimal dan cenderung spontanitas lalu padam. Padahal untuk mengarah ke HOTS siswa harus memperkuat literasinya terlebih dahulu.
  • Belum ada review yang optimal (tidak sekedar formalitas) agar GLS mempunyai daya lenting menuju pembiasaan berfikir HOTS 
6.) Pemanfaatan teknologi baik guru dan peserta didik belum optimal
  • Guru belum banyak memanfaatkan aplikasi yang sedang diminati siswa sebagai media pembelajaran. Misalnya tugas merangkum materi dalam aplikasi tiktok
Optimalisasi perbaikan belajar-mengajar itu berlangsung dengan baik, apabila usaha guru untuk memperbaiki cara belajar murid adalah seimbang dengan usaha guru untuk memperbaiki acara pengajarannya sendiri. 

Motivasi peserta didik bisa tumbuh dari dalam diri mereka itu sendiri karena mereka memiliki tujuan yang ingin dicapainya. Sehingga mereka bisa lebih semangat untuk terus belajar dan mereka menjalani dengan rasa senang. Selain itu juga motivasi bisa muncul dari luar diri mereka seperti yang terdiri dari guru, sekolah, keluarga, dan lingkungan.

bahwa pada dasarnya guru juga dituntut harus mampu membangun komunikasi yang efektif dengan orang tua siswa yang juga memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. 

Orangtua siswa seharusnya juga lebih bijak menerima laporan anaknya. Komunikasi yang didasari oleh rasa hormat dan saling menghormati antara pendidik dengan peserta didik termasuk orang tua peserta didik. 

Di dalam kelas, guru jarang sekali berkeliling melihat pekerjaan siswa dibarisan belakang, guru lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dibarisan depan. 

Bagi siswa yang ada dibarisan belakang, baru akan mendapatkan peran apabila ada giliran untuk maju ke depan mengerjakan soal. Padahal beberapa siswa yang ada dibelakang mungkin sekali
mengalami kesulitan belajar matematika yang apabila dibiarkan
dapat melemahkan motivasi belajar siswa.

Berkenaan tentang
hasil belajar siswa, seperti Ujian Nasional hingga TIMSS, PISA dan OECD
berskala internasional masih menunjukkan hasil yang mengecewakan bagi
para guru dan pengajar. Hasil belajar siswa yang dilihat dari beberapa aspek,
seperti literasi membaca, literasi berbicara dan literasi berhitung masih jauh
dari harapan. Kenyataan ini menjadi fokus utama para guru dan pengajar untuk
semakin meningkatkan proses belajar pada siswa.

Permasalahan yang dihadapi oleh siswa
yaitu kurangnya motivasi dari diri siswa dalam
mengikuti proses belajar mengajar beberapa
masalah yang terjadi dalam proses belajar
mengajar yaitu (1) kurangnya interaksi antara
guru dan siswa; (2) penguasaan guru tentang
metode pengajaran masih belum maksimal; (3)
siswa cenderung pasif dan kurangnya motivasi
siswa; (4) metode yang digunakan dalam
mengajar belum bervariasi/ monoton; (5) siswa
cenderung hanya menghafal bukan memahami
materi pelajaran.

Apa makna percakapan tersebut menurut Anda? Ya,
mayoritas guru masih menganggap bahwa pembelajaran
HOTS adalah tentang membahas soal yang rumit, sulit, susah
dinalar, lebih susah dari biasanya. Stigma pembelajaran HOTS
sama dengan soal sulit sudah mengakar bagi sebagian besar
guru. Observasi yang saya lakukan dengan mengambil sampel
beberapa guru SMP yang ada di kota saya, ada sekitar 85%
lebih guru tidak paham apa itu pembelajaran HOTS dan
bagaimana menyusun soal tipe HOTS tersebut.

Buku Pegangan
Pembelajaran Berorientasi
pada Keterampilan
Berpikir Tingkat Tinggi
PROGRAM
PENINGKATAN
KOMPETENSI
PEMBELAJARAN
Berbasis Zonasi

Namun pemanfaatan teknologi terutama dibidang informasi terkadang tidak
membantu siswa menumbuhkan minat belajarnya. Hal ini disebabkan karena tidak
adanya komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran dan kurangnya media yang
memberikan feedback yang menarik bagi siswa mengakibatkan pembelajaran menjadi
membosankan. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan dalam proses
pembelajarannya akan berdampak pada ketidakmajuan dalam hasil belajarnya. Oleh
karena itu, diperlukan pendorong untuk menggerakkan minat belajar siswa agar mampu
mengimbangi prestasi belajar siswa lainnya

Dengan demikian, pemilihan dan penggunaan
media pembelajaran memiliki arti penting untuk
mencapai keberhasilan dalam pendidikan, terutama
dalam hal pemilihan penggunaan media berbasis
teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan
perkuliahan, termasuk di IAIN Parepare. Ini
dikarenakan keberhasilan pendidikan banyak
ditentukan oleh dosen dalam menggunakan model
pembelajaran termasuk dalam pemilihan media
berbasis ICT tersebut yang diduga memiliki pengaruh
signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa..

Ulangan Harian 65-66

Selesaikan soal berikut dengan singkat dan benar, jawaban pada kolom postingan di bawah ini

  1. Sebutkan hal apa saja yang dapat dilakukan dengan integrasi MS PowerPoint dan MS Excel!
  2. Sebutkan manfaat adanya perintah cut, copy, dan paste antar aplikasi!
  3. Tuliskan langkah-langkah object linking & embedding pada MS PowerPoint dan MS Excel!
  4. Sebutkan 3 kegunaan fitur lanjut mail merge pada MS Word!
  5. Sebutkan 3 kegunaan fitur lanjut data validation pada MS Excel!
  6. Buatlah daftar aplikasi perkantoran yang dapat saling terintegrasi selain aplikasi pada Microsoft Office!
  7. Carilah fitur lanjut aplikasi perkantoran selain aplikasi pada Microsoft Office dan jelaskan kegunaan dan manfaatnya!
  8. Cobalah praktikkan fitur lanjut data validation pada MS Excel dengan kriteria teks!