Selasa, 30 Maret 2010

PROSES PEMBESARAN

Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pekerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. Sebagai contoh misalnya dari serbuk menjadi butir-butir kecil atau dari butir-butir kecil menjadi tablet dan sebagainya.


Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Flokulasi (Flocculation)

Fusi (Fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi

Pengompakkan (Compacting) : Briket, Pelet, Tablet, Granulasi


Kadang-kadang ukuran linear juga dimasukkan ke dalam proses pembesaran. misalnya pembuatan barang-barang plastik dengan jalan mencetak butir-butir pasir, atau dari butir-butir pasir itu dibuat benang plastik yang panjang dan sebagainya. Proses ini dinamakan pencetakan (molding) dan ekstrusi (Extrusi)

Tugas 1 :

  1. Buatlah rangkuman dari materi buku Alat Industri Kimia
  2. Tema tentang Alat untuk Proses Pembesaran

Tugas 2 :
  1. Bagi Absen Ganjil tambahkan materi tentang proses pembesaran pada industri air minum
  2. Bagi Absen Genap tambahkan materi tentang proses pembesaran pada industri IPAL
  3. Kedua tugas paling lambat diposting tanggal 17 April 2010

176 komentar:

  1. NAMA :YENNI INDRAWATI
    KELAS : XI KI-2/33

    PENGGILING
    I.PENGGILING PUSINGAN
    Pada penggiling ini,gaya giling terjadi oleh gaya sentrifugal yang berputar.Ada 2 macam penggiling pusingan dua,antara lain:
    1.PENGGILING FULLER
    Penggiling ini sering dipakai untuk membuat arang bubuk dan semen. Hasil gilingannya sangat halus,sehingga pengeluaran hasil gilingannya ditiup oleh udara dari lintasan gilingnya dan ditangkap oleh sebuah penampung.
    2.PENGGILING RAYMOND
    Penggilng ini sering dipakai untuk menggiling fosfat,batu kapur,arang bubuk,dsb. Pemasukan bahan giling diatur dengan menggunakan sebuah roda sudu yang berputar dengan kecepatan tetap. Dibagian bawah roda peggiling dipasang sudu-sudu atau kipas angin atau juga menggunakan baling-baling,yang befungsi untuk meniup bahan giling yang sudah halus yang kemudian dipisahkan oleh sebuah pesawat pemisah yang disebut pesawat topan.pada mesin berukuran sedang kapasitas giling sampai kira-kira 5000 kg arang batu tiap jam dengan ukuran butir yang dihasilkan kira-kira 0,07 mm.
    II.PENGGILING PELURU
    Penggiling peluru tediri dari sebuah teromol yang pada bagian dalamnya diisi peluru-peluru yang dibuat dari baja atau batu.peluru-peluru tersebut berada diatas tembereng-tembereng yang disusun pada keliling bagian dalam teromol.temberng-tembereng ini mempunyai lubang-lubang sedangkan diluar dari keliling tembereng dipasang ayakan.bentuk hasil giling dari penggilng ini tidak pernah bersudut,tapi bebentuk bola yang kadang-kadang sangat penting bagi suatu industri .penggiling ini dapat berjalan terus menerus.penggiling ini dpakai untuk menggiling tanah liat,tepung thomas,tulang,arang kayu,bahan cat,pelapis kaca,email,kwarsa,dsb.ukuran butir bahan gilling diantara 20-50 mm.ukuran butir hasil gilling kira-kira 0,25 mm.
    III.PENGGILING BUHRSTONE
    Penggiling ini terdiori 2 buah batu penggiling yang tesusun yang satu diatas yang lain.pada waktu bekerja,salah satu dari batu penggiling ini berputar.batu gilling yang berputar disebut batu jalan dan batu gilling yang diam disebut batu baring.penggiling ini dapat bekerja terus menerus dan banyak dipakai untuk menggiling pigmen,rempah-rempah dan bahan-bahan yang serupa.hasil gilling akn keluar dari lubang pengeluaran dengan ukuran butir sampai kira-kira 0,07 mm.
    IV.PENGGILING ULTRA
    Ada beberapa macam penggilng utra,antara lain:
    1.PENGGILING KOLOID
    ukuran potongan hasil giling dari penggiling ini sangat halus,sehingga mencapai lebih kecil dari 0,001 mm.penggiling ini dipakai untuk membuat tinta cetak,cat air,dsb.padfa umumnya digunakan untuk memperoleh suspensi yang kekal,bila perlu emulsi.selain itu dipakai untuk peralatan pencampur.
    2.MICRONIZER
    ukuran butir hasil gillingnya dapat lebih kecil dari 2-5 mikron(1 mikron = 0,001 mm).biasanya digunakan untuk bahan gilling yang halus,seperti grafit,belerang dll.mesin gilling buatan amerika ada yang mempunyai kapasitas dari 200-800 kg tiap jam.
    V.PENGGILING PUTAR(ROLLER)
    Penggiingb ini trdiri dari dua buah roda yang berat dan biasa disebut batu jalan.berat roda atau batu jalan ini kadang-kadang sampai 5000 kg.roda-roda berputar diatur oleh alat yang disebut dasar giling.penggiling ini biasanya dipakai untuk menghaluskan bebagai jenis zat yang lunak dan setengah keras seperti tanah liat,kapur,pasir cetak,tulang-tulang dan selulose(untuk industri kertas)
    bagian-bagian dari penggiling putar:
    -roda gigi kronis
    -roda sabuk mesin
    -batu jalan
    -dasar giling
    -bahan giling

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. m.choirut.toat xIKI2/12



    Penggiling ada 5 macam yaitu:

    * Penggiling Pusingan (Sentrifugal) ada 2 macam:

    *Penggiling fuller

    *Penggiling Raymond

    * Penggiling peluru
    * Penggiling Buhrstone
    * Penggiling Ultra
    * Penggiling Putar

    1.1 Penggiling Pusingan ada 2 macam yaitu :

    1. Penggiling fuller, pada penggiling ini terdpt sbuah peluru atau lebih yg bergerak babas dalm rumah2 lintasan gilingakan bergerak berkeliling dlm sebuah lintasan akibat pergerakan dari tangan2 yg di gerakan oleh sumbu.bila tangan berputar smakin cpat maka smakin besar pula gaya sentrifugal yg trjadi pada peluru.Penggiling ini berfungsi utk menggiling arang bubuk & semen.
    2. Penggiling Raymond,penggiling ini terdri dari pengeluaran bahan&hasil giling,pemasukan bahan giling,sudu2,roda sabuk,rol giling,roda gigi tirus.

    Pemasukan bahan giling diatur oleh sebuah roda sudu,selain itu juga ada baling2 yg berfungsi utk mniup bhan giling ug sudah halus &juga utk mnjaga bilamana ada bhan giling yg jatuh kebwah ruang giling bias dikembalikan diantar roda penggiling&lintasan giling.Penggiling ini berfungsi utk menggilingfosfat,batu kapur,arang bubuk.

    1.2 Penggiling Peluru

    Penggiling ini terdiri dari sbuah tromolyg didlmnya terdapt peluru yg terbuat dari

    Besi?batu.letak peluru diatas tembereng,tembereng ini terletak didlm teromol.dibagianluar tembreng ada ayakan.cara kerjanya yaitu:bahan giling dimasukkan dari bagian atasdan bercampur dgn peluru hingga bhan giling menjadi halus dan kluar dari lubang pngeluaran stelah melewti temberng&ayakanadapunproses penggilingan basah yaitu keluarnya hasil giling bersama2 dgn air yg diisikan pda teromolfungsinya yaitu:utk menggiling tanah liat,tepunng Thomas,tulang,arang kayubhn cat pelapis kaca,email&kwarsa

    1.3 Penggiling Ultra

    Ada dua jenis penggiling ini yaitu:

    1. Penggiling koloid,cara kerjanya keeping diatas diputar oleh sebuah turbinbhan giling dimasukkan dari bagian bawah dg ukuran 0.2mm keadaan suspensi kasar bahn gilingdigosok dianatara 2 keping hinnga halus fungsinya utk membuat tinta cetak,cat air
    2. Micronezer,cara kerjanya berdasarkantumbukan bgian2 butir kecil dg kcepatan besar shingga bergser satu sama lain,bhn giling di masukkan kedlm ruangan &didlm ruang itu dihembuskan dg uap airyg telah dipanasi

    1.4 Penggiling buhrstone,ada 2 batu giling,yaitu batu jalan,batu giling yg berputar dan batu baring batu giling diam

    Cara kerjanya bhan gilinng dimasukkan dari bagian atas ke ruang tengah tpi bhan giling terhenti sampai bidang atas.batu giling berputar dg perantar roda gigi konis dan sumbu yg memutarkan adlh roda sabuk mesin.

    1.5 Penggiling putar,terdiri dariroda gigi konis roda sabuk mesin batu jaln bahn giling dasar giling.2 buah roda beratnya kadang 5000 Kg.Cara kerjanya:batu jaln berputar berkeliling & menekan bahan giling dg seluruh bertnya.dg demikian sumbu mendatar dari batu jalan hrs dapt bergerk bebaskeatas pd sumbu tegak. Fungsinya utk menggiling bhn stengah kerassperti tanah liat kapur,pasir cetak,tulang2,selulose.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. RISTA WINARTI
    XI-KI2 / 26

    RANGKUMAN
    PENGGILING

    Penggiling ada bermacam-macam yaitu :
    1. Penggiling Pusingan (sentrifugal)
    Gaya giling terjadi oleh gaya sentrifugal benda yang berputar. Ada 2 macam penggiling pusingan yaitu :
    a. Penggiling fuller
    Cara kerja : sebuah peluru atau lebih yang bergerak beas dalam rumah-rumah atau lintasan giling akan bergerak berkeliling dalam sebuah lintasan akibat dari pergerakan tangan-tangan yang diputarkan oleh sebuah sumbu.
    b. Penggiling Raymond
    Penggiling Raymond digunakan untuk menggiling batu fosfat, arang bubuk, kapur,dll.

    2. Penggiling Peluru
    Bentuk dari hasil gilingan peluru tidak perna bersudut melainkan berbentuk bola. Penggiling peluru biasanya digunakan untuk menggiling tepung thomas, tulang, tanah liat, arang kayu, email, kwarsa, dll.

    3. Penggiling Buhston
    Penggiling ini terdiri dari dua batu penggiling yang tersusun yang satu diatas yang lain pada waktu bekerja batu yang diam disebut dengan batu baringdan batu yang bergerak disebut batu jalan.

    4. Penggiling Ultra
    Cara kerja : kepingan yang diatas diputarkan oleh sebuah turbin bahan giling dimasukan dari bagian bawah dengan ukuran butir 0,2 mm. bahan giling digilas hingga halus.

    5. Penggiling Putar
    Penggiling putar ini biasanya digunakan untuk menghalus berbagai jenis zat yang lunak dan setengah keras, seperti tanah liat, kapur,pasir cetak, tulang-tulang dan selulose.

    BalasHapus
  8. m.choirut to'at
    kls:XIKI2
    absen:12

    TUGAS 1
    Proses Pembesaran

    Proses pembesaran (size enlargement )adalh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Misal dari serbuk menjadi butir-butir atau butir2 kecil menjadi tablet.Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    a. Flokulasi adalah suatu proses penggabungan partikel2 menjadi satu sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring/diendapkan. Suatu koloid dispersi partikel2 zat padat yang sangat halus dalam cairan, tdk dapat disaring/diendapkan secara biasa. Partikel2 zat itu tdk dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabakan adanya muatan elektrolistis yang sama. Dan tegangan permukaan antara partikel & zat cair cukup besar. Contoh dalam industri : - Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    - Penambahan Hcl untukmemflokulasikan tanah liat
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi/penyaringan
    b. Fusi adlh proses pemanasan smentara partikel2 kecil shg mjd cair.cairan ini kmudian mengikat zat padt lainnya mjdi satu shingga ukurannya lebh besar.
    Nodulasi adlh proses pncairan yg sangt cpatsdanka aglomerisasi adlhproses yg berlangsung lambat.
    c. Pengompakan
    c.1 briket adlh suatu bentuk tertentu yg dibuat dg mengompakkan grenule mjd satu
    campuran partikek2 itu kmudian di pres dlm cetakan yg bntuknya tertentu.dlm prosesnya ditambhkan pelincir(lubricant)agar tdk menempel pd cetakan.sperti talk,waxdll
    c.2 pelet dibuat dg menekan bahn 2 itu dlm cetakan yg berlubang kmudian bahn yg keluar lubang2 tadi dipotong shngga trjadi bentuk pelet
    c.3 tablet prinsipnya pembuatannya yaitu mengisikan bahn2 yg berbntuk serbuk kdalm ctakan kemudian dipres
    kmudian dipres. Urutan proses pembuatannya sbg brkut:
    1. Mula2 bahan diisi dgn bahn pembuat tablet
    2. Kmudian ditekan dgn penekan P
    3. Penekan dilepas & dasar D ditekan keatas shg tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar taip2 lubang menjalani proses seperti diatas yaitu :
    1. Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi]
    2. Lubang itu beroutar melalui perata
    3. Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    4. Penekan teangkat & dasarnya mendorong tablet keatas
    5. Tablet yang telah berada daitas keping dg pisau penggaruk digesr kepinggir,demikian seterusnya.
    c.4 granulasi adalh butir2 kecil yang mempunyai ukuran & bentuk tertentu . biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda2 untuk proses selanjutnya misalnya pembuatan pelet/tablet, untuk katalisator
    2. Untuk memudahkan transporatsi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sbg debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    cara pembuatan grenule sbg berikut :
    1. Menggunakan zat perekat : cara ini terutama dipakai untuk serbuk2 yang daya ikatnya kurang bagi zat pelarut dalam air dapat ditaambahkan dengan air. Bila pelarut punya daya pelarut cukak besar biasanya dicampur dengan pelarut lain. Beberapa zat yang sering dipakai sbg zat perekat antara lain gula,gelatin, dextrin aci,melase,dsb. Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang2 horisontal yang membentuk silinder & bergerak bolak-balik. Dibawahnya dilengkapi dengan ayakan.
    2. Melalui Briket : pada cara ini serbuk setelah dibahasi dg kadar tertentu dijadikan briket.
    3. Dengan pengering pancar (spray dryer) : pada cara ini serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan proses sphronizing : pada cara ini tdk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Serbuk yang akan dijadikan grenule diaduk dg car mekanis dg arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  9. m.choirut to'at
    kls:XIKI2
    absen:12

    TUGAS 2
    INDUSTRI PENGELOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

    Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa
    Sawit

    masalah tersebut salah satu teknologi yang dapat digunakan pada pengolahan limbah
    cair adalah teknologi membran.
    Penurunan kualitas air dapat disebabkan oleh adanya kandungan bahan
    organik dan anorganik yang berlebihan. Adanya senyawa organik dalam perairan
    akan dirombak oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Perombakan ini
    akan menjadi masalah jika senyawa organik terdapat dalam jumlah yang banyak.
    Penguraian senyawa organik akan memerlukan oksigen yang sangat, sehingga
    dapat menurunkan kadar oksigen terlarut perairan samapai titik yang terendah akibat
    dekomposisi aerobik akan terjadi, sehingga pemecahan selanjutnya akan dilakukan
    oleh bakteri anaerobik.
    Pada saat ini pengolahan limbah cair industri kelapa sawit umumnya
    dilakukan dengan menggunakan metode proses kombinasi, yaitu fisika dan biologi.
    Metode ini mempunyai kelebihan pengolahannya cukup murah, tetapi kekurangannya
    adalah lahan yang digunakan untuk pengolahan limbah cair cukup besar, tetapi bagi
    industri yang mempunyai lahan terbatas karena proses diatas sulit dilakukan untuk
    membantu industri yang mempunyai keterbatasan lahan, maka kami mencoba untuk
    menggunakan teknologi membran dalam pengolahan air limbah industri kelapa sawit


    Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa
    Sawit
    Teknik pemisahan dengan membran umumnya berdasarkan ukuran partikel
    dan berat molekul dengan gaya dorong berupa beda tekan, medan listrik dan beda
    konsentrasi. Proses pemisahan dengan membran yang memakai gaya dorong berupa
    beda tekan umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis diantaranya mikromembran,
    ultramembran, nanomembran dan reverse osmosis.
    Teknologi membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses
    lain, antara lain :
    • Pemisahan dapat dilakukan secara kontinu
    • Konsumsi energi umumnya relatif lebih rendah
    • Proses membran dapat mudah digabungkan dengan proses pemisahan lainnya
    ( hybrid processing)
    • Pemisahan dapat dilakukan dalam kondisi yang mudah diciptakan
    • Mudah dalam scale up
    • Tidak perlu adanya bahan tambahan
    • Material membrane bervariasi sehingga mudah diadaptasikan pemakaiannya.
    Kekurangan teknologi membran antara lain : fluks dan selektifitas karena pada
    proses membran umumnya terjadi fenomena fluks berbanding terbalik dengan
    selektifitas. Semakin tinggi fluks seringkali berakibat menurunnya selektifitas dan
    sebaliknya. Sedangkan hal yang diinginkan dalam proses berbasiskan membran
    adalah mempertinggi fluks dan selektifitas.

    BalasHapus
  10. m.choirut to'at
    kls:XIKI2
    absen:12

    Lanjutan TUGAS 2
    INDUSTRI PENGELOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

    JENIS-JENIS MEMBRAN YANG DIPAKAI UNTUK PENGELOLAHAN PADA IPAL
    1. Mikrofiltrasi
    Mikrofiltrasi merupakan pemisahan partikel berukuran micron atau submicron.
    Bentuknya lazim berupa cartridge, gunanya untuk menghilangkan partikel dari air
    yang berukuran 0,04 sampai 100 mikron. Asalkan kandungan pdatan total terlarut
    tidak melebihi 100 ppm. Filtrasi cartridge merupakan filtrasi mutlak. Artinya partikel
    padat akan tertahan, terkadang cartridge yang berbentuk silinder itu dapat dibersihkan.
    Cartridge tersebut diletakkan di dalam wadah tertentu (housing). Bahan cartridge
    beraneka : katun, wool, rayon, selulosa, fiberglass, poly propilen, akrilik, nilon, asbes,
    ester-ester selulosa, polimer hidrokarbon terfluorinasi.
    Jenis- jenis cartridge dikelompokkan :

    Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa
    Sawit
    (1) Cartridge leletan
    (2) Cartridge rajut-lekatan-terjurai
    (3) Cartridge lembar – berpori (kertas saring khusus, media nirpintal,membran,
    berkarbon)
    2. Osmosis Balik (RO)
    Membran RO dibuat dari berbagai bahan seperti selulosa asetat (CA),
    poliamida (PA), poliamida aromatis, polieteramida,polieteramina, polieterurea,
    polifelilene oksida, polifenilen bibenzimidazol,dsb. Membran komposit film tipis
    terbuat dari berbagai bahan polimer untuk substratnya ditambah polimer lapisan
    fungsional diatasnya.
    Membran mengalami perubahan karena memampat dan fouling (sumbat).
    Pemampatan atau fluks-merosot itu serupa dengan perayapan plastic/logam bila
    terkena beban tegangan kompresi. Makin besar tekanan dan suhu, biasanya tak
    reversible dan membran makin mampat. Normalnya, membran bekerja pada suhu 21-
    35 derajat celcius. Fouling membran itu diakibatkan oleh zat-zat dalam air baku
    misalnya kerak, pengendapan koloid, oksida logam, organic dan silica.
    Berdasarkan kajian ekonomi menunjukkan osmosis balik mempunyai
    keuntungan sebagai berikut ;
    1. Untuk umpan padatan total terlarut di bawah 400 ppm, osmosis balik
    merupakan perlakuan yang murah.
    2. Untuk umpan padatan total terlarut di ats 400 ppm, dengan penuruanan
    padatan total terlarut 10% semula, osmosis balik sangat menguntungkan
    disbanding dengan deionisasi
    3. Untuk umpan berapapun konsentrasi padatan total terlarut, disertai
    kandungan organic lebih daripada 15 g/liter, osmosis balik sangat baik
    untuk praperlakuan deionisasi.
    4. Osmosis balik sedikit berhubungan dengan bahan kimia, sehingga lebih
    praktis.
    3. Ultrafiltrasi
    Membran ultrafiltrasi adalah teknik proses pemisahan (menggunakan)
    membran untuk menghilangkan berbagai zat terlarut BM (berat molekul) tinggi,
    aneka koloid, mikroba sampai padatan tersuspensi dari air larutan. Membran

    4. Nanofiltrasi
    Proses nanofiltrasi merejeksi kesadahan, menghilangkan bakteri dan virus,
    menghilangkan warna karena zat organik tanpa menghasilkan zat kimia berbahaya
    seperti hidrokarbon terklorinisasi. Nanofiltrasi cocok bagi air padatan total terlarut
    rendah, dilunakkan dan dihilangkan organiknya.
    Sifat rejeksinya khas terhadap tipe ion : ion dwivalen lebih cepat dihilangkan
    daripada yang ekavalen, sesuai saat membrane itu diproses, formulasi bak pembuat,
    suhu, waktu annealing, dan lain-lain. Formulasi dasarnya mirip osmosis balik tetapi
    mekanisme operasionalnya mirip ultrafiltrasi. Jadi nanofiltrasi itu gabungan antara osmosisi balik dan ultrafiltrasi.

    BalasHapus
  11. RISTA WINARTI
    XI-KI2 / 26
    PROSES KOAGULASI & FLOKULASI DALAM SUATU INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR LAPINDO INDUSTRI IPAL
    Lumpur lapindo merupakan koloid sehingga memerlukan proses flokulasi untuk mempercepat pengendapan. Bakteri mempunyai peranan penting untuk mempercepat proses flokulasi karena bakteri mampu menghasilkan extracellular polymeric substances (EPS) yang tersusun atas protein, polisakarida, asam nukleat dan lipid. Tujuan penelitian mengisolasi dan identifikasi bakteri pembentuk flok dari lumpur aktif IPAL PT.SIER dan mengaplikasikan ke lumpur Lapindo untuk mengetahui laju flokulasi pada waktu 1 -14 hari. Metode yang digunakan adalah Isolasi dan identifikasi bakteri dan mengukur laju flokulasi lumpur Lapindo. Rancangan Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA satu arah dan uji Tukey ( α=5%). Genus bakteri pembentuk flok di lumpur aktif IPAL PT.SIER adalah Bacillus, Pseudomonas, Thiobacillus sp1, Thiobacillus sp2, Alcaligenes. Laju flokulasi lumpur Lapindo selama 14 hari oleh Bacillus 60%, Pseudomonas 40%, Alcaligenes 38%, Thiobacillus sp1 37,3% dan Thiobacillus sp2 37%. Aktivitas flokulasi yang mampu dilakukan oleh Bacillus 89,0%, Pseudomonas 85,9%, Alcaligenes 82,3%, Thiobacillus sp1 64,6% dan Thiobacillus sp2 66,4%.
    Mekanisme Koagulasi-Flokulasi
    Stabilitas koloid merupakan aspek penting dalam proses koagulasi untuk menghilangkan koloid-koloid.
    Stabilitas koloid tergantung ukuran koloid dan muatan elektrik, juga dipengaruhi oleh media pendispersi (dalam hal ini media pendispersi adalah air) seperti kekuatan ion , pH.
    Muatan permukaan partikel-partikel koloid penyebab kekeruhan di dalam air adalah sejenis, oleh karena itu jika kekuatan ionik di dalam air rendah, maka koloid akan tetap stabil. Stabilitas merupakan daya tolak koloid karena partikel-partikel mempunyai muatan permukaan sejenis (negatip).
    Antara koloid-koloid ada gaya tolak menolak dan gaya tarik massa (van der Waals). Dengan adanya enersi interaksi kedua gaya tersebut yang disebabkan oleh gerakan Brownian, dihasilkan suatu enersi kinetik. Jika kekuatan ionik di dalam air cukup tinggi, maka gaya tolak menolak memberi keuntungan kepada situasi dimana tumbukan yang terjadi menghasilkan aglomerasi partikel-partikel.
    Ada beberapa daya yang menyebabkan stabilitas partikel, yaitu :
    1). Gaya elektrostatik yaitu gaya tolak menolak terjadi jika partikel-partikel mempunyai muatan yang sejenis (negatif atau positif ).
    2). Bergabung dengan molekul air (reaksi hidrasi)
    3). Stabilisasi yang disebabkan oleh molekul besar yang diadsorpsi pada permukaan.
    Mekanisme yang disebut diatas seringkali terjadi pada saat yang sama. Dalam suspensi yang keruh seringkali hanya ada partikel bermuatan negatip yang disebabkan oleh penggantian kation maupun adsorpsi zat anionik.
    Mineral seperti silika, tanah liat, oksida dan hidroksida seringkali selain mempunyai daya elektrostatik, juga ada hidrasi yang mampu untuk mengadsopsi zat penyebab stabilisasi.. Suspensi atau koloid bisa dikatakan stabil jika semua gaya tolak menolak antar partikel lebih besar dari gaya tarik massa, sehingga didalam waktu tertentu tidak terjadi agregasi.
    Untuk menghilangkan kondisi stabil, harus merubah gaya interaksi diantara partikel dengan pembubuhan zat kimia (sebagai donor muatan positip) supaya gaya tarik menarik menjadi lebih besar.

    BalasHapus
  12. desy arisanti/XI KI 1/ 20
    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    1Flokulasi
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa karena zat ini tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan muatan elektrotatis yang sama.
    Penggabungan antara partikel-partikel yang menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar disebut Flokulasi.Urutan proses dalam penggunaan Flokulasi adalah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi
    Alat Flokulasi disebut Flokulator yang bentuknya seperti alat sedimentasi.
    2Fusi
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil menjadi bagian yang cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu sehingga ukurannya lebih besar. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Dan bila prosesnya lambat maka disebut Aglomerisasi. Alat Nodulasi dan Aglomerisasi adalah semcam kli ynag berputar (rotary klin) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    3Pengompakan
    a. Briket
    b. Pelet
    c. Tablet
    d. Granulasi
    pengolahan IPAL air dengan membran :
    Salah satu membran yang biasanya digunakan dalam proses pengolahan air bersih adalah membran
    mikrofiltrasi, yang cocok untuk menahan suspensi dan emulsi, juga untuk memisahkan partikel (bakteri danragi). Selain itu, harga membran mikrofiltrasi lebih murah, juga membutuhkan tekanan operasi yang lebih kecil,yaitu kurang dari 2 bar, sehingga membutuhkan alat pendukung/utilitas yang lebih sedikit (Mulder, 1991).
    Kontras dengan kemampuannya memisahkan partikel, mikroba dan bakteri, membran mikrofiltrasi kurang
    efektif untuk memisahkan pengotor berupa koloid. Hal ini dikarenakan oleh sifat koloid yang stabil sehingga
    diendapkan, juga karena ukuran koloid umumnya lebih kecil dari pori membran mikrofiltrasi, yang dapatmenimbulkan masalah fouling pada membran. Untuk mengatasi masalah ini maka proses mikrofiltrasi dalampengolahan air bersih harus dipadukan dengan proses pralakuan yang salah satunya adalah koagulasi-flokulasi.
    Koagulasi adalah metode untuk menghilangkan bahan-bahan limbah dalam bentuk koloid, denganmenambahkan koagulan. Dengan koagulasi, partikel-partikel koloid akan saling menarik dan menggumpalmembentuk flok (Suryadiputra, 1995).
    Flokulasi terjadi setelah koagulasi dan berupa pengadukan pelan pada air limbah. Dengan mengendapnya koloid, diharapkan laju fouling yang terjadi pada membran akan berkurang, sehingga penggunaan mikrofiltrasi dalam proses pengolahan air bersih menjadi layak untuk dilakukan. Koagulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alumunium sulfat (Al2(SO4)3). Dalam penelitian ini,dilakukan variasi waktu lamanya pengadukan pelan pada proses flokulasi.
    Parameter yang digunakan dalam mengukur kualitas air bersih sangat banyak, akan tetapi dalam
    penelitian ini parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air bersih adalah TDS (Total Dissolved Solid) dan COD (Chemical Oxygen Demand)
    Pengadukan campuran dibagi menjadi dua berdasarkan kecepatan pengadukannya, yaitu pengadukan cepat, dengan kecepatan 120 rpm dan pengadukan pelan dengan kecepatan 40 rpm (Water Specialist Technologies, LLC). Pengadukan cepat dilakukan selama 2 menit yang dihitung semenjak penambahan koagulan. Pengadukan cepat ini bertujuan untuk menghasilkan dispersi yang seragam dari partikel-partikel koloid, dan untuk meningkatkan kesempatan partikel untuk kontak dan bertumbukan satu sama lain. Pengadukan pelan dilakukan dengan waktu pengadukan yang divariasikan, mulai dari 5, 10, 15, 20, hingga 25 menit, yang dimulai tepat setelah pengadukan cepat selesai. Pengadukan pelan ini bertujuanmenggumpalkan partikel-partikel terkoagulasi berukuran mikro menjadi partikel-partikel flok yang lebih besar.

    BalasHapus
  13. Nama : Angger Karuniawan
    Kelas : XI KI 1
    No. : 07

    PROSES PEMBESARAN
    I.PENDAHULUAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    Flokulasi (flocculation)
    Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulisasi
    Pengompakan (compacting) : briket, pellet, tablet, granulasi
    2. FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa. Partikel-partikel zat itu tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama. Disamping itu juga karena tegangan muka antara partikel dan zat cair cukup besar. partikel-partikel itu baru akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan itu disebut Flokulasi.
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi iaalah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi/penyaringan
    3.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    4.PENGOMPAKAN
    A. Briket
    Ini adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    B.Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    C.Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Kemudian ditekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar tiap-tiap lubang menjalani proses sebagai berikut :
    - Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi
    - Lubang itu berputar melalui perata
    - Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    - Penekan terangkat, dan dasarnya mendorong tablet keatas
    - Tablet yang telah berada diatas keeping dengan pisau penggaruk digeser kepinggir
    - Demikian seterusnya

    BalasHapus
  14. NAMA :PIPIT FEBRIANITA
    KELAS :XI KI-2
    NO.ABSEN:17

    TUGAS 1
    PROSES PEMBESARAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pekerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. contoh dari serbuk menjadi butir-butir kecil atau dari butir-butir kecil menjadi tablet dan sebagainya.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    1.Flokulasi (Flocculation)
    Adalah partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan dan tidak dapat disaring/ diendapkan secara biasa. Partikel zat tersebut tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis sama. Dan tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel itu baru bisa disaring/ diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu ukurannya menjadi besar. Penggabungan tsb disebut FLOKULASI
    Urutan proses penggunaan flokulasi:
    a.Pencampuran
    b.Flokulasi
    c.Sedimentasi/ penyaringan
    Contoh Flokulasi:
    •Penambahan ion Al³+ atau Fe³+ pada pembersihan air.
    •Penambahan tepung acipada flokulasi coal
    •Pengendapan latex dengan penambahan elektrolit
    •Penambahan HCl untuk memflokulasikan tanah liat

    2.Fusi (Fusion)
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair yang kemudian mengikat zat padat menjadi satu sehingga menjadi lebih besar. Selama penggabungan itu terbentuk butir-butir yang bulat. Setelah dingin butir-butir itu menjadi padat. Ada 2 macam:
    a.Nodulasi: proses pencairan sangat cepat
    b.Aglomerisasi: proses pencairan lambat.

    3.Pengompakan (Compacting)
    Ada 4 macam:
    a)Briket
    Adalah pengompakan granule menjadi satu. Karena ukuran granule sama kurang kuat maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu. Campuran partikel ini dipres dalam cetakan. Pada proses mencetak ini ditambahkan pelincir (lubricant) agar tidak menempel pada cetakan. Contoh pelincirnya:talk, wax, asam borax, garam stearat, dsb
    b)Pelet
    Dilakukan dengan menekan bahan-bahan dalam cetakan yang berlubang-lubang. Lalu bahan keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terbentuk pellet.
    c)Tablet
    Proses Pembuatan tablet dapat dilakukan secara kontinyu yaitu dengan membuat lubang-lubang cetak pada keping silinder. Keping silinder diputarkan oleh sebuah motor.
    Proses pembuatan tablet:
    (a)Mula-mula cetakan diisi dengan pembuat tablet
    (b)Lalu ditekan dengan menekan penekan P
    (c)Penekan dilepas dan dasar D di tekan ke atas sehingga tablet keluar dari atas.
    d)Granulasi
    Adalah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule dibentuk dari serbuk. Ada 4 cara untuk membuat granule:
    1)Menggunakan zat perekat
    Digunakan untuk serbuk yang daya rekatnya kurang dan perlu ditambahkan perekat. Zat yang sering digunakan sebagai perekat: gula, gelatin, dextrin aci, melase dsb.
    2)Melalui briket
    Serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket lalu digiling dan diayak. Ukuran partikel harus memenuhi syarat karena kalau terlalu banyak puder briketnya akan kurang kuat.
    3)Pengering pancar (Spray Dryer)
    Serbuk dibasahi lalu disemprotkan ke dalam pengeringan. Disini diperlukan kadar air yang lebih tinggi.
    4)Proses Spheronizing
    Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk secara mekanis dengan arah verikal/ horizontal.

    BalasHapus
  15. Bagus Dwi S./XI-KI1/15

    PROSES PEMBESARAN,

    Adlh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. Contohnya, dari serbuk menjadi butir-butir kecil dan dari butir-butir kecil menjadi tablet dsb.
    Proses pembesaran dpt diklasifikasikan sbb,
    1. Flokulasi,
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak akibat muatan elektrostatis yang sama, dan juga tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel tsb baru dpt disaring/diendapkan bila bila beberapa partikel bergabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan ini yang disebut flokulasi.
    Flokulasi dpt terjadi dengan penambahan:
    -zat aktif permukaan, dapat mengurangi tegangan permukaan
    -elektrolit, untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah pH
    2. Fusi,
    Adalah Proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi Alat nodulasi atau aglomerisasi semacam kiln berputar,yaitu semacam silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. Pengompakan
    a. Briket,
    Yaitu dengan mengompakkan granulemenjadi satu. Dalam pembuatan briket granule-granule yang berukuran sama akan kurang kuat,maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    Campuran partikel-partikel itu kemudian dipres dalamcetakanyang bentuknya tertentu,dalam proses mencetakini perlu ditambahkan pelincir agar tidak menempelnpada cetakan.
    b. Pelet,
    Yaitu,dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.
    c. Tablet,
    Prinsipnya, engan mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dapat bergerak seperti plunyer,gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan.
    Pembuatan tablet juga dapat dilakukan secara kontinyu,yaitu dengan membuat lubang-lubang cetak itu pada keeping silinder. Keping silinder ini kemudian diputar oleh sbuah motor,sehingga lubang-lubang itu turut berputar.
    d. Granulasi,
    Granulasi adalah butir-butir yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Tujuan granulasi adalah:
    - Mempersiapkanbenda untukproses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan.
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu.
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.
    Beberapa cara untuk membuat granule :
    - Menggunakan zat perekat,
    untuk serbuk-serbuk yang daya rekatnya kurang. Contoh perekat adalah air,gula,gelatin,dextrin aci, melase, dsb.
    - Melalui briket,
    pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket. Kemudian digiling dan diayak. Setelah itu dimasukkan ke dalam granulator.
    - Dengan pengering pancar,
    Dengan cara ini serbuk dibasahi,kemudian disemprotkan ke dalam pengeringan.
    - Dengan proses Spheronizing
    Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horisonta. Hasildari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  16. -lanjutan- ^.^

    5.GRANULASI
    Ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Tujuan pembentukannya antara lain :
    - Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara
    Ada beberapa cara untuk membuat granule ini yaitu :
    a. Menggunakan zat perekat
    Cara ini terutama dipergunakan untuk serbuk-serbuk yang daya rekatnya kurang. Karena iu perlu ditambahkan perekat. Beberapa zat yang sering digunakan sebagai pererkat antara lain ialah gula, gelatin , dextri aci , melase dan sebagainya. Perekat yang ditambahkan dalam keadaan padat misalnya serbuk gula glokuse.
    b. Melalui briket
    Pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket. Kemudian digiling dan diayak. Ukuran partikel-partikel ini harus memenuhi syarat, karena kalau telalu banyak puder briketnya akan kurang kuat.
    c. Dengan pengering pancar
    Denag cara ini serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengering. Disini diperlukan kadar air yang lebih tinggi dari pada cara lain.
    d. Dengan proses “Spheronizing”
    Pada cara ini tidak diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Proses Sperhonizing mula-mula dipakai dalam industry karbon black, kemudian berkembang ke industry lain. Serbuk granule yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horizontal.


    PROSES PEMBESARAN PADA AIR MINUM


    Proses pembesaran pada air menggunakan metode Konvensional Koagulasi , flokulasi, Sedimentasi :
    Konvensional koagulasi-flokulasi-sedimentasi praktik pretreatments penting untuk sistem pemurnian air banyak-terutama filtrasi perawatan. Proses ini menggumpal padatan tersuspensi bersama-sama ke dalam tubuh lebih besar sehingga proses filtrasi fisik dapat lebih mudah menghapusnya. Partikulat penghapusan oleh metode ini membuat proses penyaringan berikutnya jauh lebih efektif. Proses ini sering diikuti dengan pemisahan gravitasi (sedimentasi atau flotasi) dan selalu mengikuti dengan filtrasi.
    Sebuah kimia koagulan , seperti garam besi, garam aluminium, atau polimer , akan ditambahkan ke sumber air untuk memfasilitasi ikatan antara partikel. Koagulan bekerja dengan menciptakan reaksi kimia dan menghilangkan biaya negatif yang menyebabkan partikel saling tolak.
    Campuran koagulan-sumber air kemudian perlahan-lahan diaduk dalam proses yang dikenal sebagai flokulasi. Air ini berputar mendorong partikel bertumbukan dan perdu bersama menjadi gumpalan dilepas lebih besar dan lebih mudah, atau "flocs."
    Proses ini membutuhkan pengetahuan kimia dari karakteristik sumber air untuk memastikan bahwa campuran koagulan yang efektif digunakan. koagulan yang tidak benar membuat metode pengobatan ini tidak efektif.
    Efektivitas utama koagulasi / flokulasi juga ditentukan oleh efisiensi proses penyaringan dengan yang dipasangkan.

    BalasHapus
  17. -lanjutan- ^.^

    Flocculants
    Partikel halus dari 0,1 μm (10 -7 m) dalam air tetap terus bergerak karena muatan elektrostatik (sering negatif) yang menyebabkan mereka saling tolak. Setelah muatan elektrostatik mereka dinetralisir oleh penggunaan bahan kimia koagulan, partikel yang lebih halus mulai bertabrakan dan aglomerasi (menggabungkan bersama-sama) di bawah pengaruh Van der Waals pasukan s '. Partikel-partikel yang lebih besar dan lebih berat disebut flocs.



    Flocculants, atau agen flokulasi (juga dikenal sebagai agen berkelompok), merupakan bahan kimia yang mempromosikan flokulasi dengan menyebabkan koloid dan partikel tersuspensi dalam cairan lainnya ke agregat, membentuk sebuah flok. Flocculants digunakan dalam proses pengolahan air untuk meningkatkan sedimentasi atau filterability partikel kecil. Sebagai contoh, sebuah flocculant dapat digunakan di kolam renang atau minum air penyaringan untuk membantu penghapusan partikel mikroskopis yang dinyatakan akan menyebabkan air menjadi keruh (berawan) dan yang akan sulit atau tidak mungkin untuk menghapus oleh filtrasi sendiri.
    Banyak flocculants multivalent kation seperti aluminium , besi , kalsium atau magnesium . Ini bermuatan positif molekul berinteraksi dengan partikel bermuatan negatif dan molekul untuk mengurangi hambatan agregasi. Selain itu, banyak bahan kimia ini, di bawah sesuai pH dan kondisi lain seperti suhu dan kadar garam , bereaksi dengan air untuk membentuk larut hidroksida yang, setelah curah, link bersama untuk membentuk rantai panjang atau jerat, secara fisik menjebak partikel kecil ke dalam flok yang lebih besar.
    Flocculants-rantai polimer panjang, seperti diubah polyacrylamides , diproduksi dan dijual oleh usaha yang menghasilkan flocculant. Ini dapat diberikan dalam bentuk kering atau cair untuk digunakan dalam proses flokulasi. Cairan poliakrilamida kebanyakan diberikan sebagai emulsi dengan aktif 10-40% dan sisanya adalah cairan pembawa, surfaktan dan lateks . Emulsi polimer memerlukan aktivasi pada inversi emulsi dan memungkinkan kelompok elektrolit harus digelar.

    BalasHapus
  18. NAMA: HERNI INDAHWATI
    KELAS: XI KI-2
    NO: 01
    TUGAS 2

    WATER TREATMENT

    WATER TREATMENT (Pengolahan air) merupakan suatu proses yang digunakan untuk membuat sumber air baku atau air limbah menjadi air yang dapat diterima bagi pengguna akhir sesuai dengan standar yang dibutuhkan (diinginkan). termasuk air bersih, air minum, air untuk proses industri, air pengobatan dan air untuk keperluan lainnya.
    Tujuan dari semua proses pengolahan air yang ada adalah menghilangkan Kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut sehingga menjadi air yang diinginkan sesuai kebutuhan (pengguna akhir) tanpa merugikan dampak ekologis.
    Proses-proses yang terlibat dalam pemisahan Kontaminan dapat menggunakan Proses Fisik seperti menetap dan penyaringan Kimia seperti Desinfeksi dan Koagulasi. Selain itu proses Biologi juga digunakan dalam pengolahan air limbah, proses-proses ini dapat meliputi, mencampur dengan Udara, diaktifkan Lumpur atau Saringan pasir padat
    Pemurnian Air Minum adalah menghilangkan Kontaminan pada air untuk menghasilkan air minum yang murni yang layak digunakan untuk dikonsumsi manusia. Zat yang dipisahkan dalam proses pengolahan air minum antara lain padatan tersuspensi, bakteri, ganggang, Virus, Jamur, Mineral (seperti besi, Mangan dan Sulfur) dan buatan kimia polutan termasuk Pupuk. Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) umumnya diikuti di seluruh dunia untuk persyaratan kualitas air minum. Selain dari pedoman WHO, setiap negara atau wilayah dapat memiliki pedoman sendiri agar konsumen dapat memiliki akses ke air minum yang aman.
    Ciri-Ciri Air Mengandung Zat Besi
    Proses-Proses Dalam Pemurnian Air Minum
    Kombinasi berikut merupakan proses yang biasa digunakan untuk dalam pengolahan air minum kotamadya di seluruh dunia:
    Klorinasi - Proses pencampuran air dengan Klorin (Kaporit) bertujuan untuk membunuh kuman dan meng-Oksidasi bahan-bahan kimia dalam air.
    Aerasi - Memberikan kontak udara terhadap air yang bertujuan untuk oksigenasi ( meningkatkan DO- Dissolved Oxygen - dalam air).
    Koagulasi - Proses untuk mengikat berbagai partikel padat (Suspended Solid) sehingga membentuk gumpalan-gumpalan.
    Koagulan juga dikenal sebagai polyelectrolytes - Untuk meningkatkan ketebalan koagulasi dalam pembentukan floc.
    Sedimentasi - Yaitu : Proses penyaringan / pengendapan partikel-partikel yang terdapat pada air.
    Filtrasi - Proses menghambat jalanya kotoran / partikel kotoran agar tidak ikut terbawa air.
    Desinfeksi - Untuk membunuh bakteri, dapat juga dikatakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen.
    ^_RnIe_^

    BalasHapus
  19. BAGUS DWI S/ XI-KI 1 / 15 / TUGAS 2

    PRALAKUAN KOAGULASI DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR DENGAN MEMBRAN: "PENGARUH WAKTU PENGADUKAN PELAN KOAGULAN ALUMINIUM SULFAT TERHADAP KINERJA MEMBRAN"

    Untuk memperpanjang umur membran dan meningkatkan kinerja pemisahan membran mikrofiltrasi
    dalam pengolahan air bersih, perlu dilakukan pralakuan koagulasi-flokulasi pada umpan membran.
    Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses koagulasi-flokulasi dan akhirnya juga
    berpengaruh terhadap kinerja membran adalah waktu pengadukan pelan koagulan.
    Pada penelitian ini divariasikan waktu pengadukan pelan yaitu selama 5, 10, 15, 20 dan 25 menit.
    Umpan proses memiliki derajat keasaman (pH) 7,3, kadar padatan terlarut (TDS) antara 524-540
    mg/L dan kandungan zat organik (COD) antara 45-54 mg/L. Koagulan yang digunakan adalah
    aluminium sulfat dengan dosis 50 ppm.
    Efektifitas koagulasi dan kinerja membran mikrofiltrasi meningkat dengan penambahan waktu
    pengadukan pelan hingga dicapai waktu pengadukan pelan optimum. Waktu pengadukan optimum
    yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah selama 10 menit, yang menghasilkan harga maksimum
    pada efektifitas koagulasi dan kinerja membran selama 4 jam operasi sebagai berikut :
    • Efektifitas koagulasi berdasarkan penurunan TDS : 45,1 %
    • Efektifitas koagulasi berdasarkan penurunan COD : 39 %
    • Fluks permeat : 0,016 m3/m2.jam
    • Persen rejeksi terhadap kadar TDS : 35 %
    • Persen rejeksi terhadap kadar COD : 39 %
    Pada waktu pengadukan yang lebih besar dari waktu pengadukan optimum, efektifitas koagulasi,
    dan kinerja membran mikrofiltrasi akan turun dikarenakan pecahnya flok yang telah terbentuk.

    BalasHapus
  20. NAMA : ROCMATUN NI'MAH
    KELAS :XI KI2
    NO. ABSEN: 28


    PROSES FLOKULASI PADA LUMPUR LAPINDO

    Proses flokulasi berperan penting pada proses pengolahan air maupun limbah industri. Flokulasi biasanya dilakukan dalam tangki berpengaduk dimana energi dissipasi yang dihasilkan dari putaran impeller akan mempengaruhi gradien kecepatan (G). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembentukan flok pada proses flokulasi dalam tangki berpengaduk Rushton disc turbine yang ditunjukkan dengan distribusi ukuran partikel setiap waktu di dalam tangki dengan memperhatikan fenomena penggabungan dan perpecahan flok. Simulasi dilakukan menggunakan kombinasi Population Balance Model dan Computational Fluid Dynamics (CFD). Sistem yang dipelajari berupa tangki silinder dengan volume 2,65 liter. Variabel penelitian yang digunakan berupa kecepatan putar impeller, yaitu : 100 rpm, 156 rpm, 248 rpm, 325 rpm, dan 460 rpm dengan diameter rata-rata partikel primer polystyrene adalah 0,87 μm. Aliran multiphasa dalam sistem tangki berpengaduk ini disimulasikan dengan mixture model, karakteristik turbulensinya mengikuti persamaan Reynold Averaged Navier-Stokes, viskositasnya dimodelkan dengan k-ε model, dan distribusi ukuran flok sebagai fungsi waktu dimodelkan dengan menggunakan Population Balance. Hasil simulasi menunjukkan semakin tinggi kecepatan putar impeller maka rate energi dissipasi dan shear rate yang dihasilkan juga semakin besar. Kecepatan putar impeller 156 rpm paling efektif untuk proses flokulasi dibanding variabel kecepatan impeller yang lain, karena menghasilkan ukuran diameter flok yang paling besar yaitu 201,32 μm untuk waktu flokulasi 25 menit.
    Lumpur lapindo merupakan koloid sehingga memerlukan proses flokulasi untuk mempercepat pengendapan. Bakteri mempunyai peranan penting untuk mempercepat proses flokulasi karena bakteri mampu menghasilkan extracellular polymeric substances (EPS) yang tersusun atas protein, polisakarida, asam nukleat dan lipid. Tujuan penelitian mengisolasi dan identifikasi bakteri pembentuk flok dari lumpur aktif IPAL PT.SIER dan mengaplikasikan ke lumpur Lapindo untuk mengetahui laju flokulasi pada waktu 1 -14 hari. Metode yang digunakan adalah Isolasi dan identifikasi bakteri dan mengukur laju flokulasi lumpur Lapindo. Rancangan Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian dianalisis dengan ANOVA satu arah dan uji Tukey ( α=5%). Genus bakteri pembentuk flok di lumpur aktif IPAL PT.SIER adalah Bacillus, Pseudomonas, Thiobacillus sp1, Thiobacillus sp2, Alcaligenes. Laju flokulasi lumpur Lapindo selama 14 hari oleh Bacillus 60%, Pseudomonas 40%, Alcaligenes 38%, Thiobacillus sp1 37,3% dan Thiobacillus sp2 37%. Aktivitas flokulasi yang mampu dilakukan oleh Bacillus 89,0%, Pseudomonas 85,9%, Alcaligenes 82,3%, Thiobacillus sp1 64,6% dan Thiobacillus sp2 66,4%.
    Sistem flokulasi adalah sangat efisien dalam menghilangkan minyak, logam berat, tinta dan kontaminan lainnya dari air limbah. Flokulasi merujuk kepada proses di mana partikel halus yang disebabkan gumpalan bersama-sama ke dalam flok. flok kemudian dapat mengapung ke puncak cairan, menetap ke dasar cairan, atau dapat mudah disaring dari cairan. Flokulasi secara luas digunakan dan diterapkan dalam sistem pengolahan limbah, pengobatan stormwater dan perawatan aliran air limbah industri lainnya serta pemurnian air minum.

    BalasHapus
  21. NAMA : ISTIKA NARWANI
    KELAS: XI KI2
    NO : 04

    PROSES FLOKULASI PADA IPAL
    Koagulasi adalah destabilisasi koloid dengan cara menetralisir kekuatan yang menjaga mereka selain menyediakan. Kationik koagulan muatan listrik positif untuk mengurangi muatan negatif (potensial zeta) dari koloid. Akibatnya, partikel-partikel bertumbukan untuk membentuk partikel yang lebih besar (flocs). Rapid pencampuran yang dibutuhkan untuk membubarkan koagulan sepanjang cairan. Perawatan harus diambil untuk tidak overdosis koagulan karena hal ini dapat menyebabkan biaya lengkap pembalikan dan restabilize kompleks koloid.
    Dalam operasi pengolahan air limbah, proses koagulasi dan flokulasi bekerja untuk memisahkan padatan tersuspensi dari air. Meskipun istilah koagulasi dan flokulasi sering digunakan secara bergantian, atau istilah tunggal "flokulasi" digunakan untuk menjelaskan keduanya; mereka, pada kenyataannya, dua proses yang berbeda. Mengetahui perbedaan mereka dapat menyebabkan pemahaman yang lebih baik dari klarifikasi dan operasi pengolahan limbah dewatering.
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi proses koagulasi dan flokulasi yang optimum untuk proses pengolahan limbah cair dewatering bagasse sehingga dapat mengurangi beban proses pengolahan limbah cair pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
    Padatan terdispersi halus (koloid) dibekukan dalam limbah cair yang distabilkan oleh muatan listrik negatif pada permukaan mereka, membuat mereka saling tolak.. Karena ini mencegah partikel bermuatan ini dari bertabrakan dengan bentuk massa yang lebih besar, yang disebut flocs, mereka tidak menetap Untuk membantu penghilangan partikel koloid dari suspensi, koagulasi kimia dan flokulasi dibutuhkan. ini proses, biasanya dilakukan secara berurutan, adalah kombinasi dari prosedur dan kimia fisik. Bahan kimia yang dicampur dengan air limbah untuk mempromosikan agregasi dari padatan tersuspensi menjadi partikel-partikel yang cukup besar untuk menyelesaikan atau dihapus dan mengikat partikel ke aglomerasasi besar atau gumpalan terjadi. Bridging ketika menyerap segmen dari rantai polimer pada partikel yang berbeda dan membantu partikel agregat. Sebuah flocculant anionik akan bereaksi terhadap dibebankan suspensi positif, menyerap pada partikel dan menyebabkan destabilisasi baik oleh menjembatani atau mengisi netralisasi. Dalam proses ini sangat penting bahwa agen flokulasi ditambah dengan lambat dan lembut pencampuran untuk memungkinkan kontak antara flocs kecil dan menggumpal menjadi partikel yang lebih besar. diaglomerasi partikel yang baru dibentuk sangat rapuh dan dapat dipisah-pisahkan oleh geser pasukan selama pencampuran. Perawatan juga harus diambil untuk tidak overdosis polimer sebagai hal tersebut akan menyebabkan penyelesaian / klarifikasi masalah Surfaktan Anionik polimer. sendiri lebih ringan daripada air. Akibatnya, meningkatkan dosis akan meningkatkan kecenderungan flok mengapung dan tidak menetap.
    . Setelah partikel yang flocculated menjadi partikel yang lebih besar, mereka biasanya dapat dihapus dari cairan oleh sedimentasi, dengan syarat bahwa perbedaan kerapatan cukup ada antara padatan tersuspensi dan partikel-partikel cair. Semacam itu juga dapat dihapus atau dipisahkan oleh media filtrasi, berusaha atau pengapungan ,. Ketika proses penyaringan digunakan penambahan flocculant mungkin tidak diperlukan sejak partikel dibentuk oleh reaksi koagulasi mungkin ukuran yang memadai untuk memungkinkan penghapusan. flokulasi Reaksi tidak hanya meningkatkan ukuran partikel flok untuk menyelesaikan mereka lebih cepat , tetapi juga mempengaruhi sifat fisik flok, sehingga partikel ini kurang gelatin dan dengan demikian lebih mudah untuk dewater.

    BalasHapus
  22. NAMA :PIPIT FEBRIANITA
    KELAS :XI KI-2
    NO.ABSEN:17

    TUGAS 2
    PROSES PEMBESARAN PADA PDAM

    7 Langkah Proses Pengolahan Air di PDAM:
    1.Penyediaan Air Baku. Pertama harus ditentuin sumber air bakunya. Biasanya dari sungai, waduk, danau, sumur, atau mata air.
    Untuk mengalirkan air sungai
    maka harus dibangun inlet berupa rumah pompa yang akan memompa air dari sungai ke bangunan pengolahan. Sebelum air masuk ke inlet biasanya dibangun yang namanya screen bar. Screen bar ini bertujuan untuk memisahkan sampah yang biasanya mengapung di air agar tidak ikut masuk ke pengolahan air. Dari inlet air dipompa menuju ke proses selanjutnya.
    2.Prasedimentasi. Partikel-partikel diskrit yang tidak terlarut dalam air diendapkan terlebih dahulu.
    3.Flash Mix. Untuk mengendapkan petikel ini dibutuhkan bantuan tawas/alum
    4.Slow Mix. Pada unit slow mix ini, tawas/alum diberi kesempatan untuk bersatu dengan partikel koloid yang kecil-kecil hingga menjadi flok yang berukuran lebih besar dibanding koloid sehingga mudah mengendap. Proses di slow mix ini disebut flokulasi / proses pembentukan flok.
    5.Sedimentasi. Pada proses ini flok-flok dari hasil flokulasi mengendap, sehingga dihasilkan air yang lebih jernih
    6.Filter. air dari bak pengendap dialirkan ke unit filter (rapid sand filter).
    7.Disinfeksi.
    Sebelum masuk ke bak reservoir, air ditambah dengan klorin untuk mengilangkan bakteri-bakteri patogen yang mungkin ada pada air

    Langkah-langkah pengolahan air minum:
    air dari sungai masuk Intake melalui pipa dengan menggunakan prinsip gravitasi, kemudian dipompa ke bak pra sedimentasi. Pada bak pra sedimentasi air mengalami pengendapan pertama kemudian air masuk pada ruang koagulasi, di ruang koagulasi terjadi proses kimiawi yaitu adanya proses pengendapan partikel-partikel kecil yang tak dapat mengendap dengan sendirinya. Selanjutnya air akan masuk pada ruang flokulasi. Pada ruang ini akan terjadi pengadukan lambat, bertujuan untuk meratakan bahan kimia yang ditambahkan agar dapat bercampur dengan baik sehingga terbentuk partikel-partikel padat (floc). Kemudian air masuk pada bak sedimentasi atau bangunan pengendap kedua, pada bangunan ini floc-floc yang terbentuk akan mengendap. Selanjutnya air akan masuk pada Filter atau saringan, gumpalan-gumpalan atau lumpur akan tertahan pada lapisan atas filter. Setelah itu yang mengendap akan masuk pada bak lumpur, kemudian akan dibuang kembali ke sungai. Air yang keluar dari Filter sudah dapat digunakan atau dalam keadaan bersih. Dari bak penampungan air akan dipompa untuk disalurkan kepada pelanggan.
    Pada pengolahan di atas terdapat unit-unit pengolahan air yang sering diterapkan di PDAM, yaitu : Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi. Koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan desinfeksi terdapat pada tahap pertama kali penyaringan.

    Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi.berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle.
    Flokulator pada prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu adanya desain khusus bentuk flokulator tersebut. Flokulator secara pneumatic misalnya, dirancang dengan cara mensuplai udara ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi. Jenis flokulator ini jarang sekali kita temukan saat ini, tetapi yang paling sering adalah flokulator secara mekanis. Flokulator secara mekanis paling banyak kita jumpai saat ini, bentuk serta desainnyapun bermacam-macam. Prinsip kerja jenis flokulator ini adalah dengan cara pengadukan (mixing), karena bentuknya yang bermacam-macam inilah maka bentuk ini sangat familiar bagi seorang engineer. bentuk dibandingkan dengan 2 jenis flokulator di atas, maka jenis flokulator ini jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai sekarang ini.

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. lanjutan Herni:

    PGA sebagai Bioflokulan Logam Berat

    Mekanisme pengikatan ion-ion logam berat oleh PGA dapat melalui dua cara, yaitu:

    1. Pengikatan secara kimia
    Logam berat di dalam air dengan cepat akan terlarut dengan membentuk ion-ion positif dan membentuk senyawa-senyawa dengan anion seperti karbonat, sulfat, dan sulfida. PGA merupakan senyawa yang dapat larut dalam air dengan membentuk anion. PGA mempunyai afinitas yang tinggi terhadap ion-ion logam, sehingga mampu menggantikan posisi anion atau ligan yang mengikat logam berat. Reaksi PGA dengan ion logam berat akan membentuk molekul yang besar yang mudah untuk diendapkan (flok). Proses pembentukan flok-flok yang kemudian diikuti dengan proses pengendapan dapat dipercepat dengan pengadukan.

    2.Pengikatan secara fisika
    PGA merupakan polielektrolit anionik. Suatu polielektrolit anionik mampu mengadsorpsi ion-ion logam berat di dalam air dan membentuk suatu jembatan. Jembatan terbentuk apabila dua atau lebih ion logam teradsorbsi sepanjang rantai polimer. Jembatan-jembatan tersebut akan terjalin pada saat proses flokulasi, yaitu saat pengadukan. Ukuran jembatan-jembatan yang terjalin ini akan terus bertambah sampai dengan mudah dapat dipindahkan

    BalasHapus
  25. NAMA :CANDRA INDRY ANY
    KELAS :XI.KI1/16

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Adlh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. Contohnya, dari serbuk menjadi butir-butir kecil dan dari butir-butir kecil menjadi tablet dsb.
    Proses pembesaran dpt diklasifikasikan sbb,
    1. Flokulasi,
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak akibat muatan elektrostatis yang sama, dan juga tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel tsb baru dpt disaring/diendapkan bila bila beberapa partikel bergabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan ini yang disebut flokulasi.
    Flokulasi dpt terjadi dengan penambahan:
    -zat aktif permukaan, dapat mengurangi tegangan permukaan
    -elektrolit, untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah pH

    2. Fusi,
    Adalah Proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi Alat nodulasi atau aglomerisasi semacam kiln berputar,yaitu semacam silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. Pengompakan
    a. Briket,
    Yaitu suatu bentuk tertentu yang dibuat dgn mengompakkan granule menjadi satu . Dalam pembuatan briket granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu.
    Campuran partikel-partikel itu kemudian dipres dalam cetakanyang bentuknya tertentu,dalam proses mencetak ini perlu ditambahkan pelincir agar tidak menempel pada cetakan.

    b. Pelet,
    Yaitu,dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.

    c. Tablet,
    prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan” yg berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres.alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dapat bergerak seperti plunyer,gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan.
    Pembuatan tablet juga dapat dilakukan secara kontinyu,yaitu dengan membuat lubang-lubang cetak itu pada keeping silinder. Keping silinder ini kemudian diputar oleh sbuah motor,sehingga lubang-lubang itu turut berputar.

    d. Granulasi,
    Granulasi adalah butir-butir yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator ialah suatu gilingan yg terdiri dr batang” horizontal yg membentuk silinder dan bergerak bolak balik

    Tujuan granulasi adalah:
    - Mempersiapkanbenda untukproses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan.
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu.
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.

    Beberapa cara untuk membuat granule :
    # Menggunakan zat perekat, untuk serbuk-serbuk yang daya rekatnya kurang
    # Melalui briket,
    # Dengan pengering pancar,
    #Dengan proses Spheronizing.

    BalasHapus
  26. NAMA :CANDRA INDRY ANY
    KELAS :XI.KI 1/16
    TUGAS 2

    SISTEM INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
    PADA INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN BANDENG

    Sistem budidaya merupakan salah satu metoda budidaya perikanan yang sangat penting. Salah satu hewan budidaya tersebut adalah ikan bandeng (Chanos chanos ) yang banyak dibudidayakan dengan sistem seminitensif. Budidaya semi insentif ini mensyaratkan penggunaan berbagai bahan kimia sehingga menimbulkan berbagai pencemaran pada lingkungan tambak dan lingkungan perairan di sekitar tambak.
    Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan buangan limbah dari budidaya ikan bandeng. IPAL ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem fisika dan biologis. Sistem Fisika digunakan untuk memisahkan sedimen buangan air limbah sehingga didapatkan air yang mempunyai tingkat sedime yang lebih rendah. Sistem biologis dilakukan dengan aplikasi mikroorganisme pada kolam pengendapan dan keberadaan biofilter.
    Hasil akhir dari IPAL adalah pengurangan residu kimia limbah budidaya dan kualitas perairan tambak yang lebih baik.
    1.1. KLASIFIKASI IKAN BANDENG (Chanos chanos)
    Bandeng (Latin: Chanos chanos atau bahasa Inggris: milkfish) adalah sebuah ikan yang merupakan makanan penting di Asia Tenggara. Ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam familia Chanidae (kurang lebih tujuh spesies punah dalam lima genus tambahan dilaporkan pernah ada). Mereka hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik, mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 - 3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-danau. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak.
    Karakter diagnostik: Jari-jari sirip punggung 13-17; jari-jari sirip dubur 8-11; jari-jari sirip dada 15-17; jari-jari sirip perut 10-12; sisik garis rusuk 75-91. Sirip ekor sangat cagak. Warna: Badan berwarna perak dengan hijau kebiruan di bagian belakang. Keterangan: Terdapat di terumbu karang, inner reefs, hutan bakau, sungai, laut atau daerah payau; memakan terutama algae benthik, kadang-kadang phytoplankton. Panjang baku maksimum 1.8 m. Distribusi: Daerah tropis Laut Hindia dan Pasifik, dari Afrika Timur sampai California bagian selatan dan Peru, ke utara sampai Jepang bagian selatan dan ke selatan sampai Kaledonia Baru. Usaha budidaya bandeng merupakan usaha budidaya semiintensif, artinya sistem yang bertujuan menghasilkan ikan bandeng dengan jumlah besar luasan lahan yang sedikit. Ini mengakibatkan budidaya bandeng mensyaratkan penggunaan bahan additive bahan kimia. Selain itu, pencemaran ynag bnyak terjadi pada lingkungan menyebabkan penggunaan bahan kimia menjadi semacam keharusan pada usaha budidaya tambak. Dalam suatu petunjuk pembudidayaan ikan bandeng tersirat hal ini (http://teknis-budidaya.blogspot.com/). Penggunaan bahan kimia berjenis TON dibutuhkan untuk mengatasi kualitas perairan tambak yang menurun. TON juga digunakan untuk memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Keberadaan bahan kimia in mengisyaratkan pentingnya suatu sistem pengolahan air limbah terhadap bahan buangan limbah akibat budidaya bandeng.

    BalasHapus
  27. lanjutan

    1.2. PENGOLAHAN AIR LIMBAH

    Pengolahan air limbah merupakan suatu metode dalam rangka mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat adanya limbah yang banyak dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia.
    1.2.1. KARAKTERISTIK LIMBAH
    Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. Karakteristik limbah:

    BalasHapus
  28. lanjutan

    Berukuran mikro, Dinamis, Berdampak luas (penyebarannya) dan Berdampak jangka panjang (antar generasi). Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah: Volume limbah, Kandungan bahan pencemar dan Frekuensi pembuangan limbah. Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian Limbah cair, Limbah padat, Limbah gas dan partikel dan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi pengolahan menurut tingkatan perlakuan dan pengolahan menurut karakteristik limbah. Limbah inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pada suatu perairan, seperti juga hal yang sering terjadi pada industri pengolahan bandeng yang ssering melakukan pencemaran di perairan pantai suatu pencemaran dapat di indikasi dengan berbagai faktor. Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian. 1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam.
    2. Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa
    3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidsar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangibahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD. Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari : Bahan buangan padat Bahan buangan organik Bahan buangan anorganik

    BalasHapus
  29. lanjutan

    Proses Konversi Biologis
    Proses biologis seringkali dipilih karena hasil keluaran (output) dari proses ini menghasilkan bahan yang relatif aman dan aman unutk lingkungan.
    (a) Proses Degradasi Limbah Sistem Degradasi Aerobik
    Proses degradasi dengan cara ini biasanya menggunakan bantuan mikrobiologi. Proses ini terjadi ketika bahan limbah dari proses pengolahan ikan bandeng digunakan mikrobe sebagai bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya.
    Menurut cara dekomposisinya, proses biologis dapat dibagi menjadi tiga jenis: dekomposisi arobik, anaerobik dan fermentasi. Dalam suatu usaha bandeng, sistem yang dapat diambil adalah pada sistem aerobik. Sistem ini menggunakan bahan bantuan mikroorganisme dan membutuhkan oksigen.
    Proses ini mempunyai hasil akhir berupa karbondioksida, air dan sel bakteri hasil pertumnuhan. Pada industri pengolahan ikan bandeng, cara ini dapat digunakan karena cenderung memerlukan bahan dan peralatan yang relatif murah dan mudah didapatkan. Dalam aplikasinya, pengusaha hanya memerlukan suatu tempat semacam kubangan terbuka untuk menampung limbah, kemudia dengan menambahkan bakteri yang akan memproses limbah sehingga dapat terdekomposisi. Titik lemah dari sistem ini bahwa cara ini hanya bisa digunakan pada suatu limbah dengan kadar BOD kurang dari 500 mg/l. Tentunya ini membutuhkan ruang pengolahan yang lebih besar. Selain itu, karena proses ini memerlukan oksigen dalam reaksi kimianya, maka pengusaha perlu menggunakan aerasi dalam bak penampungan.

    Selain membantu kebutuhan oksigen bandeng, aerator juga membantu proses dekomposisi aerobik.

    (b) Sistem Biofilter
    Sistem biofilter adalah sistem pemisahan fraksi suatu larutan dari zat pencemar dengan menggunkan agensie biologi. Sistem ini dapat mengurangi kadar polutan dari air limbah tambak dengan. Pemilihan sistem ini sendiri adalah bahan yang mudah diperoleh dan mudah diaplikasi pada sistem tambak seperti rumput laut, kerang atau oyster. Biofilter ditempatkan dibelakang sistem fisika filtrasi.

    BalasHapus
  30. NAMA : KAMILUDDIN

    KELAS : XI KI 2 /O6


    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar.
    Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    1.Flokulasi (Flocculation)
    Adalah partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan dan tidak dapat disaring/ diendapkan secara biasa. Partikel zat tersebut tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis sama. Dan tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel itu baru bisa disaring/ diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu ukurannya menjadi besar. Penggabungan tsb disebut FLOKULASI
    Urutan proses penggunaan flokulasi:
    a.Pencampuran
    b.Flokulasi
    c.Sedimentasi/ penyaringan

    2. Fusi,
    Adalah Proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi Alat nodulasi atau aglomerisasi semacam kiln berputar,yaitu semacam silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. Pengompakan
    1 briket adlh suatu bentuk tertentu yg dibuat dg mengompakkan grenule mjd satu
    campuran partikek2 itu kmudian di pres dlm cetakan yg bntuknya tertentu.dlm prosesnya ditambhkan pelincir(lubricant)agar tdk menempel pd cetakan.sperti talk,waxdll
    2 pelet dibuat dg menekan bahn 2 itu dlm cetakan yg berlubang kmudian bahn yg keluar lubang2 tadi dipotong shngga trjadi bentuk pelet
    3 tablet prinsipnya pembuatannya yaitu mengisikan bahn2 yg berbntuk serbuk kdalm ctakan kemudian dipres
    kmudian dipres. Urutan proses pembuatannya sbg brkut:
    1. Mula2 bahan diisi dgn bahn pembuat tablet
    2. Kmudian ditekan dgn penekan P
    3. Penekan dilepas & dasar D ditekan keatas shg tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar taip2 lubang menjalani proses seperti diatas yaitu :
    1. Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi]
    2. Lubang itu beroutar melalui perata
    3. Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    4. Penekan teangkat & dasarnya mendorong tablet keatas
    5. Tablet yang telah berada daitas keping dg pisau penggaruk digesr kepinggir,demikian seterusnya.
    4 granulasi adalh butir2 kecil yang mempunyai ukuran & bentuk tertentu . biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda2 untuk proses selanjutnya misalnya pembuatan pelet/tablet, untuk katalisator
    2. Untuk memudahkan transporatsi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sbg debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    cara pembuatan grenule sbg berikut :
    1. Menggunakan zat perekat : cara ini terutama dipakai untuk serbuk2 yang daya ikatnya kurang bagi zat pelarut dalam air dapat ditaambahkan dengan air. Bila pelarut punya daya pelarut cukak besar biasanya dicampur dengan pelarut lain. Beberapa zat yang sering dipakai sbg zat perekat antara lain gula,gelatin, dextrin aci,melase,dsb. Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang2 horisontal yang membentuk silinder & bergerak bolak-balik. Dibawahnya dilengkapi dengan ayakan.
    2. Melalui Briket : pada cara ini serbuk setelah dibahasi dg kadar tertentu dijadikan briket.
    3. Dengan pengering pancar (spray dryer) : pada cara ini serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan proses sphronizing : pada cara ini tdk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Serbuk yang akan dijadikan grenule diaduk dg car mekanis dg arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  31. NAMA : KAMILUDDIN
    KELAS : XI KI 2 /O6
    PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADA INDUSTRI IKAN
    Pengolahan air limbah merupakan suatu metode dalam rangka mengurangi dampak pencemaran lingkungan akibat adanya limbah yang banyak dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia.
    Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah. Karakteristik limbah: Berukuran mikro, Dinamis, Berdampak luas (penyebarannya) dan Berdampak jangka panjang (antar generasi). Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah: Volume limbah, Kandungan bahan pencemar dan Frekuensi pembuangan limbah. Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian Limbah cair, Limbah padat, Limbah gas dan partikel dan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi pengolahan menurut tingkatan perlakuan dan pengolahan menurut karakteristik limbah. Limbah inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Pada suatu perairan, seperti juga hal yang sering terjadi pada industri pengolahan bandeng yang ssering melakukan pencemaran di perairan pantai suatu pencemaran dapat di indikasi dengan berbagai faktor. Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian. 1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam. 2. Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa. 3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidsar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangibahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD. Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari : Bahan buangan padat Bahan buangan organik Bahan buangan anorganik

    BalasHapus
  32. NAMA : KAMILUDDIN
    KELAS : XI KI 2 /O6
    TATA CARA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
    Secara garis besar sistem pengolahan air limbah terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengolahan pendahuluan (pre treatment), pengolahan pertama (primary treatment), pengolahan sekunder (secondary treatment), pengolahan tersier (tersiary treatment), pembunuhan kuman dan pengolahan lanjutan.
    1. Pengolahan Pendahuluan (pretreatment)
    Sebelum mengalami proses pengolahan perlu dilakukan pembersihan-pembersihan untuk memperlancar proses berikutnya. Kegiatan berupa pengambilan benda terapung dan pengambilan benda yang mengendap seperti pasir. Pengolahan pendahuluan dIgunakan untuk memisahkan padatan kasar, mengurangi ukuran padatan, memisahkan minyak atau lemak, dan proses menyetarakan fluktuasi air limbah pada bak penampung. Unit yang terdapat dalam pengolahan pendahuluan adalah:
    2. Pengolahan Pertama (primary treatment)
    Pengolahan tahap pertama digunakan untuk mengurangi kandungan padatan tersuspensi melalui proses pengendapan (sedimentation). Pada proses pengendapan, partikel padat dibiarkan mengendap ke dasar tangki. Bahan kimia biasanya ditambahkan untuk menetralisasi dan meningkatkan kemampuan pengurangan padatan tersuspensi. Dalam unit ini, pengurangan BOD dapat mencapai 35 5, sedangkan SS berkurang sampai 60 %. Pengurangan BOD dan padatan pada tahap awal ini selanjutnya akan membantu mengurangi beban pengolahan tahap kedua (secondary treatment).
    3. Pengolahan Kedua (secondary treatment)
    Pada umunya mencakup proses biologis, denagn tujuan untuk mengurangi bahan organik melaluio mikroorganisme yang ada didalamnya. Dalam pengolahan kedua banyak digunakan beberapa metoda seperti lumpur aktif (activated sludge), lempeng biologi berputar, trickling filter, parit oksidasi, kolam oksidasi dan laguna aerasi. Tapi metoda yang paling sering digunakan adalah lumpur aktif (activated sludge) karena metoda pengolahan ini mempunayai beberapa kelebihan yaitu tidak memerlukan lahan yang luas, effluen hasil perlakuan mempunyai kualitas lebih tinggi dengan penurunan BOD sekitar 90-95 %, tidak timbul bau yang mengganggu.
    4. Pengolahan Ketiga (tersiary treatment)
    Menurut Haryoto Kusnoputranto (1984, hlm.37) dalam Soeparman dan Suparmin (2001), terdapat tiga jenis kolam yang digunakan, yaitu:
    a. Kolam pengolahan pendahuluan secara anaerobik (Anaerobic pretretment ponds)
    Kolam anaerobik beroperasi pada beban organik yang tinngi sebagai unit pertama dari sistem kolam dan pencapaian pengurangan zat organik semata-mata karena proses anaerobik. Fungsi kolam ini mirip dengan septic tank terbuka. Periode tinggal adalah 1-5 hari dengan kedalam antara 2-4 meter. Desain beban kolam berkisar antara 100-400 gram BOD/m2/hari, umumnya 250 gram BOD/m2/hari digunakan pada suhu diatas 200C.

    BalasHapus
  33. lanjutan
    2. Kolam fakultatif (Facultative ponds)
    Kolam fakultatif dioperasikan pada beban organik yang lebih rendah sehingga memungkinkan pertumbuhan algae pada lapisan atas kolam. Kolam fakultatif dapat digunakan sebagai unit pertama atau kedua dari suatu rangkaian kolam. Kolam ini memerlukan oksigen untuk oksidasi biologis dari bahan-bahan organik, terutama di dapat dari hasil fotosintesis ganggang hijau. Periode tinggalnya (retention time) berkisar antara 5-30 hari, dengan kedalaman 1-1,5 meter. Desain beban kolam umumnya 100-400 kg BOD/ha/hari, tergantung pada suhu kolam.
    2. Kolam pematangan (Maturation ponds)
    Kolam pematangan yang dibuat kolam fakultatif adalah kolam yang mengolah limbah cair, terutama secara aerobik karena sebagian zat organik telah terambil pada unit-unit anaerobik dan fakultatif, sehingga beban organik pada kolam pematangan menjadi rendah. kolam pematangan menerima effluen yang berasal dari kolam fakultatif dan bertanggung jawab terhadap kualitas dari effluen akhir. Periode tinggal berkisar antara 5-10 hari dengan kedalam kurang lebih 1,5 meter. Umumnya, kolam ini didesain untuk pengurangan koliform yang berasal dari tinja daripada untuk pengurangan BOD. Sejumlah besar koliform akan dapat dihilangkan dalam waktu penahanan sekitar 5 hari.
    5. Pembunuhan kuman (disinfektion)
    Pengolahan ini bertujuan untuk mengurangi atau membunuh mikroorganisme patogen yang ada dalam air limbah. Mekanisme pembunuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi zat pembunuhnya dan mikroorganisme itu sendiri. Dalam memilih bahan kimia yang perlu diperhatikan adalah :
    6. Pengolahan lanjutan (ultimate disposal)
    Beberapa proses yang sering digunakan pada tahap ini diantaranya adalah sebagai berikut :
    1. Proses pemekatan
    2. Proses penstabilan
    3. Proses pengaturan
    4. Proses pengurangan air
    5. Proses pengeringan
    6. Proses pembuangan

    BalasHapus
  34. Nama : ika mardiana
    Kelas : XI KI 2 / 2


    Sistem Pengolahan Air Limbah

    Sistem pengolahan air limbah, menggunakan system pengolahan secara fisika-biologis. Dalam hal ini tanpa menggunakan atau menambahkan bahan kimia. Pembuangan air limbah industri (waste water disposal) dialirkan melalui pipa dari pabrik ke saluran pipa bawah tanah yang dipasang sepanjang jalan di depan kavling pabrik, volume limbah yang masuk 7000-8000 m3/hari dari 350 industri.

    Pengolahan pertama yang dilakukan yaitu proses pengendapan yang terjadi secara gravitasi pada bak equalisasi atau sumur pengumpul dengan ketinggian 9 meter dari permukaan tanah dan diameter 5 meter. Proses ini disebut primary treatment dengan tujuan untuk mengurangi jumlah padatan. Dalam proses ini diperkirakan penurunan BOD-COD 20-45 % dan padatan 50-60 % dengan waktu tinggal 2-5 jam. Kemudian dialirkan masuk ke dalam kolam oksidasi disebut pengolahan kedua. Proses biologis yang terjadi bertujuan untuk mengurangi bahan-bahan organik melalui mikroorganisme yang ada di dalamnya. Pada proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain jumlah air limbah, tingkat kekotoran dan jenis kotoran yang ada.

    Proses penambahan oksigen

    Penambahan oksigen adalah salah salah satu usaha pengambilan zat pencemar dalam limbah sehingga konsentrasi zat pencemar akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali. Zat yang dapat diambil berupa gas, cairan, ion, koloid atau bahan tercampur.

    Proses Pertumbuhan Bakteri

    Bakteri diperlukan untuk mengurangi bahan organik yang ada dalam air limbah. Oleh karena itu, diperlukan jumlah bakteri yang cukup untuk menguraikan bahan-bahan tersebut. Bakteri ini akan berkembang biak apabila jumlah makanan yang terkandung di dalamnya cukup tersedia, sehingga pertumbuhan bakteri dapat dipertahankan secara konstan. Pada proses ini dilakukan penambahan lumpur yang baru sehingga pengolahan air limbah dapat terus berlangsung. Lumpur yang biasanya dipergunakan untuk penambahan makanan ini disebut lumpur aktif dimana pemberiannya dilakukan sebelum memasuki bak aerasi dengan mengambil lumpur dari bak pengendapan kedua atau bak pengendapan lumpur terakhir.

    Pada bak oksidasi ini dengan panjang 40 meter, lebar 10 meter dan tinggi 3 meter, dengan waktu tinggal 16-24 jam. Dengan demikian penurunan kadar BOD-COD 90-95 % kadar mercurinya < 0,1 ppm. Kemudian ke bak pembagi lumpur dengan waktu tinggal 4-5 jam. Kemudian ke bak indicator untuk mengetahui mutu dan kualitas hasil pengolahan limbah.

    Hasil dari pengolahan air limbah ini dapat berupa air dan Lumpur. Lumpur ini akan dikembalikan ke ()xydation Ditch sebagai Lumpur aktif yang diperlukan untuk proses biologis. Sedangkan air dari hasil proses yang telah memenuhi standar mutu air limbah, akan dialirkan melalui pipa dengan menggunakan sistem Drainage yang terletak di tiap kavling industri ke kali.

    Kelebihan dan Kekurangan IPAL

    Dalam sistem IPAL memiliki kelebihan dari segi pengolahan yang dilakukan dengan proses fisika-biologi. Sistem ini tidak membutuhkan biaya operasional yang mahal karena pengolahannya terjadi secara alami dengan menggunakan bakteri dan gerak gravitasi dan hasil pengolahannya pun tidak membahayakan lingkungan karena dalam pengolahannya tidak menggunakan bahan kimia. Namum kekurangannya yaitu masih menimbulkan bau pada bak penampungan awal ini terjadi karena belum terjadi pengolahan.

    BalasHapus
  35. NAMA : FITRIATUL JANNAH
    KELAS : XI KI 1
    NO ABSEN : 32

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklarifikasi menjadi 3 yaitu :
    Flokulasi (flocculation)
    Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    Pengompakan (compacting) : Briket, Pelet, Tablet, Granulasi

    FLOKULASI
    Adalah suatu penggabungan antara partikel – partikel yang kecil sehingga ukuran menjadi lebih besar. Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface – active agents) atau elektrolit yang berfungsi untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah PH. Dengan demikian, maka partikel – partikel dapat bergabung satu sama lain. Beberapa contoh flokulasi dalam industry antara lain :
    1. Penambahan ion Al3+ atau Fe3+ pada pembersihan air
    2. Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    3. Pengendapan latex dengan penambahan elektrolit
    4. Penambahan HCl untuk memflokulasikan tanah liat
    Jadi, urutan pada proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi atau penyaringan
    Oleh karena itu, alat flokulasi disebut flokulator yang berbentuk seperti alat sendimentasi (Thickener).

    FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara pertikel – partikel kecil sehingga sebagian menjadi air. Bila proses pencairan itu sangat cepat, maka disebut Nodulasi, sedangkan bila prosesnya sangat lambat, maka disebut Aglomerisasi. Alat Nodulasi atau Aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    PENGOMPAKAN
    • BRIKET
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan pengompakan granule menjadi satu.
    • PELET
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan – bahan itu dalam cetakan yang berlubang – lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang – lubang tadi dipotong, sehingga terjadilah bentuk pellet.
    • TABLET
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan – bahan yang berbentuk serbuk kedalm cetakan, kemudian diproses. Alat pembuat ini berbentuk silinder yang dasarnyadapat bergerak seperti plunyer yang berfungsi untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    Urutan prosesnya yaitu :
    - Cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Tekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    • GRANULASI
    Ialah butir – butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukan yaitu :
    - Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu
    - Mengurangi luas permukaan dari puder
    Ada beberapa cara untuk membuat granule yaitu :
    1. Menggunakan zat perekat
    Cara ini digunakan untuk serbuk – serbuk yang mempunyai daya rekat kurang. Karena itu, perlu ditambahkan perekat. Contoh zat perekat yaitu air, gula, gelatin, dextrin aci, melase, dll.
    2. Melalui Briket
    Pada cara ini, serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket, kemudian digiling dan diayak.
    3. Dengan Pengering Pancar
    Dengan cara ini, serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan yang memerlukan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan cara yang lainnya.
    4. Dengan Proses Spheronizing
    Cara ini tidak diberi zat tambahan apapun. Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horizontal. Hasil cara ini kurang kuat, sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.
    Granulator adalah suatun gilingan yang terdiri dari batang – batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak – balik. Dibawahnya dilengkapi ayakan dengan ukuran (mesh) tertentu. Bahan – bahan dalam granulator tersebut ditekan oleh batang – batang tadi kedasar ayakan dan keluar dari bawah sebagai granule.

    BalasHapus
  36. NAMA : FITRIATUL JANNAH
    KELAS : XI KI 1
    NO ABSEN : 32

    TUGAS 2

    PROSES FLOKULASI PADA IPAL

    Koagulasi adalah destabilisasi koloid dengan cara menetralisir kekuatan yang menjaga mereka selain menyediakan. Kationik koagulan muatan listrik positif untuk mengurangi muatan negatif (potensial zeta) dari koloid. Akibatnya, partikel-partikel bertumbukan untuk membentuk partikel yang lebih besar (flocs). Rapid pencampuran yang dibutuhkan untuk membubarkan koagulan sepanjang cairan. Perawatan harus diambil untuk tidak overdosis koagulan karena hal ini dapat menyebabkan biaya lengkap pembalikan dan restabilize kompleks koloid.
    Dalam operasi pengolahan air limbah, proses koagulasi dan flokulasi bekerja untuk memisahkan padatan tersuspensi dari air. Meskipun istilah koagulasi dan flokulasi sering digunakan secara bergantian, atau istilah tunggal "flokulasi" digunakan untuk menjelaskan keduanya; mereka, pada kenyataannya, dua proses yang berbeda. Mengetahui perbedaan mereka dapat menyebabkan pemahaman yang lebih baik dari klarifikasi dan operasi pengolahan limbah dewatering.
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi proses koagulasi dan flokulasi yang optimum untuk proses pengolahan limbah cair dewatering bagasse sehingga dapat mengurangi beban proses pengolahan limbah cair pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
    Padatan terdispersi halus (koloid) dibekukan dalam limbah cair yang distabilkan oleh muatan listrik negatif pada permukaan mereka, membuat mereka saling tolak. Karena ini mencegah partikel bermuatan ini dari bertabrakan dengan bentuk massa yang lebih besar, yang disebut flocs, mereka tidak menetap Untuk membantu penghilangan partikel koloid dari suspensi, koagulasi kimia dan flokulasi dibutuhkan. ini proses, biasanya dilakukan secara berurutan, adalah kombinasi dari prosedur dan kimia fisik. Bahan kimia yang dicampur dengan air limbah untuk mempromosikan agregasi dari padatan tersuspensi menjadi partikel-partikel yang cukup besar untuk menyelesaikan atau dihapus dan mengikat partikel ke aglomerasasi besar atau gumpalan terjadi. Bridging ketika menyerap segmen dari rantai polimer pada partikel yang berbeda dan membantu partikel agregat. Sebuah flocculant anionik akan bereaksi terhadap dibebankan suspensi positif, menyerap pada partikel dan menyebabkan destabilisasi baik oleh menjembatani atau mengisi netralisasi. Dalam proses ini sangat penting bahwa agen flokulasi ditambah dengan lambat dan lembut pencampuran untuk memungkinkan kontak antara flocs kecil dan menggumpal menjadi partikel yang lebih besar. diaglomerasi partikel yang baru dibentuk sangat rapuh dan dapat dipisah-pisahkan oleh geser pasukan selama pencampuran. Perawatan juga harus diambil untuk tidak overdosis polimer sebagai hal tersebut akan menyebabkan penyelesaian / klarifikasi masalah Surfaktan Anionik polimer. sendiri lebih ringan daripada air. Akibatnya, meningkatkan dosis akan meningkatkan kecenderungan flok mengapung dan tidak menetap.
    . Setelah partikel yang flocculated menjadi partikel yang lebih besar, mereka biasanya dapat dihapus dari cairan oleh sedimentasi, dengan syarat bahwa perbedaan kerapatan cukup ada antara padatan tersuspensi dan partikel-partikel cair. Semacam itu juga dapat dihapus atau dipisahkan oleh media filtrasi, berusaha atau pengapungan ,. Ketika proses penyaringan digunakan penambahan flocculant mungkin tidak diperlukan sejak partikel dibentuk oleh reaksi koagulasi mungkin ukuran yang memadai untuk memungkinkan penghapusan. flokulasi Reaksi tidak hanya meningkatkan ukuran partikel flok untuk menyelesaikan mereka lebih cepat , tetapi juga mempengaruhi sifat fisik flok, sehingga partikel ini kurang gelatin dan dengan demikian lebih mudah untuk dewater.

    BalasHapus
  37. NAMA : ADI CAHYONO
    KELAS : XI KI 1
    NO. ABSEN : 02

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran {size enlargement } adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    A. FLOKULASI
    Adalah suatu proses penggabungan partikel beberapa partikel menjadi satu sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring/diendapkan. Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan {surface – active agents} atau elektrolit untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah PH. Dengan maka partikel – partikel dapat bergabung satu sama lain. Beberapa contoh flokulasi dalam industri yaitu :
    - Penambahan ion Al3+ atau Fe3+ pada pembersihan air
    - Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    - Pengendapan latex dengan penambahan elektrolit
    - Penambahan HCl untuk memflokulasikan tanah liat
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi atau penyaringan
    Oleh karena itu, alat flokulasi disebut dengan flokulator yang bentuknya seperti alat sedimentasi {Thickener}.
    B. FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel – partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan sangat cepat, maka disebut Nodulasi sedangkan bila proses sangat lambat disebut Aglomerisasi. Alat Nodulasi atau Aglomerisasi adalah semacam kiln berputar {rotary kiln} yaitu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    C. BRIKET
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu.
    D. PELET
    Pembuatan pelet dibuat dilakukan dengan menekan bahan – bahan itu dalam cetakan yang berlubang – lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang – lubang tadi dipotong sehingga terjadi bentuk pelet.
    E. TABLET
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan - bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer yang berfungsi untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu. Urutan proses pembuatannya sebagai berikut :
    1. Cetakan bahan diisi dengan bahan pembuat tablet
    2. Tekan dengan penekan P
    3. Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas sehingga tablet keluar keatas

    F. GRANULASI
    Adalah butir – butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu, biasanya dibentuk dari serbuk. Tujuan pembentukannya yaitu :
    - Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu
    - Mengurangi luas permukaan dari puder
    Ada beberapa cara pembuatan granule sebagai berikut :
    1. Menggunakan zat perekat
    Cara ini terutama dipakai untuk serbuk – serbuk yang daya rekatnya kurang. Beberapa zat yang sering dipakai sebagai zat perekat antara lain air, gula, gelatin, dextrin aci, melase, dsb.

    2. Melalui Briket
    Pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket. Kemudian digiling dan diayak.
    3. Dengan Pengering Pancar {spray dryer}
    Dengan cara ini serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan. Disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan Proses Spheronizing
    Pada cara ini tidak diberi zat tambahan apapun. Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang – batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak – balik. Dibawahnya dilengkapi ayakan yang ukuran {mesh} tertentu. Bahan – bahan dalam granulator tersebut ditekan oleh batang – batang tadi kedasar ayakan dari bawah sebagai granule.

    BalasHapus
  38. NAMA : ADI CAHYONO
    KELAS : XI KI 1
    NO. ABSEN : 02

    TUGAS 2

    PROSES FLOKULASI PADA IPAL

    Sistem pengolahan air limbah, menggunakan system pengolahan secara fisika-biologis. Dalam hal ini tanpa menggunakan atau menambahkan bahan kimia. Pembuangan air limbah industri (waste water disposal) dialirkan melalui pipa dari pabrik ke saluran pipa bawah tanah yang dipasang sepanjang jalan di depan kavling pabrik, volume limbah yang masuk 7000-8000 m3/hari dari 350 industri.

    Pengolahan pertama yang dilakukan yaitu proses pengendapan yang terjadi secara gravitasi pada bak equalisasi atau sumur pengumpul dengan ketinggian 9 meter dari permukaan tanah dan diameter 5 meter. Proses ini disebut primary treatment dengan tujuan untuk mengurangi jumlah padatan. Dalam proses ini diperkirakan penurunan BOD-COD 20-45 % dan padatan 50-60 % dengan waktu tinggal 2-5 jam. Kemudian dialirkan masuk ke dalam kolam oksidasi disebut pengolahan kedua. Proses biologis yang terjadi bertujuan untuk mengurangi bahan-bahan organik melalui mikroorganisme yang ada di dalamnya. Pada proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain jumlah air limbah, tingkat kekotoran dan jenis kotoran yang ada.

    Proses penambahan oksigen

    Penambahan oksigen adalah salah salah satu usaha pengambilan zat pencemar dalam limbah sehingga konsentrasi zat pencemar akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali. Zat yang dapat diambil berupa gas, cairan, ion, koloid atau bahan tercampur.

    Proses Pertumbuhan Bakteri

    Bakteri diperlukan untuk mengurangi bahan organik yang ada dalam air limbah. Oleh karena itu, diperlukan jumlah bakteri yang cukup untuk menguraikan bahan-bahan tersebut. Bakteri ini akan berkembang biak apabila jumlah makanan yang terkandung di dalamnya cukup tersedia, sehingga pertumbuhan bakteri dapat dipertahankan secara konstan. Pada proses ini dilakukan penambahan lumpur yang baru sehingga pengolahan air limbah dapat terus berlangsung. Lumpur yang biasanya dipergunakan untuk penambahan makanan ini disebut lumpur aktif dimana pemberiannya dilakukan sebelum memasuki bak aerasi dengan mengambil lumpur dari bak pengendapan kedua atau bak pengendapan lumpur terakhir.

    Pada bak oksidasi ini dengan panjang 40 meter, lebar 10 meter dan tinggi 3 meter, dengan waktu tinggal 16-24 jam. Dengan demikian penurunan kadar BOD-COD 90-95 % kadar mercurinya < 0,1 ppm. Kemudian ke bak pembagi lumpur dengan waktu tinggal 4-5 jam. Kemudian ke bak indicator untuk mengetahui mutu dan kualitas hasil pengolahan limbah.

    Hasil dari pengolahan air limbah ini dapat berupa air dan Lumpur. Lumpur ini akan dikembalikan ke ()xydation Ditch sebagai Lumpur aktif yang diperlukan untuk proses biologis. Sedangkan air dari hasil proses yang telah memenuhi standar mutu air limbah, akan dialirkan melalui pipa dengan menggunakan sistem Drainage yang terletak di tiap kavling industri ke kali.

    BalasHapus
  39. Nama : Linda Purwanti
    Kelas : XI KI-2
    No.Absen : 07

    Tugas 2

    PRALAKUAN KOAGULASI DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR DENGAN MEMBRAN: PENGARUH WAKTU PENGADUKAN PELAN KOAGULAN ALUMINIUM SULFAT TERHADAP KINERJA MEMBRAN

    Air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar bagi kehidupan manusia. Air bersih yang
    memenuhi standar atau persyaratan kesehatan adalah air minum yang tidak berbau, berwarna dan berasa serta memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
    Proses membran, yang bekerja berdasarkan prinsip melewatkan sebagian material dan menahan sebagian
    material lainnya, merupakan pilihan proses yang menawarkan beberapa keuntungan, yaitu kebutuhan biaya operasi dan konsumsi energi yang relatif lebih rendah karena tidak terjadi perubahan fasa komponen yang
    membutuhkan energi yang besar, sehingga komponen-komponen yang sensitif terhadap panas tidak menjadi rusak. Selain itu proses membran umumnya tidak memerlukan bahan kimia, prosesnya sangat mudah, dan proses pemisahan dapat berlangsung lebih cepat.
    Salah satu membran yang biasanya digunakan dalam proses pengolahan air bersih adalah membran
    mikrofiltrasi, yang cocok untuk menahan suspensi dan emulsi, juga untuk memisahkan partikel (bakteri dan ragi). Selain itu, harga membran mikrofiltrasi lebih murah, juga membutuhkan tekanan operasi yang lebih kecil, yaitu kurang dari 2 bar, sehingga membutuhkan alat pendukung/utilitas yang lebih sedikit (Mulder, 1991).
    Kontras dengan kemampuannya memisahkan partikel, mikroba dan bakteri, membran mikrofiltrasi kurang efektif untuk memisahkan pengotor berupa koloid. Hal ini dikarenakan oleh sifat koloid yang stabil sehingga susah diendapkan, juga karena ukuran koloid umumnya lebih kecil dari pori membran mikrofiltrasi, yang dapat menimbulkan masalah fouling pada membran. Untuk mengatasi masalah ini maka proses mikrofiltrasi dalam pengolahan air bersih harus dipadukan dengan proses pralakuan yang salah satunya adalah koagulasi-flokulasi.
    Koagulasi adalah metode untuk menghilangkan bahan-bahan limbah dalam bentuk koloid, dengan
    menambahkan koagulan. Dengan koagulasi, partikel-partikel koloid akan saling menarik dan menggumpal membentuk flok (Suryadiputra, 1995).
    Flokulasi terjadi setelah koagulasi dan berupa pengadukan pelan pada air limbah. Dengan mengendapnya
    koloid, diharapkan laju fouling yang terjadi pada membran akan berkurang, sehingga penggunaan mikrofiltrasi dalam proses pengolahan air bersih menjadi layak untuk dilakukan.
    Koagulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alumunium sulfat (Al2(SO4)3). Dalam penelitian ini, dilakukan variasi waktu lamanya pengadukan pelan pada proses flokulasi.
    Parameter yang digunakan dalam mengukur kualitas air bersih sangat banyak, akan tetapi dalam
    penelitian ini parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air bersih adalah TDS (Total Dissolved Solid) dan COD (Chemical Oxygen Demand).

    BalasHapus
  40. Air yang digunakan sebagai air umpan untuk proses ini berasal dari danau UI, yang terletak di belakang
    Fakultas Teknik UI. Pengambilan air umpan dilakukan pada pukul 14.20 WIB. Air umpan ini memiliki derajat keasaman (pH) 7,3. Kandungan awal padatan terlarut (Total Dissolved Solid, TDS) pada air umpan berkisar antara 524-540 mg/L. Sedangkan kandungan zat organiknya (COD, Chemical Oxygen Demand) antara 45-54 mg/L.
    Membran yang digunakan dalam penelitian ini adalah membran mikrofiltrasi dengan polimer polipropilen
    sebagai bahan penyusunnya. Tekanan operasi yang digunakan adalah sebesar 10 cmHg ( ± 0,135 bar).
    Membran yang digunakan memiliki spesifikasi sebagai berikut :
    • Diproduksi oleh Memcor Australia, Pty
    • Material/jenismodul : polypropilene/hollow fibre
    • Diameter luar : 650.10-6 m
    • Diameter dalam : 390.10-6 m
    • Ukuran pori : 0,2 .10-6 m
    • Panjang aktif : 0,45 m
    • Ukuran modul :
    �� Panjang modul : 62 cm
    �� Diameterdalam: 0,5 inch
    �� Jumlah fiber membran /modul: 50
    Pada penelitian ini, proses koagulasi-flokulasi terdiri dari dua tahap besar, yaitu penambahan koagulan
    aluminium sulfat (Al2(SO4)3.18H2O) dan pengadukan campuran koagulan-air umpan, yang terdiri dari
    pengadukan cepat dan pengadukan pelan.

    Dosis koagulan aluminium sulfat (Al2(SO4)3 . 18 H2O) yang digunakan adalah sebesar 50 ppm, yang
    merupakan dosis optimum koagulan aluminium sulfat (Al2(SO4)3 . 18 H2O) yang sering digunakan dalam proses pengolahan air minum.
    Aluminium sulfat (Al2(SO4)3 . 18 H2O) ditambahkan sebanyak 1 gram ke dalam 20 liter air umpan awal
    yang berada dalam keadaan basa (pH 7,3).
    Pengadukan campuran dibagi menjadi dua berdasarkan kecepatan pengadukannya, yaitu pengadukan
    cepat, dengan kecepatan 120 rpm dan pengadukan pelan dengan kecepatan 40 rpm (Water Specialist
    Technologies, LLC).
    Pengadukan cepat dilakukan selama 2 menit yang dihitung semenjak penambahan koagulan. Pengadukan
    cepat ini bertujuan untuk menghasilkan dispersi yang seragam dari partikel-partikel koloid, dan untuk
    meningkatkan kesempatan partikel untuk kontak dan bertumbukan satu sama lain.
    Pengadukan pelan dilakukan dengan waktu pengadukan yang divariasikan, mulai dari 5, 10, 15, 20,
    hingga 25 menit, yang dimulai tepat setelah pengadukan cepat selesai. Pengadukan pelan ini bertujuan menggumpalkan partikel-partikel terkoagulasi berukuran mikro menjadi partikel-partikel flok yang lebih besar. Flok-flok ini kemudian akan beragregasi/ berkumpul dengan partikel-partikel tersuspensi lainnya (Duliman, 1998). Setelah pengadukan pelan selesai flok-flok yang terbentuk dibiarkan mengendap selama 30 menit. Setelah proses pralakuan koagulasi-flokulasi selesai, derajat keasaman (pH) air umpan mikrofiltrasi turun dari 7,3 menjadi 6,5. Selanjutnya air umpan jernih hasil koagulasi dialirkan ke reservoir kedua agar terpisah dari endapanendapan yang terbentuk. Air inilah yang kemudian akan diumpankan pada proses mikrofiltrasi oleh membrane

    BalasHapus
  41. Efektifitas Koagulasi
    Pada bagian ini dibahas efektifitas pralakuan koagulasi pada proses pengolahan air bersih. Aspek yang
    ditinjau adalah pengaruh variasi waktu pengadukan pelan koagulan terhadap efektifitas koagulasi, yang
    dinyatakan sebagai % penyisihan berdasarkan parameter TDS dan COD pada tiap variasi waktu.
    Efektifitas koagulasi berdasarkan TDS
    Efektifitas koagulasi berdasarkan TDS menyatakan persen penyisihan padatan terlarut (dissolved solid)
    akibat proses koagulasi.
    Pengadukan pelan akan memperpendek jarak antar partikel sehingga gaya tarik-menarik antar partikel
    menjadi lebih besar dan dominan dibandingkan gaya tolaknya, yang menghasilkan kontak dan tumbukan antar partikel yang lebih banyak dan lebih sering. Kontak inilah yang menggumpalkan partikel-partikel padat terlarut terkoagulasi berukuran mikro menjadi partikel-partikel flok yang lebih besar. Flok-flok ini kemudian akan beragregasi. Ketika pertumbuhan flok sudah cukup maksimal (massa, ukuran), flok-flok ini akan mengendap ke dasar reservoir, sehingga terbentuk dua lapisan pada reservoir, yaitu lapisan air jernih pada bagian atas reservoir dan lapisan endapan flok yang menyerupai lumpur pada dasar reservoir.
    Hal inilah yang membuat kandungan padatan terlarut setelah koagulasi, yang akan diumpankan pada
    proses mikrofiltrasi, menjadi lebih kecil daripada sebelum terjadi koagulasi. Pengurangan ini ditunjukkan dengan persentase efektifitas koagulasi pada tiap waktu pengadukan pelan yang divariasikan, yang berkisar antara 35- 45% dengan persentase efektifitas koagulasi tertinggi dihasilkan pada waktu pengadukan pelan 10 menit, yaitu 45%.
    Penambahan waktu pengadukan pelan akan menaikkan efektifitas koagulasi hingga dicapai waktu
    pengadukan pelan yang optimum, dimana pertumbuhan flok sudah mencapai titik maksimalnya. Fenomena ini menjelaskan kenaikan persentase efektifitas koagulasi sebesar 7% saat waktu pengadukan pelan dinaikkan dari 5 menit menjadi 10 menit. Waktu pengadukan pelan optimum akan menghasilkan jarak antar partikel yang paling dekat untuk menghasilkan kontak, tumbukan antar partikel paling sering terjadi dan akan dihasilkan flok dengan ukuran terbesar dan jumlah terbanyak, sehingga penurunan TDS maksimum, yang menghasilkan efektifitas koagulasi terbesar.

    BalasHapus
  42. Lanjutan
    Namun, saat ukuran partikel sudah maksimum dan cukup untuk mengendap (waktu pengadukan pelan optimum sudah tercapai), penambahan waktu pengadukan pelan tidak lagi memperbesar ukuran flok, karena flok sudah berada pada kondisi jenuh. Sebaliknya, penambahan waktu pengadukan akan meningkatkan kadar TDS (menurunkan persentase efektifitas koagulasi) karena flok-flok partikel terlarut yang sudah jenuh akan pecah. Flok-flok gumpalan besar terurai kembali menjadi partikel-partikel kecil yang sulit mengendap. Hal ini menurunkan efektifitas koagulasi terhadap pemisahan padatan terlarut. Hal inilah yang menyebabkan persentase efektifitas koagulasi berdasarkan TDS turun setiap 5 menit penambahan waktu pengadukan pelan dari waktu pengadukan 10 menit hingga 25 menit.
    Efektifitas Koagulasi Berdasarkan Penurunan COD
    COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan total oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
    mendegradasi senyawa-senyawa organik dan anorganik. Namun yang lebih banyak terdegradasi ialah senyawa organik. Jumlah oksigen ini ekuivalen dengan jumlah bahan organik yang terdapat di dalam sampel. Efektifitas koagulasi berdasarkan pengurangan COD menyatakan persen penyisihan senyawa-senyawa organik akibat proses koagulasi. Persentase efektifitas koagulasi terhadap penyisihan senyawa organic (penurunan COD) untuk tiap variasi waktu pengadukan pelan koagulan digrafikkan pada Gambar 4. Pada grafik di atas, terlihat bahwa persentase efektifitas koagulasi terhadap penurunan COD bervariasi
    antara 24-39%, dengan persentase efektifitas koagulasi terbesar dihasilkan pada waktu pengadukan pelan 10 menit, yaitu 39%. Terdapat kecenderungan yang sama pada pengaruh penambahan waktu pengadukan koagulan terhadap efektifitas koagulasi, antara penyisihan partikel padat terlarut dan penyisihan senyawa organik, yaitu persentase efektifitas koagulasi meningkat saat waktu pengadukan pelan koagulan dinaikkan dari 5 menit menjadi 10 menit dan kemudian terus turun setiap 5 menit penambahan waktu pengadukan dari waktu pengadukan pelan 10 menit 25 menit.
    Pada waktu pengadukan 20 menit, terjadi penurunan persentase efektifitas koagulasi yang lebih besar
    dibandingkan pada waktu lainnya. Hal ini dianalisis karena pada waktu pengadukan 20 menit inilah flok-flok organik pecah dengan hebatnya, sehingga kemungkinan hampir seluruh flok organik yang terbentuk terurai kembali menjadi partikel organik tunggal, sehingga dihasilkan air umpan setelah koagulasi yang paling keruh dibandingkan dengan yang dihasilkan dengan waktu-waktu pengadukan lainnya, yang menandakan terkonsentrasinya partikel organik dalam jumlah besar. Penambahan waktu pengadukan menjadi 25 menit tidak terlalu mempengaruhi persentase efektifitas koagulasi (persentase efektifitas koagulasi relatif konstan terhadap persentase efektifitas koagulasi pada waktu pengadukan 20 menit). Hal ini karena pada selang waktu 5 menit setelah flok pecah sempurna, tidak terjadi proses fisik maupun kimia apapun yang dihasilkan oleh pengadukan (Ravina, 1993).

    BalasHapus
  43. Kinerja Membran
    Pada bagian ini akan dibahas pengaruh waktu pengadukan pelan koagulan pada tahap koagulasi-flokulasi
    terhadap kinerja membran mikrofiltrasi. Parameter utama kinerja membran mikrofiltrasi yang dianalisis disini adalah fluks permeat dan persen rejeksi membran. Fluks permeat akan menurun seiring bertambahnya waktu ini dikarenakan semakin lama waktu operasi mikrofiltrasi, semakin banyak pengotoran fouling yang terjadi pada membran. Fouling ini semakin lama akan semakin meningkat, hingga menutup pori- pori membran, yang membuat kerja membran menjadi semakin berat dan menghasilkan penurunan jumlah permeat yang dihasilkan.
    Koagulasi dapat meningkatkan fluks permeat, karena dengan koagulasi, partikel-partikel berukuran koloid
    yang merupakan penyebab utama fouling pada membran akan membentuk flok yang memiliki ukuran partikel yang lebih besar, melebihi ukuran pori membran, sehingga tidak akan mampu memasuki pori membran, mengurangi fouling dan akhirnya meningkatkan fluks permeat. Selain itu, dengan semakin besarnya floc, filter cake yang terbentuk sebagai akibat dari fouling (penutupan pori membran oleh partikel, bakteri, alga, dan sebagainya) yang terjadi pada membran, akan memiliki porositas yang besar, sehingga permeabilitas dalam cake juga menjadi semakin besar, dan membuat air menjadi lebih mudah untuk menembus membran bila dibandingkan dengan fouling yang terjadi tanpa adanya pralakuan koagulasi, yang artinya akan meningkatkan fluks permeat. Selain itu, pralakuan koagulasi menurunkan beban penyaringan membran yang karena air yang diumpankan lebih jernih, karena sebagian partikel pengotor (berupa flok) telah terendapkan.

    BalasHapus
  44. NAMA :YENNI INDRAWATI
    KELAS :XI KI2/33

    PROSES PENGOLAHAN AIR BERSIH
    Dalam rangka upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses produksi pada pengolahan air bersih di PDAM, alternatif yang dapat dilakukan adalah mengurangi pemakaian bahan kimia koagulan tawas (A12S04) untuk menekan biaya produksi. Efektifitas proses reduksi kekeruhan air pada kualitas air baku dengan tingkat kekeruhan tidak terlalu tinggi, perlu ditunjang dengan penambahan zat koagulan pembantu yang antara lain dapat memanfaatkan lumpur alum, yaitu dengan cara diresirkulasikan ke dalam unit koagulasi-flokulasi. Penggunaaan kombinasi optimal dosis koagulan dan resirkulasi lumpur alum untuk mencapai reduksi kekeruhan maksimal, merupakan objek sasaran kajian dan anaUsa pada penelitian ini melalui aplikasi pendekatan metoda Programa Dinamis. Perhitungan rancangan biaya pada beberapa alternatif optimasi resirkulasi lumpur alum selanjutnya dikaji melalui Analisa Efektifitas-Biaya dengan prinsip-prinsip ekonomi teknik. Hasil kesimpulan dari analisa pada penelitian ini yang dapat di rekomendasikan kepada PDAM sebagai pengelola IPA, adalah bahwa kombinasi optimal untuk menghasilkan reduksi kekeruhan.maksimal adalah pada 20 % dari dosis koagulan tawas dan 80% dari resirkulasi lumpur alum. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa efisiensi pemakaian bahan kimia zat koagulan diikuti dengan adanya kebutuhan tambahan biaya operasi untuk energi daya listrik pompa resirkulasi. Dengan demikian perlu kecermatan dalam disain sistirn resirkulasi khususnya dalam pemilihan jenis pompa atau peralatan lain yang sejenis. Selain itu untuk mengantisipasi perubahan dan fluktuasi kekeruhan air baku, maka frekuensi proses uji berkala untuk penentuan dosis optimal koagulan perlu ditingkatkan. Pada prinsipnya penelitian ini memerlukan pengembangan lebih lanjut dengan penekanan aspek eksperimen aplikatif melalui suatu proyek uji percontohan.

    BalasHapus
  45. NAMA :YENNI INDRAWATI
    KELAS :XI KI2/33

    Dalam pengolahan air bersih
    diperlukan unit sebagai berikut :

    1. Intake
    Beberapa lokasi intake pada sumber
    air yaitu intake sungai, intake danau dan
    waduk, dan intake air tanah. Jenis-jenis
    intake, yaitu intake tower, shore intake,
    intake crib, intake pipe atau conduit,
    infiltration gallery, sumur dangkal dan
    sumur dalam .

    2. Aerasi
    Aerasi digunakan untuk
    menyisihkan gas yang terlarut di air
    permukaan atau untuk menambah
    oksigen ke air untuk mengubah
    substansi yang di permukaan menjadi
    suatu oksida.
    Dalam keadaan teroksidasi, besi
    dan mangan terlarut di air. Bentuk
    senyawa dengan larutan ion, keduanya
    terlarut pada bilangan oksidasi +2 yaitu,Fe+2 dan Mn+2. Ketika kontak dengan oksigen
    atau oksidator lain, besi dan mangan akan
    teroksidasi menjadi valensi yang lebih tinggi,
    bentuk ion kompleks baru yang tidak larut ke
    tingkat yang cukup besar. Oleh karena itu,
    mangan dan besi dihilangkan dengan
    pengendapan setelah aerasi.
    Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut
    (Peavy, 1985):
    4 Fe+2 + O2 + 10 H2O
    4Fe(OH)3 ¯ + 8 H+
    2 Mn+2 + O2 + 2 H2O 2MnO2 ¯
    + 4 H+
    Ada empat tipe aerator yang sering
    digunakan, yaitu gravity aerator, spray aerator,
    air diffuser, dan mechanical aerator. Fungsi
    dari proses aerasi adalah menyisihkan
    methana (CH4), menyisihkan karbon dioksida3. Koagulasi
    Pada proses koagulasi, koagulan
    dicampur dengan air baku selama beberapa
    saat hingga merata. Setelah pencampuran ini,
    akan terjadi destabilisasi koloid yang ada pada
    air baku. Koloid yang sudah kehilangan
    muatannya atau terdestabilisasi mengalami
    saling tarik menarik sehingga cenderung untuk
    membentuk gumpalan yang lebih besar.
    Faktor yang menentukan keberhasilan suatu
    proses koagulasi yaitu jenis koagulan yang
    digunakan, dosis pembubuhan koagulan, dan
    pengadukan dari bahan kimia. Pengadukan cepat dapat
    dilakukan dengan cara: pengadukan secara
    hidrolis (terjunan dan pengadukan dalam pipa)
    dan pengadukan secara mekanik. GxTd yang
    disyaratkan untuk koagulasi adalah
    (CO2), menyisihkan H2S, menyisihkan bau dan
    rasa, menyisihkan gas-gas lain

    4. Flokulasi
    Flok-flok kecil yang sudah terbentuk di
    koagulator diperbesar disini. Faktor-faktor
    yang mempengaruhi bentuk flok yaitu
    kekeruhan pada air baku, tipe dari suspended
    solids, pH, alkalinitas, bahan koagulan yang
    dipakai, dan lamanya pengadukan . GxTd yang disyaratkan untuk flokulasi
    adalah 10.000-100.000.
    Beberapa tipe flokulator adalah channel
    floculator (buffle channel horizontal, buffle
    channel vertikal, buffle channel vertikal dengan
    diputar, melalui plat berlubang, dalam Cone,
    dan dengan pulsator), pengadukan secara
    mekanik, pengadukan melalui media,
    pengadukan secara pneumatik
    (dengan udara).

    BalasHapus
  46. NAMA : Yenni indarwati
    KELAS: XI KI2/33

    5. Sedimentasi
    Sedimentasi adalah pemisahan
    partikel secara gravitasi. Pengendapan
    kandungan zat padat di dalam air dapat
    digolongkan menjadi pengendapan
    diskrit (kelas 1), pengendapan flokulen
    (kelas 2), pengendapan zone,
    pengendapan kompresi/tertekan..
    Jenis bak pengendap adalah bak
    pengendap aliran batch dan bak
    pengendap dengan aliran kontinu.
    Uniformitas dan turbulensi aliran
    pada bidang pengendap sangat
    berpengaruh. Oleh sebab itu, bilangan
    Fraude yang menggambarkan tingkat
    uniformitas aliran dan turbulensi aliran
    yang digambarkan oleh bilangan
    Reynold harus memenuhi kriteria yaitu:
    bilangan Fraude Fr>10-5 dan bilangan
    Reynold Re < 500.

    6. Filtrasi
    Proses filtrasi adalah mengalirkan
    air hasil sedimentasi atau air baku
    melalui media pasir. Proses yang terjadi
    selama penyaringan adalah pengayakan
    (straining), flokulasi antar butir,
    sedimentasi antar butir, dan proses
    biologis. Dilihat dari segi desain
    kecepatan, filtrasi dapat digolongkan
    menjadi saringan pasir cepat (filter
    bertekanan dan filter terbuka) dan
    saringan pasir lambat .
    Setelah filter digunakan beberapa
    saat, filter akan mengalami
    penyumbatan. Untuk itu perlu
    pembersihan, yang dapat dilakukan
    dengan pencucian dengan udara dan
    pencucian dengan air (pencucian
    permukaan filter dengan penyemprotan
    dan pencucian dengan backwash).
    Sedangkan tenaga untuk pencucian
    dapat dilakukan dengan cara pompa
    (memompa air yang ada di reservoir
    penampung ke dasar filter),
    menggelontor air yang ada di reservoir
    atas (elevated tank) secara gravitasi ke
    dasar filter, dan menggelontor air yang
    ada di filter sebelahnya ke filter yang
    sudah jenuh (interfilter). Hal yang
    dipertimbangkan dalam mendesain
    proses filtrasi adalah media filter dan
    hidrolika filtrasi.

    7. Desinfeksi
    Desinfeksi air minum bertujuan membunuh
    bakteri patogen yang ada dalam air.
    Desinfektan air dapat dilakukan dengan
    berbagai cara, yaitu:pemanasan, penyinaran
    antara lain dengan sinar UV, ion-ion logam
    antara lain dengan copper dan silver, asam
    atau basa, senyawa-senyawa kimia, dan
    chlorinasi.
    Proses desinfeksi dengan klorinasi diawali
    dengan penyiapan larutan kaporit dengan
    konsentrasi tertentu serta penetapan dosis klor
    yang tepat. Metode pembubuhan dengan
    kaporit yang dapat diterapkan sederhana dan
    tidak membutuhkan tenaga listrik tetapi cukup
    tepat pembubuhannya secara kontinu adalah:
    metoda gravitasi dan metode dosing
    proporsional
    .
    8. Reservoir
    Reservoir digunakan pada sistem
    distribusi untuk meratakan aliran, untuk
    mengatur tekanan, dan untuk keadaan
    darurat.
    Jenis pompa penyediaan air yang
    banyak digunakan adalah: jenis putar
    (pompa sentrifugal, pompa diffuser atau
    pompa turbin meliputi pompa turbin
    untuk sumur dan pompa submersibel
    untuk sumur dalam), pompa jenis
    langkah positif (pompa torak, pompa
    tangan, pompa khusus meliputi pompa
    vortex atau pompa kaskade, pompa
    gelembung udara atau air lift pump,
    pompa jet, dan pompa bilah). Efisiensi
    pompa umumnya antara 60 sampai 85%

    BalasHapus
  47. Nama : Antaria Puspita Sari
    No absen : 10
    Kelas : XI KI 1

    Tugas I

    • Rangkuman tentang pmbesaran •

     Pendahuluan
    Proses Pembesaran adalah Suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang lebih besar.
     FLOKULASI
    Flokulasi adalah penggabungan beberapa partikel sehingga ukurannya menjadi besar. Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (untuk mengurangi tegangan permukaan) dan elektrolit (untuk menetralkan muatan partikel tadi atau mengubah PH).
    Alat flokulasi bentuknya seperti alat sedimentasi yang dilengkapi pengaduk dengan kecepatan yang dibuat sedemikian rupa.
     FUSI
    Fusi adalah Proses pemanasan sementara partikel–partikell kecil sehingga sebagian menjadi cair. Lalu cairan ini mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat disebut Nodulasi, bila prosesnya lambat disebut Aglomrisasi.
     Pengompakan
     Briket
    ialah Suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Ukuran granule harus memenuhi syarat tertentu. Campuran partikel–partikel itu kemudian dipres dalam cetakan, lalu ditambah dengan pelincir (talk, wax, asam borak, garam stearat) agar tidak menempel pada cetakan. Tapi kadang–kadang perlu zat pengikat.
     Pelet
    Pembuatan pelet dengan menekan bahan–bahan dalam cetakan yang berlubang–lubang. Kemudian bahan yang keluar dipotong.
     Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan–bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat pembuat tablet terdiri dari lubang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer.
    Urutan proses plunyer : Mula–mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet, Kemudian ditekan dengan penekan, Penekan dilepas dan dasar ditekan ke atas, sehingga tablet keluar ke atas.
    Proses semacam itu dapat dilakukan secara kontinu yaitu dengan membuat lubang–lubang cetak itu pada keping silinder . Kemudian diputar oleh sebuah motor. Pada waktu berputar tiab–tiab lubang menjalani proses yaitu lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi,lubang itu berputar melalui perata,lubang yang telah diisi rata itu ditekan dengan penekan,penekan terangkat dan dasarnya mendorong tablet ke atas,tablet yang telah berada diatas keping dengan pisau penggaruk di geser ke pinggir
     GRANULASI
    Adalah Butir–butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule ini dibentuk dari serbuk. Tujuan pembentukannya adalah Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya,Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanannya,Mengurangi kehilangan sebagai debu,Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.
    Cara membuat granule yaitu :
    1. Menggunakan zat prekat
    Digunakan untuk serbuk yang daya rekatnya kurang. Bagi zat yang larut dalam air cukup menambahkan air. Jika air/pelarut tidak digunakan maka ditambahkan perekat khusus. Beberapa zat perekat antara lain gula,gelatin,dextrin acy,melase. Keadaan padat misalnya serbuk gula,glucose. Bila serbuk telah diberi perekat, diaduk dalam keadaan basah kemudian dikeringkan. Selanjutnya digiling dan diayak sehingga ukuran memenuhi syarat dimasukkan kedalam granulator. Granulator adalah Suatu gilingan yang terdiri dari batang–batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak–balik
    2. Melalui briket
    Serbuk setelah dibasahi kemudian digiling dan diayak. Ukuran partikel ini harus memenuhi syarat, karena kalau terlalu banyak puder briketnya kurang kuat. Hasil yang telah digiling dimasukkan kedalam granulator.
    3. Dengan pengering pancar (Spray Dryyer)
    Serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan. Disini diperlukan kadar air yang tinggii daripada dengan cara lain.
    4. Dengan proses Spheronizing
    Tidak diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Mula–mula dipakai dalam industri karbon black kemudian berkembang ke industri lain. Serbuk yang dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dngan arah vertical atau horizontal. Hasil dari cara inii kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  48. Nama : Antaria Puspita Sari
    No Absen : 10
    Kelas : XI KI 1

    TUGAS II

    • INDUSTRI PENGELOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)•

    Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa
    Sawit

    Pada pengolahan limbah cair kita menggunakan teknologi membran. Penurunan kualitas air dapat disebabkan oleh adanya kandungan bahan organik dan anorganik yang berlebihan. Senyawa organik dalam perairan akan dirombak oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Perombakan ini menjadi masalah jika senyawa organik terdapat dalam jumlah yang banyak.
    Penguraian senyawa organik akan memerlukan oksigen yang banyak, sehingga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut perairan samapai titik terendah akibat dekomposisi aerobik, sehingga pemecahan selanjutnya akan dilakukan oleh bakteri anaerobik.
    Pada saat ini pengolahan limbah cair industri kelapa sawit pertama dengan metode proses kombinasi, yaitu fisika dan biologi. Metode ini mempunyai kelebihan pengolahannya cukup murah, tetapi kekurangannya adalah lahan yang digunakan untuk pengolahan limbah cair cukup besar, tetapi bagi industri yang mempunyai lahan terbatas karena proses diatas sulit dilakukan untuk membantu industri yang mempunyai keterbatasan lahan, maka sekarang dicoba menggunakan teknologi membran dalam pengolahan air limbah industri kelapa sawit.

    Penggunaan Teknologi Membran pada Pengolahan Air Limbah Industri Kelapa
    Sawit

    Teknik pemisahan dengan membran berdasarkan ukuran partikel dan berat molekul dengan gaya dorong berupa beda tekan, medan listrik dan beda konsentrasi. Proses pemisahan dengan membran yang memakai gaya dorong berupa beda tekan umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu :
    1. mikromembran,
    2. ultramembran
    3. nanomembran dan
    4. reverse osmosis.
    Teknologi membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses
    lain, antara lain :
    • Pemisahan dapat dilakukan secara kontinu
    • Konsumsi energi umumnya relatif lebih rendah
    • Proses membran dapat mudah digabungkan dengan proses pemisahan lainnya
    • Pemisahan dapat dilakukan dalam kondisi yang mudah diciptakan
    • Mudah dalam scale up
    • Tidak perlu adanya bahan tambahan
    • Material membrane bervariasi sehingga mudah diadaptasikan pemakaiannya.

    Kekurangan teknologi membran antara lain : fluks dan selektifitas karena pada
    proses membran umumnya terjadi fenomena fluks berbanding terbalik dengan
    selektifitas. Semakin tinggi fluks seringkali berakibat menurunnya selektifitas dan
    sebaliknya. Sedangkan hal yang diinginkan dalam proses berbasiskan membran
    adalah mempertinggi fluks dan selektifitas.

    BalasHapus
  49. nama : demin .n
    kelas: XI KI-I
    absen : 19

    TUGAS NO.1
    PROSES PEMBESARAN

    Proses Pembesaran adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. Contohnya, dari serbuk menjadi butir-butir kecil dan dari butir-butir kecil menjadi tablet dsb.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sbb:

    1. FLOKULASI,
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak akibat muatan elektrostatis yang sama, dan juga tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel tsb baru dpt disaring/diendapkan bila bila beberapa partikel bergabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan ini yang disebut flokulasi.
    Flokulasi dpt terjadi dengan penambahan:
    -zat aktif permukaan, dapat mengurangi tegangan permukaan
    -elektrolit, untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah pH
    2. FUSI,
    Adalah Proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi Alat nodulasi atau aglomerisasi semacam kiln berputar,yaitu semacam silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. PENGOMPAKAN
    > Briket,
    Yaitu dengan mengompakkan granulemenjadi satu. Dalam pembuatan briket granule-granule yang berukuran sama akan kurang kuat,maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    Campuran partikel-partikel itu kemudian dipres dalamcetakanyang bentuknya tertentu,dalam proses mencetakini perlu ditambahkan pelincir agar tidak menempelnpada cetakan.
    > Pelet,
    Yaitu,dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.
    > Tablet,
    Prinsipnya, engan mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dapat bergerak seperti plunyer,gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan.. Pembuatan tablet juga dapat dilakukan secara kontinyu,yaitu dengan membuat lubang-lubang cetak itu pada keeping silinder. Keping silinder ini kemudian diputar oleh sbuah motor,sehingga lubang-lubang itu turut berputar.
    > Granulasi,
    Granulasi adalah butir-butir yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.


    Tujuan granulasi adalah:
    - Mempersiapkanbenda untukproses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan.
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu.
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.

    Beberapa cara untuk membuat granule :
    a. Menggunakan zat perekat,
    untuk serbuk-serbuk yang daya rekatnya kurang. Contoh perekat adalah air,gula,gelatin,dextrin aci, melase, dsb.
    b. Melalui briket,
    pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket. Kemudian digiling dan diayak. Setelah itu dimasukkan ke dalam granulator.
    c. Dengan pengering pancar,
    Dengan cara ini serbuk dibasahi,kemudian disemprotkan ke dalam pengeringan.
    d. Dengan proses Spheronizing
    Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  50. TUGAS 2
    Nama: Puji Irawati A.
    Kelas: XI KI-2
    No:19

    PENGARUH INSTALASI PENGOLAHAN AIR PDAM SURAKARTA TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI BENGAWAN SOLO

    PDAM Surakarta membangun sebuah Instalasi Pengolahan Air yang bersumber dari aliran air Sungai Bengawan Solo. Mengolah air keruh, berlumpur dan mengandung zat-zat kimia dari Sungai Bengawan Solo untuk menjadi air bersih, kemudian air dapat dikonsumsi masyarakat sesuai dengan persyaratan-persyaratan baku mutu air bersih. Metode yang digunakan yaitu, Kegiatan lapangan (mengadakan survei di lapangan, pengambilan sampel air dari sebelum dan setelah pengolahan). Kegiatan laboratorium (pemeriksaan sampel air sebelum dan setelah pengolahan) dan menganalisa hasil sampel air. Langkah-langkah treatment IPA Jurug yaitu, air dari sungai masuk Intake melalui pipa dengan menggunakan prinsip gravitasi, kemudian dipompa ke bak pra sedimentasi. Pada bak pra sedimentasi air mengalami pengendapan pertama kemudian air masuk pada ruang koagulasi, di ruang koagulasi terjadi proses kimiawi yaitu adanya proses pengendapan partikel-partikel kecil yang tak dapat mengendap dengan sendirinya. Selanjutnya air akan masuk pada ruang flokulasi. Pada ruang ini akan terjadi pengadukan lambat, bertujuan untuk meratakan bahan kimia yang ditambahkan agar dapat bercampur dengan baik sehingga terbentuk partikel-partikel padat (floc). Kemudian air masuk pada bak sedimentasi atau bangunan pengendap kedua, pada bangunan ini floc-floc yang terbentuk akan mengendap. Selanjutnya air akan masuk pada Filter atau saringan, gumpalan-gumpalan atau lumpur akan tertahan pada lapisan atas filter. Setelah itu yang mengendap akan masuk pada bak lumpur, kemudian akan dibuang kembali ke sungai. Air yang keluar dari Filter sudah dapat digunakan atau dalam keadaan bersih yang selanjutnya akan dialirkan pada bak penampungan atau Reservoir. Dari bak penampungan air akan dipompa untuk disalurkan kepada pelanggan. Dari data hasil penelitian untuk air sebelum pengolahan untuk kadar BOD5 melebihi batas baku mutu yang di ijinkan yaitu 5 Mg/l, sehingga air tersebut mengandung bahan organik yang dapat terurai dalam jumlah yang cukup besar. Air sebelum pengolahan tidak berbau dan tidak berasa, suhu 26,3C , warna 624 skala TCU, kekeruhan 243 TCU, TDS 102,2 Mg/l, pH 6, COD 22,37 dan untuk Golongan Coli Tinja kadarnya sangat besar yaitu 1898 MPN/100 ml. Data hasil penelitian untuk air setelah pengolahan bau, rasa, suhu, warna, kekeruhan, TDS, dan pH masih masuk dalam batas baku mutu yang di ijinkan. Untuk BOD5 0,61 Mg/l dan COD < 6,87 Mg/l. Untuk Golongan Coli Tinja yaitu 38 MPN/100 ml . Data rekapitulasi kekeruhan antara tahun 2007 – 2009 menunjukkan rata-rata pada Bulan Nopember sampai April kekeruhan air baku sangat tinggi, disebabkan karena musim penghujan.

    BalasHapus
  51. TUGAS 2
    Nama: Puji Irawati A.
    Kelas: XI KI-2
    No: 19

    7 LANGKAH PROSES PENGOLAHAN AIR di PDAM

    Proses pengolahan air minum/bersih pada instalasi perusahaan air minum antara lain :
    1. Penyediaan Air Baku. Pertama harus ditentuin sumber air bakunya. Biasanya dari sungai, waduk, danau, sumur, atau mata air. Yang di bahas ini yang umum aja yaitu sumber air bakunya dari sungai. Untuk mengalirkan air sungai agar bisa masuk ke sistem pengolahan, maka harus dibangun inlet. Inlet bisa berupa rumah pompa yang akan memompa air dari sungai ke bangunan pengolahan. Sebelum air masuk ke inlet biasanya dibangun yang namanya screen bar. Screen bar ini bertujuan untuk memisahkan sampah yang biasanya mengapung di air agar tidak ikut masuk ke pengolahan air. Dari inlet air dipompa menuju ke proses selanjutnya.
    2. Prasedimentasi. Partikel-partikel diskrit yang tidak terlarut dalam air diendapkan terlebih dahulu. Sehingga air yang keluar dari prasedimentasi sudah tidak mengandung partikel-partikel diskrit. Tapi, air yang keluar dari prasedimentasi ini masih mengandung partikel koloid yang sulit mengendap.
    3. Flash Mix. Untuk mengendapkan petikel ini dibutuhkan bantuan tawas/alum. Penambahan tawas/alum ini dilakukan di unit pengolahan yang namanya flash mix (pengaduk cepat). Di flash mix ini tawas/alum dicampurkan dan diaduk hingga terlarut dalam air. Proses di flash mix ini disebut koagulasi / proses penambahan koagulan. Dari flash mix air dialirkan ke unit slow mix (pengaduk lambat).
    4. Slow Mix. Pada unit slow mix ini, tawas/alum diberi kesempatan untuk bersatu dengan partikel koloid yang kecil-kecil hingga menjadi flok yang berukuran lebih besar dibanding koloid sehingga mudah mengendap. Proses di slow mix ini disebut flokulasi / proses pembentukan flok.
    5. Sedimentasi. Pada proses ini flok-flok dari hasil flokulasi mengendap, sehingga dihasilkan air yang lebih jernih.
    6. Filter. air dari bak pengendap dialirkan ke unit filter (rapid sand filter). Unit filter ini tersusun dari pasir, kerikil, dan gravel. Fungsi filter ini hampir mirip dengan alat yang dulu waktu SD/SMP pernah dibuat dari serabut kelapa, pasir, kerikil, batu, dll yaitu untuk menyaring partikel yang sangat kecil yang mungkin tidak bisa mengendap. Nah air yang dihasilkan dari filter ini adalah air yang sudah bersih, maka dalam penyalurannya harus menggunakan pipa/tertutup agar tidak terkontaminasi lagi.
    7. Disinfeksi. Air kemudian dimasukkan ke reservoir terlebih dahulu sebelum di distribusikan. Sebelum masuk ke bak reservoir, air ditambah dengan klorin untuk mengilangkan bakteri-bakteri patogen yang mungkin ada pada air. Reservoir digunakan sebagai bak penampung sementara sebelum didistribusikan. Dan air direservoir ini adalah air yang sudah bersih dan siap digunakan / didistribusikan.

    Sebetulnya bila penanganan air ini dilakukan dengan benar, maka air yang dihasilkan tersebut sudah layak minum. Karena jika diuju dalam laboratorium air ini sudah memenuhi baku mutu air minum di Indonesia. Namun yang masih menjadi kendala di Indonesia adalah sistem distribusinya yang kurang baik (misal banyaknya pipa PAM/PDAM yang bocor dll) mengakibatkan air yang didistribusikan ini menjadi tercemar lagi sehingga belum layak minum namun bersih. Sehingga air yang dijual PAM/PDAM kepada masyarakat seharusnya disebut air bersih bukan air minum.

    BalasHapus
  52. TUGAS 2
    Nama: Puji Irawati A.
    Kelas: XI KI-2
    No: 19

    JENIS – JENIS PENGOLAHAN AIR IPAM

    Secara kimiawi air baku dapat digambarkan sebagai:
    H2O+X
    Dimana :
    X= Adalah kontaminan yang dapat berupa :
    -Zat padat terlarut (suspendend Solid) untuk jenis air golongan 1,2 dan 3
    -Zat organik terlarut (suspendend Solid) untuk jenis air golongan 4
    -Ca dan Mg untuk jenis air golongan 5
    Pada intinya semua jenis air diatas sampai menjadi air yang layak dikonsumsi manusia perlu mengalami proses pemisahan X sampai X memenuhi kriteria untuk dapat dikonsumsi.

    Jenis jenis pemisahan yang dapat dilakukan meliputi:
    1 Pemisahan zat padat dari air baku secara kimiawi
    2 Pemisahan zat padat dari air baku secara gravitasi
    3 Pemisahan zat padat dari air baku secara penyaringan
    4 Desinfeksi air untuk mencegah terjadinya kontaminasi air

    1. Pemisahan zat padat dari air baku secara kimiawi
    Air baku yang keruh setelah diendapkan selama lebih dari satu jam atau lebih masih akan keruh. Hal ini ditandakan dengan masih adanya koloid koloid yang melayang layang didalam air, koloid ini tidak akan mengendap dalam jangka waktu yang lama sekali, dengan demikian efek gravitasi sedikit atau hampir tidak ada pengaruhnya terhadap proses pemisahan kontamninan. Untuk itu pemisahan diefektifkan lagi dengan dicampurnya air baku dengan zat kimia.
    Setelah pencampuran tersebut maka akan terjadi proses koagulasi yaitu secara harfiah berarti proses pembekuan/ penggumpalan. Secara kimia hal ini merupakan proses destabilisasi muatan pada zat padat yang terlarut oleh zat kimia koagulan sehingga sehingga zat padat tersebut menggumpal dan dapat mengendap.
    Pada prinsipnya zat kimia atau koagulan yang dapat dipakai adalah semua unsur dengan kation ber valensi dua keatas dengan daya electrolit yang kuat.
    Misalnya : Fe, Al, Ba

    Yang umum dipakai adalah Al pada turunannya yaitu:
    - Aluminium Sulfat atau tawas (Al3(SO4)2.18H2O) dan
    - Poli Aluminium Clhoride (PAC)

    Dan Fe yaitu :
    - Fero Sulfat [Fe(SO4)]
    - FeriChloride (FeCl3)

    Setelah proses koagulasi di atas, terbentuklah bintik bintik flok kecil yang dapat diendapkan secara lebih mudah. Oleh karena itu, ukuran bintik bintik flok perlu dibesarkan. Proses ini disebut proses flokulasi.

    2. Pemisahan zat padat dari air baku secara gravitasi
    Pemisahan zat padat dalam air secara gravitasi disebut pengendapan atau sedimentasi proses ini dapat dilakukan secara :
    - Batch atau paket tanpa mengalirnya air, dimana air dibiarkan stagnan disuatu wadah pada jangka waktu tertentu. Setelah air itu jernih atau kontaminan terendapkan maka air kemudian dikeluarkan
    - Continue (kontinu) atau air dialirkan melalui suatu bejana atau bak dengan terus menerus pada jangka waktu tertentu dari air masuk sampai air keluar sehingga memungkinkan kontaminan zat padat yang ada di dalam air mengendap

    BalasHapus
  53. Nama: Oktaviannus Setya Ningrum
    Kelas: XI KI-2
    No Absen: 16

    INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

    PADA LIMBAH INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN BANDENG

    Industri pengolahan ikan bandeng merupakan industri menengah dan kebanyakan merupakan industri rumahan yang tidak menggunakan modal besar. Ini tentu akan menarik ketika industri ini dikaitkan dengan proses limbah sebagai hasil samping dalam proses produksinya. Berbeda dengan industri besar dimana terdapat modal besar sehingga dimungkinkan adanya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang membutuhkan biaya besar dan konstruksi rumit, industri rumahan pengolahan ikan bandeng mempunyai keterbatasan dalam dana, ruang dan akses teknologi. Akan tetapi, proses pengolahan air limbah tetap haruslah terjadi demi kelestarian lingkungan.

    PENGOLAHAN LIMBAH PADA INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN BANDENG

    Limbah dari industri pengolahan ikan bandeng dapat dikatakan merupakan limbah organik yang sebenarnya dapat di dekomposisi secara alami oleh berbagai organisme yang ada di alam. Akan tetapi, apabila terjadi keberadaan limbah melampaui daya dukung organisme pengolah limbah tersebut.

    Selain itu, bahan pertimbangan lain adalah kondisi modal dari pengusaha itu sendiri. Modal yang tidak terlalu besar menyebabkan model IPAL yang rumit dan membutuhkan biaya tinggi tidak dapat diaplikasikan pada industri ini. Salah satu yang bisa diterapkan adalah dengan mengkombinasikan proses fisika dan proses biologi dengan menggunakan peralatan sederhana dan tepat guna. Diusahakan dalam IPAL pada budidaya bandeng tidak menggunakan sistem kimia karena sistem yang rumit dan membutuhkan biaya tinggi. Pengolahan secara kimia hanya diperlukan ketika terdapat limbah dengan konsentrasi tinggi sehingga harus dilakukan proses koagulasi dengan bantuan bahan kimia.

    Instalasi Pengolahan Air Limbah pada Industri Pengolahan Ikan Bandeng dapat menggunakan gabungan dari sistem fisika dan biologis.

    1. Pengolahan secara fisika
    Pengolahan ini dimaksudkan untuk memisahkan ukuran partikel dari limbah. Partikel padatan dan cairan dipisahkan sehingga dapat diproses pada tahap selanjutnya. Fraksi padatan selanjutnya dapat ditampung ke dalam kolam penampungan tertutup untuk diolah selanjutnya menjadi biogass melalui proses dekomposisi anaerobik.

    Sistem ini juga digunakan dengan cara melakukan sistem skreening pada air buangan limbah. Sisa air pada budidaya sebelum dibuang akan diolah terlebih dahulu dengan menggunakan sistem filtrasi dengan menggunakan kain kasa halus. Ini akan mengakibatkan air buangan akan terpisah antara fraksi padatan dan cair. Fraksi padatan ini akan kita tampung dalam tempat pengendapan sedangkan fraksi cair akan dilakukan pengolahan selanjutnya menggunakan sistem biologis.

    Kolam pengendapan berfungsi untuk menampung air buangan dari kolam pembesaran, agar zat hara terlarut dan butiran zat padat melayang dapat berkurang seminimal mungkin sebelum dialirkan kembali ke kolam penampungan. Saluran pembuangan utama, yang bisa juga berfungsi sebagai tempat pengendapan, haru berukuran lebar dan dalam, guna terjadinya pembuangan yang efisien. Kolam harus mempunyai pintu pengaturan air untuk mencegah air buangan
    tidak melimpah keluar kolam sebelum zat padat yang melayang mengendap semua.

    Air yang keluar dari kolam pembesaran di treatment terlebih dahulu melewati sistem sekat yang dipasang di kolam pengendapan. Sekat-sekat ini terbuat dari lembaran plastik atau jaring kawat halus yang memungkinkan terjadinya penyaringan mekanis dan proses sedimentasi pada saat air bergerak mengalir dengan cara berkelok-kelok. Gerak air melambat dan zat padat yang melayang mengendap sebelum sampai ke bak saringan.

    BalasHapus
  54. Nama: Oktaviannus Setya Ningrum
    Kelas: XI KI-2
    No Absen: 16

    LANJUTAN

    2. Proses Konversi Biologis
    Proses biologis seringkali dipilih karena hasil keluaran dari proses ini menghasilkan bahan yang relatif aman dan aman unutk lingkungan.

    (a) Proses Degradasi Limbah Sistem Degradasi Aerobik
    Proses degradasi dengan cara ini biasanya menggunakan bantuan mikrobiologi. Proses ini terjadi ketika bahan limbah dari proses pengolahan ikan bandeng digunakan mikrobe sebagai bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya.

    Menurut cara dekomposisinya, proses biologis dapat dibagi menjadi tiga jenis: dekomposisi arobik, anaerobik dan fermentasi. Dalam suatu usaha bandeng, sistem yang dapat diambil adalah pada sistem aerobik. Sistem ini menggunakan bahan bantuan mikroorganisme dan membutuhkan oksigen.

    Proses ini mempunyai hasil akhir berupa karbondioksida, air dan sel bakteri hasil pertumnuhan. Pada industri pengolahan ikan bandeng, cara ini dapat digunakan karena cenderung memerlukan bahan dan peralatan yang relatif murah dan mudah didapatkan. Dalam aplikasinya, pengusaha hanya memerlukan suatu tempat semacam kubangan terbuka untuk menampung limbah, kemudia dengan menambahkan bakteri yang akan memproses limbah sehingga dapat terdekomposisi. Titik lemah dari sistem ini bahwa cara ini hanya bisa digunakan pada suatu limbah dengan kadar BOD kurang dari 500 mg/l. Tentunya ini membutuhkan ruang pengolahan yang lebih besar. Selain itu, karena proses ini memerlukan oksigen dalam reaksi kimianya, maka pengusaha perlu menggunakan aerasi dalam bak penampungan.

    Selain membantu kebutuhan oksigen bandeng, aerator juga membantu proses dekomposisi aerobik.

    (b) Sistem Biofilter
    Sistem biofilter adalah sistem pemisahan fraksi suatu larutan dari zat pencemar dengan menggunkan agensie biologi. Sistem ini dapat mengurangi kadar polutan dari air limbah tambak dengan. Pemilihan sistem ini sendiri adalah bahan yang mudah diperoleh dan mudah diaplikasi pada sistem tambak seperti rumput laut, kerang atau oyster. Biofilter ditempatkan dibelakang sistem fisika filtrasi.

    BalasHapus
  55. NAMA : ISTIKA NARWANI
    KELAS: XI KI2
    NO : 04

    TUGAS 1
    PROSES PEMBESARAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    1.Flokulasi (flocculation)
    2.Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulisasi
    3.Pengompakan (compacting) : briket, pellet, tablet, granulasi
    DEFINISI
    1. Flokulasi(flocculation)
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa. Partikel-partikel zat itu tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama. Disamping itu juga karena tegangan muka antara partikel dan zat cair cukup besar. partikel-partikel itu baru akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan itu disebut Flokulasi.
    Urutan proses pada penggunaan flokulasi iaalah :
    - Pencampuran
    - Flokulasi
    - Sedimentasi/penyaringan
    2. Fusi(fusion)
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    4.Pengompakan(compacting)
    - Briket
    briket adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    - Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    - Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    a. Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    b. Kemudian ditekan dengan penekan P
    c. Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas

    BalasHapus
  56. NAMA : ROCHMATUN NI;MAH
    KELAS : XI KI2
    NO. ABSEN : 28

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    *Proses pembesaran adalah pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar.
    *tujuan: untuk memudahkan dalam proses selanjutnya
    *proses pembesaran dapat diklasifikasikan sbb:

    1. FLOKULASI
    partikel-partilel zat dalam koloid dis[ersi tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama dan karena tegangan `permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. penggabungan antara partikel-partikel agar bersatu sehingga ukurannya menjadi besar disebut FLOKULASI.
    Urutan proses flokulasi:
    1) pencampuran
    2) flokilasi
    3) sedimentasi/penyaringan

    2. FUSI
    fusi adalah proses pemanasan sememtara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. karena selama penggabungan itu dulakukan dalam kiln yang berputar, maka terbentuklah butir-butir yang bulat. kemudian seetelah dingin butir-butir itu menjadi padat, bila proses itu sangan cepat maka disebut NODULASI. Bila prosesnya lambat maka disebut AGLOMERISASI. alat aglomerisasi/nodulasi adalah semacam kiln yang berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapar berputar.

    3. PENGOMPAKAN

    a) briket
    adalah suatu bentuk tertentu yang dibiat dengan mengompakkan granule menjadi satu. dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu

    b) palet
    pembuatan palket dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berkubang kemudian bvahan yang keluar dari lubang-lubang tadi idipotong sehingga terjadilah bentuk palet.

    c) tablet
    prinsip pembuatan tablet adalah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian diproses. urutan prosesnya adalah sbb:
    1. mula" cetakan ini diisi dengan bahan pembuat tablet
    2. kemudian dilekatkan dengan penekan P
    3. penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas sehingga tablet keluar diatas
    4. lubang diisi serbuk bahan melelui corong pengisi
    5. lubang itu berputar melalui perata
    6. lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    7. penekan terangkat dan dasarnya mendorong tablet keatas
    8. tablet yang telah berada diatas keping dengan pisau peanggaruk digeser ke pinggir
    9. demikian seterusnya

    d) granulasi
    granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    tujuan granulasi:
    *mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    *untuk memudahkan transportasi/penyimpanan
    *mengurangi kehilangan sebagai debu
    *mengirangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara
    cara untuk membuat granule:
    1. menggunakan zat perekat
    beberapa zat yang digunakan sebagai perekat adalah gula, gelatin, dextrinaci, melase dan sebagainya
    2. melalui briket
    pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentudijadikan briket
    3. dengan pengering pancar
    dengan cara ini serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan
    4. dengan proses spheronizing
    pada cara ini tidk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. hasil dari cara ini kurang kuat sehingga nudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  57. NAMA : suci nurhidayatul ummi
    KELAS: XI KI2
    No : 30

    TUGAS 1
    PROSES PEMBESARAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    1.Flokulasi (flocculation)
    2.Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulisasi
    3.Pengompakan (compacting) : briket, pellet, tablet, granulasi
    1. Flokulasi(flocculation)
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa. Partikel-partikel zat itu tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama. Disamping itu juga karena tegangan muka antara partikel dan zat cair cukup besar. partikel-partikel itu baru akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan itu disebut Flokulasi.
    Urutan proses pada penggunaan flokulasi iaalah :
    - Pencampuran
    - Flokulasi
    - Sedimentasi/penyaringan
    2. Fusi(fusion)
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    4.Pengompakan(compacting)
    a. Briket
    briket adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    b. Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    c. Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Kemudian ditekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas

    BalasHapus
  58. Nama :Suci Nurhidayatul U.
    Kelas :XI KI 2
    No :30
    PROSES FLOKULASI PADA IPAL

    Sistem pengolahan air limbah, menggunakan system pengolahan secara fisika-biologis. Dalam hal ini tanpa menggunakan atau menambahkan bahan kimia. Pembuangan air limbah industri (waste water disposal) dialirkan melalui pipa dari pabrik ke saluran pipa bawah tanah yang dipasang sepanjang jalan di depan kavling pabrik, volume limbah yang masuk 7000-8000 m3/hari dari 350 industri.

    Pengolahan pertama yang dilakukan yaitu proses pengendapan yang terjadi secara gravitasi pada bak equalisasi atau sumur pengumpul dengan ketinggian 9 meter dari permukaan tanah dan diameter 5 meter. Proses ini disebut primary treatment dengan tujuan untuk mengurangi jumlah padatan. Dalam proses ini diperkirakan penurunan BOD-COD 20-45 % dan padatan 50-60 % dengan waktu tinggal 2-5 jam. Kemudian dialirkan masuk ke dalam kolam oksidasi disebut pengolahan kedua. Proses biologis yang terjadi bertujuan untuk mengurangi bahan-bahan organik melalui mikroorganisme yang ada di dalamnya. Pada proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain jumlah air limbah, tingkat kekotoran dan jenis kotoran yang ada.

    Proses penambahan oksigen

    Penambahan oksigen adalah salah salah satu usaha pengambilan zat pencemar dalam limbah sehingga konsentrasi zat pencemar akan berkurang atau bahkan dapat dihilangkan sama sekali. Zat yang dapat diambil berupa gas, cairan, ion, koloid atau bahan tercampur.

    Proses flokulasi berperan penting pada proses pengolahan air maupun limbah industri. Flokulasi biasanya dilakukan dalam tangki berpengaduk dimana energi dissipasi yang dihasilkan dari putaran impeller akan mempengaruhi gradien kecepatan (G). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembentukan flok pada proses flokulasi dalam tangki berpengaduk Rushton disc turbine yang ditunjukkan dengan distribusi ukuran partikel setiap waktu di dalam tangki dengan memperhatikan fenomena penggabungan dan perpecahan flok. Simulasi dilakukan menggunakan kombinasi Population Balance Model dan Computational Fluid Dynamics (CFD). Sistem yang dipelajari berupa tangki silinder dengan volume 2,65 liter. Variabel penelitian yang digunakan berupa kecepatan putar impeller, yaitu : 100 rpm, 156 rpm, 248 rpm, 325 rpm, dan 460 rpm dengan diameter rata-rata partikel primer polystyrene adalah 0,87 μm. Aliran multiphasa dalam sistem tangki berpengaduk ini disimulasikan dengan mixture model, karakteristik turbulensinya mengikuti persamaan Reynold Averaged Navier-Stokes, viskositasnya dimodelkan dengan k-ε model, dan distribusi ukuran flok sebagai fungsi waktu dimodelkan dengan menggunakan Population Balance. Hasil simulasi menunjukkan semakin tinggi kecepatan putar impeller maka rate energi dissipasi dan shear rate yang dihasilkan juga semakin besar. Kecepatan putar impeller 156 rpm paling efektif untuk proses flokulasi dibanding variabel kecepatan impeller yang lain, karena menghasilkan ukuran diameter flok yang paling besar yaitu 201,32 μm untuk waktu flokulasi 25 menit.

    BalasHapus
  59. NAMA : RIKA KARLINA
    KELAS : XI KI-2
    NO. ABSEN : 24

    TUGAS I

    PROSES PEMBESARAN
    3 macam proses pembesaran antara lain ialah :
    1. flokulasi (flocculation)
    2. fusi (fusion)
    3. pengompakan (compacting)

    Tujuan pembesaran ialah untukmemudahkan suatu industri melakukan proses selanjutnya,seperti proses penyimpanan dan proses pengendapan.

    1. FLOKULASI
    ialah suatu proses dimana partikel – partikel akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar.
    2. FUSI
    ialah proses pemanasan sementara partikel- partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair dengan melalui proses pencairan. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi.
    3. PENGOMPAKAN
    terdiri dari :
    a. Briket, yaitu suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu.
    b. Pelet, dilakukan dengan menekan bahan – bahan itu dalam cetakan yang berlubang – lubang.
    c. Tablet, prinsip pembuatannya ialah mengisikan bahan – bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.
    d. Granulasi, yaitu butir – butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.

    TUGAS II

    KOAGULASI DAN FLOKULASI PADA IPAL

    Dalam operasi pengolahan air limbah, proses koagulasi dan flokulasi bekerja untuk memisahkan padatan tersuspensi dari air. Meskipun istilah koagulasi dan flokulasi sering digunakan secara bergantian, atau istilah tunggal "flokulasi" digunakan untuk menjelaskan keduanya; mereka, pada kenyataannya, dua proses yang berbeda. Mengetahui perbedaan mereka dapat menyebabkan pemahaman yang lebih baik dari klarifikasi dan operasi pengolahan limbah dewatering.

    Padatan terdispersi halus (koloid) dibekukan dalam limbah cair yang distabilkan oleh muatan listrik negatif pada permukaan mereka, membuat mereka saling tolak.. Karena ini mencegah partikel bermuatan ini dari bertabrakan dengan bentuk massa yang lebih besar, yang disebut flocs, mereka tidak menetap Untuk membantu penghilangan partikel koloid dari suspensi, koagulasi kimia dan flokulasi dibutuhkan. ini proses, biasanya dilakukan secara berurutan, adalah kombinasi dari prosedur dan kimia fisik. Bahan kimia yang dicampur dengan air limbah untuk mempromosikan agregasi dari padatan tersuspensi menjadi partikel-partikel yang cukup besar untuk menyelesaikan atau dihapus.

    BalasHapus
  60. NAMA :Prasetyo Agung
    Kelas:XI ki-2
    No:18

    PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) INDUSTRI KEMBANG GULA P.T. N, BOGOR

    Peningkatan pertumbuhan ekonomi mendorong gairah permintaan pasar akan banyak produk konsumen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah peningkatan skala produksinya, seperti yang dilakukan oleh P.T. N , salah satu industri makanan di Bogor yang memproduksi kembang gula. Seiring dengan meningkatnya skala dan frekuensi produksi, air limbah hasil produksi yang memasuki IPAL P.T. N pun mengalami peningkatan beban dari rancangan


    awalnya. IPAL di P.T. N dirancang untuk beban sebesar 2250 kgCOD/hari. Saat itu produksi masih 44 ton produk/hari (47% kapasitas produksi maksimum).


    Kapasitas produksi P.T. N saat ini telah mencapai 70% kapasitas maksimumnya dan beban air limbah pun telah meningkat menjadi 3342kgCOD/hari. Peningkatan produksi akan terus terjadi hingga saat produksi maksimumnya yang berimbas pada terjadinya penurunan kualitas efluen. Polutan utama air limbah yaitu COD (54090 mg/L), BOD (1208 mg/L), TSS (2030 mg/L), serta minyak dan lemak


    (2113,16 mg/L). Persentase penurunan yang harus dipenuhi dari keempat polutan ini mencapai 90% untuk TSS dan lebih dari 99% untuk parameter lainnya. Oleh sebab itu, dirancang suatu rangkaian pengolahan di dalam IPAL yang dapat menurunkan konsentrasi pencemar hingga dapat memenuhi baku mutu yang berlaku. Rancangan IPAL yang dibuat juga diharapkan dapat menangani beban air
    limbah hingga saat produksi maksimum tercapai nanti. Pemilihan unit-unit pengolahan yang akan digunakan di dalam IPAL dilakukan berdasarkan karakteristik air limbah yang akan diolah, ketersediaan lahan, dan kualitas efluen
    yang diharapkan dari hasil pengolahan. Unit-unit pengolahan yang akan diterapkan di dalam IPAL P.T. N terdiri dari fine screen, tangki ekualisasi, dissolved air flotation (DAF), upflow anaerobic sludge blanket (UASB), dan reaktor sequencing batch activated sludge. IPAL akan dibangun di atas lahan yang telah tersedia seluas 120 m2.
    Teknologi pengolahan limbah cair (air limbah) yang telah dikembangkan dewasa ini secara garis besar dibagi menjadi 3 metode pengolahan, yaitu (a) pengolahan secara fisika, (b) pengolahan secara kimia dan (c) pengolahan secara biologi . Dalam prakteknya ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi, tergantung dari karakteristik limbah yang diolah.

    BalasHapus
  61. NAMA : DIAN ARYSKA
    KELAS : XI KI-1
    NO : 22
    TUGAS :1


    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar.
    Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    1.Flokulasi (Flocculation)
    Adalah partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan dan tidak dapat disaring/ diendapkan secara biasa. Partikel zat tersebut tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis sama. Dan tegangan permukaan antara partikel dan zat cair cukup besar. Partikel-partikel itu baru bisa disaring/ diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu ukurannya menjadi besar. Penggabungan tersebut disebut FLOKULASI
    Urutan proses penggunaan flokulasi:
    a.Pencampuran
    b.Flokulasi
    c.Sedimentasi/ penyaringan

    2. Fusi,
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Cairan ini kemudian mengikat zat padat lainnya menjadi satu, sehingga ukurannya lebih besar.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi semacam kiln berputar,yaitu semacam silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. Pengompakan
    1 Briket adlh suatu bentuk tertentu yg dibuat dg mengompakkan grenule mjd satu
    campuran partikek2 itu kemudian di pres dlm cetakan yg bntuknya tertentu.dlm prosesnya ditambhkan pelincir(lubricant)agar tdk menempel pd cetakan.sperti talk,wax, dll.
    2 Pelet dibuat dgn menekan bahan 2 itu dlm cetakan yg berlubang kemudian bahan yg keluar lubang2 tadi dipotong shg terjadi bentuk pelet.
    3 Tablet prinsipnya pembuatannya yaitu mengisikan bahan2 yg berbentuk serbuk kdalam cetakan kemudian dipres.
    kemudian dipres. Urutan proses pembuatannya sbb:
    1. Mula2 bahan diisi dgn bahan pembuat tablet
    2. Kemudian ditekan dgn penekan P
    3. Penekan dilepas & dasar D ditekan keatas shg tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar taip2 lubang menjalani proses seperti diatas yaitu :
    1. Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi
    2. Lubang itu beroutar melalui perata
    3. Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    4. Penekan teangkat & dasarnya mendorong tablet keatas
    5. Tablet yang telah berada diatas keping dg pisau penggaruk digeser kepinggir,demikian seterusnya.
    4 Granulasi adlh butir2 kecil yang mempunyai ukuran & bentuk tertentu . biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda2 untuk proses selanjutnya misalnya pembuatan pelet/tablet, untuk katalisator
    2. Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sbg debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    cara pembuatan grenule sbg berikut :
    1. Menggunakan zat perekat : cara ini terutama dipakai untuk serbuk2 yang daya ikatnya kurang bagi zat pelarut dalam air dapat ditambahkan dengan air. Bila pelarut punya daya pelarut cukak besar biasanya dicampur dengan pelarut lain. Beberapa zat yang sering dipakai sbg zat perekat antara lain gula,gelatin, dextrin aci,melase,dsb. Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang2 horisontal yang membentuk silinder & bergerak bolak-balik. Dibawahnya dilengkapi dengan ayakan.
    2. Melalui Briket : pada cara ini serbuk setelah dibahasi dg kadar tertentu dijadikan briket.
    3. Dengan pengering pancar (spray dryer) : pada cara ini serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan proses sphronizing : pada cara ini tdk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Serbuk yang akan dijadikan grenule diaduk dg car mekanis dg arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  62. NAMA : DIAN ARYSKA
    KELAS : XI KI-1
    NO : 22
    TUGAS : 2

    UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
    Reaktor UASB diperkenalkan oleh Gatze Lettinga, pakar proses anaerob dari Universitas Pertanian Wageningen di Belanda pada 1970-an sebagai inovasi dan solusi bagi kesulitan operasional pada proses Upflow Anaerobic Filter buatan Young dan McCarty (1969). Mulai saat itu, proses ini banyak diterapkan untuk mengolah air limbah karena mampu membentuk sludge yang berat dan aktif hingga konsentrasi 100 g/L di zone bawah reaktor dengan mekanisme retensi dan separasi. Retensi terjadi di bawah reaktor akibat formasi biobutir dan separasi di bagian atas reaktor (alat separator). Juga karena mampu mengolah polutan aromatik seperti benzoat dan fenol. Artinya, diharapkan teknologi anaerob akan mampu mengolah segala jenis limbah industri kimia.

    (1). Konsep dasar.
    Sesuai namanya, air limbah dialirkan dari bawah ke atas (upflow) melalui stratifikasi selimut lumpur yang pekat di dasar reaktor menuju ke bagian encer di atasnya. Kecepatan tipikal aliran ke atas yang disarankan oleh Lettinga dan Hulshoff Pol (1991) adalah 1-1,25 m/jam meskipun sebaiknya kurang dari 1 m/jam. Bahkan Henze et.al., (1995) mencatat kisaran yang jauh lebih rendah yakni antara 0,01 - 0,15 m/jam. Sebagai pemisah fase padat/cair/gas, di bagian atas reaktor dipasang separator. Selain itu, juga diberi pengendap (internal settler) dengan regim aliran tenang dan laminer agar flok yang terbawa ke atas bisa kembali ke reaktor.

    Secara konsep, UASB serupa dengan reaktor high rate yang lain yakni menahan biomassa secara swahenti (self immobilization) dengan cara membentuk agregat atau konglomerat atau aglomerat yang tersusun oleh sejumlah bakteri dengan fisiologi berbeda (konsorsium). Menurut Calleja et.al, 1984 (dikutip dari Grotenhuis, 1992) agregat mikroba adalah sekumpulan mikroba yang berhubungan karib (intimate contact) seperti flok, granule dan biofilm meskipun biofilm perlu media lekat. Jenis agregat pun dapat dibagi menjadi tiga (Dolfing, 1987 dikutip dari Palns et.al., 1990) yaitu flok (konglomerat berstruktur lemah), pellet (konglomerat berstruktur kuat dan berat) dan granule (pellet berupa butiran).

    Dampak penahanan atau retensi dari swahenti, selain menambah aktivitas metanogeniknya juga memperbesar kecepatan endapnya sehingga waktu tinggal sel jauh melebihi waktu tinggal hidrolisnya. Atau dengan kata lain, terjadi pemisahan antara SRT dengan HRT sehingga dimensi unit pengolah dapat diperkecil dengan efisiensi relatif konstan.

    Lettinga dan Hulshoff Pol (1991) menyusun konsep dasar UASB yaitu:

    a. Sludge dapat mengendap dengan baik karena tidak ada pengadukan mekanis. Kalaupun ada, biasanya diaduk secara perlahan dan sesaat.
    b. Sludge terdispersi akibat aliran biogas khususnya reaktor yang tinggi dengan beban organik besar namun dapat ditahan oleh separator di bagian atas UASB. Di sinilah biogas dilepaskan.
    c. Sludge yang mengendap di settler difasilitasi agar dapat tergelincir ke ruang digester dan mengendap lagi meskipun melawan upflow dan turbulensi akibat produksi gas. Untuk pengembangan ke depan, UASB sebaiknya dilengkapi dengan unit clarifier terpisah (external clarifier) agar biomassa yang hanyut dapat diresirkulasi ke reaktor.
    d. Agar scum layer pada permukaan air di ruang pengendap tidak hanyut maka perlu dipasang sekat (baffle) di depan pelimpah efluen.

    Dengan ilustrasi di atas, nyatalah manfaat separator padat/cair/gas pada reaktor UASB. Posisi separator inilah yang diganti dengan media lekat pada reaktor hibrid anaerob.

    BalasHapus
  63. maap pak, ketinggalan (^_^)
    (2). Granulasi bakteri
    Telah dipaparkan, bakteri mengalami swahenti (self immobilization) pada reaktor karena mampu membentuk agregat (biobutir). Menurut de Zeew (1988), biobutir diidentifikasi pertama kali pada reaktor UASB bervolume 6 m3 antara tahun 1974 - 1976. Dan ia mengelompokkan biobutir menjadi tiga tipe yaitu tipe A, biobutir sferis yang terutama dihuni oleh Methanothrix soehngenii, tipe B, biobutir tidak sferis yang berisi bakteri berfilamen dan biasanya melekat pada media dan tipe C, biobutir sferis yang dihuni oleh Methanosarcina sp.

    Formasi biobutir tersebut seperti dijelaskan oleh Sayed S.K.I (1987), sangat mudah terbentuk di air limbah yang kaya karbohidrat namun sulit pada air limbah rumah pemotongan hewan/pejagalan (slaughterhouse) sehingga UASB banyak digunakan untuk mengolah air limbah pabrik gula. Pendapat senada datang dari Palns et.al., (1987) ketika berhasil memperoleh biobutir berkecepatan endap tinggi dengan KPO yang juga tinggi. Air limbah yang diolahnya adalah apple juice yang dominan mengandung karbohidrat dan sedikit nitrogen (TKN/COD = 0,06).

    Selain jenis air limbah, pembentukan dan stabilitas biobutir dipengaruhi juga oleh hidrolika aliran. Sedangkan ukurannya tergantung pada faktor suplai dan jenis nutrien, laju tumbuh, konsentrasi substrat, gaya gesekan (shear force) dan presipitat inorganik seperti besi sulfida dan kalsium fosfat atau adesi antar bakteri. Kehilangan kalsium dapat melemahkan biobutir atau bahkan menghancurkannya (disintegrasi). Telah dibuktikan, ukuran biobutir makin besar pada beban substrat yang tinggi dan mengecil bahkan mudah pecah pada beban rendah. Dengan demikian, terjadi sinergisme antara beban organik dengan ukuran biobutir.

    Sedangkan keterendapannya (settleability) bergantung pada ukuran dan densitasnya. Pada UASB yang digunakan oleh Palns et.al., (1987), masa jenisnya (densitas) mencapai 30 - 80 Kg/m3. Densitas ini pun ditentukan oleh gas dan kandungan mineral atau presipitat inorganik di dalamnya (Hulshoff Pol, 1986) seperti CaCO3, MgNH4PO4 dan sulfida. Dengan kata lain, tergantung pada komposisi air limbah, kehadiran zat inorganik dan umur lumpur. Jadi trace mineral berpengaruh kuat terhadap pembentukan biobutir. Akibatnya, kadar abu (mineral) biobutir sangat bervariasi. Jika banyak mengandung mineral Fe, Ni dan Co-sulfida maka warna sludge-nya menjadi hitam.

    BalasHapus
  64. maap pak, ini terakhirr (^_^)
    (3). Zonasi lumpur
    Karena pengaruh gaya gravitasi maka secara alami akan terjadi pelapisan (stratifikasi) konsentrasi lumpur di dalam reaktor. Logikanya, konsentrasi terpekat ada di bagian bawah dan terendah di bagian atas. Inilah kenyataannya. Adalah Palns et. al., (1987, 1990) yang membagi lapisan lumpur UASB, didasarkan pada kinerjanya saat mengolah air limbah apple juice, dengan karbohidrat (gula) sebagai senyawa dominan. Selain mendukung pola alirannya berupa plug flow karena tidak ada pengadukan (inter-mixing), grup dari Universitas Cape Town, Afrika Selatan ini pun merin-cinya menjadi tiga zone diferensiasi yang mengacu pada ada tidaknya konversi propionat menjadi asetat.

    Definisi batas atas zone aktif bawah menurut Grup Cape Town ini adalah ketinggian lumpur (bed) di mana konsentrasi propionat mencapai nilai maksimum. Sedangkan batas atas zone aktif atas adalah ketinggian lumpur di mana propionat, COD dan organik nitrogen mencapai angka relatif stabil. Selebihnya, disebut zone lamban. Meskipun demikian, sludge bed di zone lamban tetap berfungsi sebagai cadangan atau penyangga (buffer) jika ada peningkatan beban (loading rate).

    Sejumlah karakteristik zonasi tersebut diidentifikasi seperti di bawah ini.

    a. Zone aktif bawah / ZAB (lower active zone) dengan karakteristik :
    ? konsentrasi asam propionat mencapai nilai maksimum
    ? konsentrasi asam asetat juga maksimum namun lajunya lebih rendah daripada asam propionat.
    ? terjadi reduksi COD terlarut hingga 50 % dari nilai COD umpan
    ? konsentrasi amonia turun ke nilai minimum
    ? konsentrasi organik nitrogen naik hingga maksimum
    ? metanogen hidrogenotrofik menghasilkan CH4 dari H2/CO2
    ? konversi asetat oleh metanogen asetoklastik menjadi CH4 dan CO2
    ? alkalinitas total turun hingga harga minimum sehingga harus ada suplai bikarbonat agar pH tidak rendah
    ? terjadi penurunan pH
    ? tekanan parsial H2 tinggi namun produksi netto (yield) gram VSS per gram COD tersisihkan juga tinggi (karbohidrat mencapai 36 %)

    Pada zone aktif bawah tersebut, kenaikan konsentrasi asam propionat menandakan tekanan parsial H2 relatif tinggi. Sedangkan penurunan angka COD yang tinggi bahkan mencapai 50 % atau lebih mengindikasikan ada produksi CH4 di ZAB. Dan agar prosesnya berlangsung dengan baik maka dibutuhkan alkalinitas yang cukup untuk antisipasi CO2 dan asam-asam volatil. Di zone inilah kebutuhan alkalinitasnya tertinggi dibandingkan dengan zone yang lain.

    b. Zone aktif atas / ZAA (upper active zone) dengan karakteristik :
    ? konsentrasi asam propionat dan asetat turun ke harga minimum
    ? COD terlarut relatif stabil pada konsentrasi minimumnya
    ? konsentrasi amonia bebas relatif konstan
    ? terjadi kenaikan pH ke angka yang stabil
    ? tekanan parsial H2 turun sehingga asam propionat dapat dikonversi menjadi asetat kemudian menjadi CH4 oleh asetogen.
    ? bakteri asetoklastik mengkonversi asetat menjadi CH4 dan CO2

    Pada ZAA, konsentrasi asetat dan propionat cenderung turun. Penurunan konsentrasi propionat menandakan tekanan parsial H2 sudah turun sehingga propionat dapat diubah menjadi asetat oleh asetogenesis yang selanjutnya diubah menjadi CH4 dan CO2 oleh metanogenesis.

    Agar tidak ada akumulasi asam propionat maka reduksi tekanan parsial H2 harus dimulai di ZAB khususnya pada titik di mana konsentrasi propionat maksimum. Tujuannya, agar di ZAA terbentuk asetat yang kemudian diubah menjadi CH4. Dengan cara ini konsentrasi asam propionat dan asetat akan turun di ZAA sehingga mereduksi asiditas, menambah alkalinitas dan pH pun ikut naik.

    c. Zone lamban / ZL (upper inactive zone) dengan karakteristik :
    ? konsentrasi biomassa lebih encer dibandingkan dengan zone lainnya.
    ? tidak ada konversi substrat atau COD yang signifikan
    ? tidak ada reaksi biokinetika yang signifikan

    BalasHapus
  65. nama:rachma shouma annisa
    kelas:IX-KI2
    no.absent:21
    Tugas 1:
    PROSES PEMBESARAN
    1. PENDAHULUAN
    Proses pembesaran adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar, dengan tujuan untuk mempermudah proses selanjutnya.
    Proses pembesaran di klasifikasikan menjadi 3, yaitu:
    • Flokulasi
    • Fusi
    • Pengompakan

    2. FLOKULASI
    Adalah partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan dan tidak dapat bersatu, karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama, partikel ini akan dapat disaring bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukuranmnya menjadi besar. Flokulasi dapat terjadi akibat penambahan zat aktif permukaan atau elektrolit. Flokulasi berbentuk seperti alat-alat sedimentasi.
    3. FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagaian menjadi cair. Proses pencairan yang sangat cepat disebut nodulasi, sedangkan yang lambat disebut aglomerisasi.
    4. PENGOMPAKAN
    a) Briket
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket kadang-kadang diperlukan zat pengikat
    b) Pelet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan dalam cetakan yang berlubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga berentuk pellet.
    c) Tablet
    Prinsip pembuatan tablet adalah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.
    d) Granulasi
    Adalah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule biasanya di buat dari serbuk.

    BalasHapus
  66. nama:rachma shouma annisa
    kelas:IX-KI2
    no.absent:21
    Tugas 2:
    Pengolahan air minum adalah suatu usaha teknis yang dilakukan untuk memberikan perlindungan pada sumber air dengan perbaikan mutu asal air sampai menjadi mutu yang diinginkan dengan tujuan agar aman dipergunakan oleh masyarakat pemakai air minum.
    Dalam pengolahan air minum dikenal 3 (tiga) jenis pengolahan, antara lain:
    Pengolahan Kimiawi
    Pengolahan Fisik
    Pengolahan Bakteriolog
    Macam-macam pengolahan kimiawi ada 3:
    1. Aerasi
    Adalah “proses dimana gas dibebaskan atau dilepaskan dari air atau diserap atau dilarutkan”. Di dalam pengolahan air minum, aerasi merupakan salah satu pengolahan pendahuluan (preliminary treatment) yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen), sehingga mencegah terjadinya proses anaerobik pada proses-proses selanjutnya. Proses ini dapat juga digunakan untuk mengurangi kandungan H2S, Fe dan Mn, CO2 bebas, dan detergen yang terdapat pada air baku.
    2. Koagulasi – Flokulasi
    Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. Flokulasi adalah proses penggumpalan bahan terlarut, kolois, dan yang tidak dapat mengendap dalam air. Uji koagulasi-flokulasi dilaksanakan untuk menentukan dosis bahan-bahan kimia, dan persyaratan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang optimum. Variabel-variabel utama yang dikaji sesuai dengan yang disarankan, termasuk :
    * Bahan kimia pembantu
    * pH
    * Temperatur
    * Persyaratan tambahan dan kondisi campuran.
    Metode uji ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai jenis koagulan dan koagulan pembantu pada proses pengolahan air bersih dan air Iimbah. Pengaruh konsentrasi koagulan dan koagulan pembantu dapat juga dievaluasi dengan metode ini. Peralatan yang diperlukan terdiri dari: Pengaduk, Gelas Kimia, Rak Pereaksi Bahan kimia dan bahan pembantu, digunakan untuk larutan dan suspensi pengujian, kecuali koagulan pernbantu dapat dipersiapkan setiap akan digunakan dengan membuat larutan sampai mencapai konsentrasi 10 gr/L. Koagulan pembantu, dalam perdagangan tersedia berbagai macam koagulan pembantu atau polielektrolit.
    Partikel koloid adalah partikel yang bermuatan listrik negatif yang sangat stabil. Dalam pengolahan air minum, koagulasi didefinisikan sebagai “proses dimana partikel koloid di-destabil-kan dan dinetralkan muatan listriknya”. Produk yang digunakan untuk netralisasi disebut koagulan. Koagulan yang paling umum digunakan adalah Aluminium Sulfat Al2(SO4)3 dan reaksi yang terjadi adalah:
    Al2(SO4)4 + 3 Ca(HCO3)2 –> 3 CaSO4 + 2 Al(OH)3 + 6 CO2
    Dosis yang diinjeksikan ke dalam air baku tergantung dari hasil Jar Test.
    Flokulasi didefinisikan sebagai “proses pembentukan partikel flok hasil penggabungan partikel-partikel kecil dengan cara pengadukan”. Produk yang ditambahkan dalam proses ini disebut flokulan (flocculating agents). Flokulan dapat mempercepat laju reaksi atau dapat meningkatkan mutu partikel flok yang terbentuk, sehingga lebih padat dan tidak mudah pecah. Flokulen dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya (buatan atau alam), muatan listriknya (anionik, kationik atau non-ionik), serta anorganik atau organik. Efektivitas proses flokulasi ini sangat tergantung dari efektivitas proses koagulasi.

    BalasHapus
  67. NAMA:RACHMA SHOUMA AZIZA
    KELAS:XI-KI2
    NO.ABSEN:22
    TUGAS 1

    Proses Pembesaran

    I. Pendahuluan

    Proses Pembesaran adalah, suatu pengerjaan unuk mengubahbenda yang berukuran kecil menjadi berukuran besar. Misalnya, dari serbuk menjadi butir kecil atau buir kecil mwjadi tablet.
    Macam-macam proses pembesara, yaitu:

    1. FLOKULASI
    Suatu koloid disperse partikel** zat padat yang sangat halus dalam cairan yang tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa, Partikel itu baru akan disaring jika partikel tersebut menggabung menjadi besar, yang biasa disebut dengan flokulasi
    Flokulasi dapat erjadi dengan penambahan zat aktif permukaan(untuk mengurangi tegangan permukaan) atau elektrolit(untuk menetralkan).

    2. FUSI
    Adalah, proses pemanasan sementara partikel** kecil sehingga sebagian menjadi cair. Nodulasi adalah proses pencairan yang sangat cepat, sedangkan Aglomerisasi prosesnya lambat.

    3. PENGOMPAKAN
    1. Briket
    Suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengelompokkan granule menjadi satu
    2. Tablet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan mnekan bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang, kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong
    3. Pelet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan kemudian diperas. Alat pembuatannya terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer.
    4. Granulasi
    Adalah, butir** kecil yang mpunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang** horisotal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik

    BalasHapus
  68. NAMA:RACHMA SHOUMA AZIZA
    KELAS:XI-KI2
    NO.ABSEN:22
    TUGAS 2

    proses flokulasi adalah proses pertumbuhan flok (partikel terdestabilisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (makroflok).
    Terdapat 2 (dua) perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
    1. Flokulasi Perikinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran μm dengan mengandalkan gerakan Brownian. Biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan flokulasi perikinetik.
    2. Flokulasi Ortokinetik adalah aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran di atas 1μm dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel, tetapi memerlukan pengaduk buatan (artificial mixing)
    Setelah destabilisasi selesai mulai terbentuk agregasi partikel yang mana diameternya lebih kecil dari 1 mikrometer untuk sementara cuma bergerak berdasarkan difusi dan akan terjadi agregasi antar mereka. Dengan ukuran flok dan partikel yang semakin besar semakin penting terjadi agregasi yang disebabkan oleh ortokinetik , maka perbedaan kecepatan diantara partikel semakin besar, akan terjadi pembentukan flok. Dilain pihak jika flok terlalu besar tidak bisa menahan tekanan abrasi didalam air, artinya dengan nilai gradien kecepatan ( G value) yang semakin besar ukuran flok rata-rata akan menurun. Untuk mempertahankan nilai G yang berhubungan dengan ukuran partikel, pada prakteknya dilakukan semacam pengadukan pendahuluan (premixing) dengan nilai G yang tinggi, kalau sudah terjadi flok, nilai G diturunkan. Semakin lama agregat akan menumpuk semakin banyak, tahap berikutnya nilai G diturunkan. Dalam beberapa instalasi, misalnya dari nilai G = 100/dt diturunkan menjadi 10/dt. Dengan demikian ada kesempatan untuk menentukan daya enersi yang akan dimasukkan ke dalam masing-masing tahap sesuai dengan kondisi air baku dan sesuai dengan sistem pemisahan yang akan dilakukan selanjutnya.
    Jika ditinjau dari mekanisme tersebut di atas, maka pada proses flokulasi memerlukan waktu (yang dinyatakan oleh waktu tinggal / detensi = td , dalam detik) yaitu waktu untuk memberi kesempatan ukuran flok menjadi lebih besar dengan berbagai cara yang sudah diterangkan di atas. Disamping memperhatikan waktu, pada proses flokulasi diperhatikan pula kecepatan pengadukan (yang dinyatakan oleh gradien kecepatan = G , dalam dt−1). Kombinasi dari kedua hal penting tersebut, yaitu nilai G x td merupakan kriteria penting yang harus dipenuhi pada proses flokulasi. Nilai spesifik adalah : 104 − 105. Jika nilai spesifik G td dilampaui, maka flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali, sebaliknya jika kurang dari nilai spesifik, maka flok tidak akan terbentuk seperti yang diharapkan.
    Untuk menghasilkan flokulasi yang baik, maka perlu diperhatikan:
     Nilai G : 20 – 70 dt−1
     Waktu tinggal (waktu ditensi) : 20 – 50 menit.

    BalasHapus
  69. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

    - Flokulasi (flocculation)
    - Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulisasi
    - Pengompakan (compacting) : briket, pellet, tablet, granulasi


    FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa. Partikel-partikel zat itu tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama. Disamping itu juga karena tegangan muka antara partikel dan zat cair cukup besar. partikel-partikel itu baru akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan itu disebut Flokulasi.
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi/penyaringan

    3.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    4.PENGOMPAKAN

    A. Briket
    Ini adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.

    B.Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.

    C.Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Kemudian ditekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar tiap-tiap lubang menjalani proses sebagai berikut :
    - Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi
    - Lubang itu berputar melalui perata
    - Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    - Penekan terangkat, dan dasarnya mendorong tablet keatas
    - Tablet yang telah berada diatas keeping dengan pisau penggaruk digeser kepinggir
    - Demikian seterusnya.

    D. Granulasi
    Adalah, butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horisotal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik

    BalasHapus
  70. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 2

    PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADA RUMAH SAKIT

    Air limbah yang berasal dari rumah sakit
    merupakan salah satu sumber pencemaran air
    yang sangat potensial. Hal ini disebabkan
    karena air limbah rumah sakit mengandung
    senyawa organik yang cukup tinggi,
    mengandung senyawa-senyawa kimia yang
    berbahaya serta mengandung mikroorganisme
    pathogen yang dapat menyebabkan penyakit
    (Said, 2003).
    Air limbah rumah sakit adalah seluruh
    buangan cair yang berasal dari hasil proses
    seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi :
    limbah domestik cair yakni buangan kamar
    mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian,
    limbah cair klinis yakni air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian luka, cucian darah. dan lainnya, air limbah laboratorium, dan lain-lain (Said, 2003).
    Berdasarkan Keputusan Menteri Negara
    Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor
    KEP-58/MENLH/12/1995, tentang baku mutu
    limbah cair bagi kegiatan rumah sakit, bahwa
    rumah sakit diwajibkan menyediakan sarana
    pengelolaan limbah cair maupun limbah padat
    agar seluruh limbah yang akan dibuang ke
    saluran umum memenuhi baku mutu limbah
    yang ditetapkan menurut peraturan yang
    berlaku. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto) sebagai
    rumah sakit terbesar di Asia Tenggara sudah
    mempunyai instalasi pengolahan limbah padat
    dan cair yang menjadi percontohan di Jakarta
    (PT Duta Delta Pratama, 1991). Banyak rumah sakit di Jakarta yang menggunakan
    insinerator milik RSPAD untuk
    pengolahan limbah B3 yang dihasilkan.
    RSPAD Gatot Soebroto terbagi menjadi beberapa unit perawatan/pavilyun. Setiap pavilyun tersebut memiliki instalasi pengolahan air limbah. Limbah cair yang dihasilkan Pavilyun Kartika yang masuk ke
    instalasi pengolahan air limbah merupakan limbah cair domestik.
    Instalasi Pengolahan Air Limbah Pavilyun Kartika menggunakan sistem pengolahan biologis dengan Sistem Aerasi Berlanjut(Extended Aeration System).
    Sistem extended aeration termasuk dalam proses pertumbuhan biomassa tersuspensi. Pada proses pertumbuhan biomassa tersuspensi, mikroorganisme bertanggung jawab atas kelangsungan jalannya proses dalam kondisi suspensi liquid dengan metode
    pengadukan/pencampuran yang tepat.

    Biomassa yang ada dinamakan dengan lumpur aktif, karena adanya mikroorganisme aktif yang dikembalikan ke bak/unit aerasi untuk melanjutkan biodegradasi zat organik yang masuk sebagai influen (Tchobanoglous, 2003).
    Proses extended aeration mirip dengan proses konvensional plug-flow, hanya saja extended aeration beroperasi dalam fase respirasi endogenous pada kurva pertumbuhan, yang membutuhkan beban organik (organic loading) yang rendah dengan waktu aerasi yang lebih lama (Reynolds, 1982).

    BalasHapus
  71. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 2

    LANJUTAN :

    UNIT IPAL PAVILYUN KARTIKA

    IPAL Pavilyun Kartika dibangun pada
    tahun 1989, dan beroperasi pada tahun 1991,
    dengan kapasitas 52 m3/hari. (Sumber : PT
    Duta Delta Pratama,1991). IPAL Pavilyun
    Kartika terletak di samping kanan pintu masuk
    utama Pavilyun Kartika. Kapasitas IPAL
    Pavilyun Kartika adalah 52 m3/hari. Lahan
    yang disediakan untuk area IPAL sebesar 4 x
    11 m2.
    Hal yang mendasari pemilihan sistem
    pengolahan biologi dengan teknik extended
    aeration adalah keterbatasan lahan yang
    disediakan untuk IPAL dan kurangnya tenaga
    ahli yang mengerti benar tentang proses
    biologis sehingga dipilih teknologi yang mudah dan sederhana dalam pengoperasiannya.
    Alasan lain adalah alasan ekonomi karena
    sistem ini termasuk murah dan hanya
    ditangani oleh dua orang. IPAL Pavilyun
    Kartika terdiri dari bak pengumpul, screening, bak aerasi, bak sedimentasi, dan bak pengumpul lumpur. Unit Pengolahan Limbah
    Cair Pavilyun Kartika berada di bawah
    pengawasan Unit Kesehatan Lingkungan RSPAD Gatot Soebroto dalam pengukuran karakteristik limbah. Selain pengukuran swapantau, limbah cair Pavilyun Kartika juga
    diperiksa oleh instansi luar yaitu Badan
    Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta.

    Bak Pengumpul dan Screen
    Bak pengumpul ini dimaksudkan untuk
    menampung seluruh limbah cair yang masuk
    ke IPAL Pavilyun Kartika. Agar proses
    pengolahan limbah cair berjalan dengan baik
    maka melewati proses screening, yang
    memisahkan limbah cair dari sampah-sampah
    kasar yang dapat menghambat kerja unit-unit
    IPAL selanjutnya. Dimensi dari bak pengumpul IPAL Pavilyun Kartika adalah :
    - Panjang = 1,5 meter
    - Lebar = 3,6 meter
    - Kedalaman = 4 meter
    - Tebal dinding = 20 cm
    Bak pengumpul tersebut terbuat dari beton bertulang yang berbentuk rectangular. Screen yang dipakai berbahan stainless steel dengan tipe inclined (fixed). Bak pengumpul dan screen merupakan tahap awal (pretreatment) unit IPAL Pavilyun Kartika.

    BalasHapus
  72. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 2

    LANJUTAN :

    Bak Aerasi
    Bak aerasi pada IPAL Pavilyun Kartika berbentuk rectangular dengan konstruksi beton, yang dimensinya adalah :
    - Panjang = 4,5 m
    - Lebar = 3,6 m
    - Kedalaman = 3,5 m
    Inlet bak aerasi terdapat pipa GIP(Galvanized Iron Pipe) dengan diameter 4”, juga terdapat manhole dengan ukuran 60cm x 60 cm. Bak aerasi menggunakan diffuser sebanyak 12 buah dengan jenis fine bubble diffuser.
    Outlet bak aerasi menuju bak sedimentasi berupa pipa PVC dengan diameter 4”. Bak aerasi pada IPAL Pavilyun Kartika berfungsi meningkatkan kandungan oksigen dalam air buangan. Peavy (1985) menyatakan bahwa aerasi
    digunakan untuk menambahkan oksigen ke dalam air buangan. Bak aerasi IPAL Pavilyun Kartika menggunakan diffuser sebanyak 12 buah. Air limbah akan melewati kisi penyaring untuk memisahkan limbah cair dari buangan padat agar proses pengolahan dapat
    berlangsung lebih cepat. Air buangan kemudian turun ke bak aerasi dan bergabung dengan flok aktif yang kembali dari bak pengendap. Udara dihembuskan blower melalui diffuser.
    Diffuser yang dipilih adalah anti sumbat
    dengan lubang kecil agar didapat pembagian udara yang merata. Bak aerasi dan diffuser dibuat/dipasang sedemikian rupa yaitu terdiri dari beberapa bak terpisah yang
    dihubungkan dengan pipa-pipa, sehingga terjadi efek pencampuran dan pengadukan yang cukup agar seluruh bagian air terkena kontak dengan oksigen terlarut (DO) dan tidak terjadi pengendapan zat padat dalam bak ini.
    Lamanya periode aerasi bergantung pada jumlah BOD. Dalam suasana aerobik, lumpur aktif yang datang dari bak pengendap akan segera berubah dari bahan organik tak stabil (secara biologis) menjadi bahan mudah tercampur yang kemudian menjadi makanan bakteri. Akibat proses pengadukan dalam bak ini, bahan koloid dan bahan organik tersuspensi yang diserap sel bakteri akan
    membentuk flok lumpur aktif yang cenderung
    mengendap jika kondisinya memungkinkan.
    Campuran lumpur yang diaktifkan ini kemudian
    mengalir ke bak pengendap yang kondisinya akan memungkinkan berlangsungnya proses
    pengendapan untuk memisahkan lumpur/zat
    padat dari air.

    BalasHapus
  73. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 2

    LANJUTAN :

    Bak Pengendap
    Bak sedimentasi pada IPAL Pavilyun Kartika berbentuk rectangular, dengan konstruksi beton , dan berdimensi :
    - Panjang = 1,7 m
    - Lebar = 3,6 m
    - Kedalaman = 3,5 m
    Inlet bak sedimentasi berupa pipa PVC dengan diameter 4”, terdapat pula selang untuk sirkulasi air yang harus diolah kembali
    dalam bak aerasi. Dasar dari bak sedimentasi
    berbentuk kerucut. Proses yang terjadi pada
    bak sedimentasi adalah pengendapan terhadap hasil degradasi bahan organik secara biologi yang terbentuk berupa lumpur melalui proses biologis aerob yang berlangsung di bak aerasi. Lumpur yang terbentuk akan terkumpul
    di dasar bak sedimentasi lalu dikeluarkan ke
    bak pengumpul lumpur.

    Bak Pengumpul Lumpur
    Bak pengumpul lumpur pada IPAL Pavilyun Kartika berbentuk rectangular, dengan konstruksi terbuat dari beton, dan berdimensi :
    - Panjang = 1,3 m
    - Lebar = 2,4 m
    - Kedalaman = 3,5 m
    Inlet bak pengumpul lumpur merupakan pipa PVC 4”. Lumpur yang dihasilkan IPAL Pavilyun Kartika tidak banyak hanya 1/3 dari volume bak pengumpul lumpur tersebut.
    Lumpur yang ada dalam bak pengumpul lumpur diambil secara manual setiap satu tahun sekali oleh pegawai IPAL Pavilyun Kartika atau dengan bantuan mobil penyedot lumpur.
    Bak pengumpul lumpur ini dimaksudkan untuk menampung seluruh limbah cair yang masuk menuju IPAL Pavilyun Kartika. Agar proses
    pengolahan limbah cair berjalan dengan baik maka melewati proses screening, yang memisahkan limbah cair dari sampah-sampah kasar yang dapat menghambat kerja unit-unit IPAL selanjutnya. Proses biologis membutuhkan debit yang konstan, sehingga bak pengumpul disini juga digunakan sebagai tangki aliran rata-rata (TAR). Kondisi dalam bak pengendap akan memungkinkan terjadinya pengendapan untuk memisahkan zat padat dalam bentuk lumpur organik. Buffle disediakan untuk memperkecil efek kejutan aliran dalam
    bak pengendap. Lumpur akan mengendap dan terkumpul pada bagian kerucut di dasar bak dan langsung dikembalikan ke bak aerasi, sehingga proses aerobik berlangsung secara
    berkesinambungan.

    BalasHapus
  74. Nama : Pungki Siregar
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 20

    TUGAS 2

    Tangki Sedimentasi Pada IPAL

    Sedimentasi adalah pemisahan padatan dan cairan (solid-liquid) dengan menggunakan gaya gravitasi untuk mengendapkan partikel suspensi, baik dalam pengolahan air bersih (IPAM), maupun dalam pengolahan air limbah (IPAL). Ada empat kelas atau jenis pengendapan partikel secara umum yang didasarkan pada konsentrasi dari partikel yang saling berhubungan.

    Kriteria ini secara langsung mempengaruhi konstruksi dan disain sedimentasi. Empat jenis Pengendapan tersebut adalah :Masing-Masing terjadi pada pengolahan air bersih maupun pengolahan air limbah. Pertama adalah Discrete settling adalah pengendapan yang memerlukan konsentrasi suspended solid yang paling rendah, sehingga analisisnya menjadi yang paling sederhana. Di dalam Discrete settling, partikel secara individu mengendap dengan bebas dan tidak mengganggu atau tidak mencampuri pengendapan dari partikel lainnya. Contoh aplikasi dari Discrete settling adalah grit chambers. Jenis pengendapan kedua adalah flocculant settling. Pada flocculant settling inilah konsentrasi partikel cukup tinggi terjadi pada penggumpalan (agglomeration). Peningkatan rata-rata massa partikel ini menyebabkan partikel karam lebih cepat. Flocculant settling banyak digunakan pada primary clarifier Jenis yang ketiga adalah Hindred Settling. Di dalam Hindred Settling, atau Zone Settling, konsentrasi partikel adalah tidak terlalu tinggi (cukup) kemudian partikel bercampur dengan partikel lainnya dan kemudian mereka karam bersama-sama.

    Hindred Settling sebagian besar digunakan di dalam secondary clarifiers. Jenis terakhir adalah Compression Settling. Compression Settling berada pada konsentrasi yang paling tinggi pada suspended solid dan terjadi pada jangkauan yang paling rendah dari clarifiers. Pengendapan partikel dengan cara memampatkan (compressing) massa partikel dari bawah. Tekanan (compression) terjadi tidak hanya di dalam zone yang paling rendah dari secondary clarifiers tetapi juga di dalam tangki sludge thickening. Secara aktual sedimentasi terdiri dari rectangular dan circular. Bak single-rectangular akan lebih ekonomis dibandingkan dengan bak circular pada ukuran yang sama; bagaimanapun, jika banyak tangki diperlukan, unit rectangular dapat dibangun dengan dinding pada umumnya dan menjadi yang paling hemat.

    BalasHapus
  75. NAMA : MELINDA AYU WULANDARI
    KELAS : XI KI-2
    NO.ABSEN : 09



    PROSES PENGOLAHAN AIR MINUM PDAM SURABAYA


    Sebelum air mengucur ke pelanggan, ada enam tahap pengolahan air. Proses ini juga dilakukan di instalasi air PDAM Ngagel 1 di Jagir, Wonokromo.

    1.air Kali Surabaya diendapkan di dalam kolam berkapasitas 776,25 meter kubik. Untuk memisahkan air dari pasir atau lumpur.

    2.Setelah diendapkan, air yang masih keruh itu dialirkan ke kolam penampungan guna memisahkan air dengan pasir. Pada tahap ini, air dicampur dengan tawas.

    3.Tahap berikutnya adalah flokulasi air (pembentukan partikel flok), yaitu mengalirkan air ke empat bak penampung setinggi 5 meter. Di dalam bak ini, ditambahkan lagi tawas sebanyak 50 ppm untuk kapasitas produksi air 1.600 liter per detik.

    4. dari proses flokulasi itu, air dialirkan ke 160 petak penampung berkapasitas 50,07 meter kubik per detik. Di dasar petak ini, dipasang pasir slika sebagai filter. Namun, tidak semua petak terisi penuh. Ada yang kosong separuh dan seperempatnya. Petak-petak ini tampak kotor. Lumut berwarna hijau tampak di mana-mana. Keran-kerannya juga tampak karatan.

    5. Air di petak-petak ini kemudian dialirkan ke tiga bak besar, yang setiap baknya berkapasitas 350-400 meter kubik air. Tapi, sebelum ditampung, air dicampur dulu dengan gas klor untuk membunuh bakteri. Selain itu, diberi karbon aktif untuk menyerap warna dan diberi kapur gamping untuk menetralkan keasaman air. Dengan proses ini, air tampak jernih dan kemudian dialirkan ke konsumen.

    BalasHapus
  76. NAMA : MELINDA AYU W
    KELAS : XI KI-2
    NO.ABSEN : 09



    Proses Pengolahan Air


    Tidak semua sumber daya air yang tersedia di alam secara langsung memenuhi syarat untuk digunakan sebagai air minum. Oleh karena itu untuk menghasilkan air yang memenuhi syarat air minum perlu dilakukan pengolahan atau penjernihan air.

    Penjernihan air lebih ditekankan pada proses pembersihan air dari pencemaran berupa : perubahan warna, kandungan mineral, mikroba, dan kekeruhan. Penjernihan air merupakan proses kombinasi secara fisik, kimia, dan biologi (Winarno, 1986). Sedangkan pengolahan air lebih dite¬kankan pada pembersihan air dari kandungan zat pencemar bahan organik, radio aktif dan kontaminasi.
    Kualitas air bahan baku akan menentukan jenis atau cara pengolaan air yang akan dilakukan. Perbedaan dalam derajat kandungan bahan pencemar dari unsur fisik, kimia, dan bakteri menyebabkan perbedaan cara pengolahan. Mahbub (1986) mengutarakan bahwa tingkat pengolahan air tergan-tung pada karakteristik perairan yaitu jumlah dan kualitas air serta pemanfaatannya. Air bahan baku yang berasal dari sungai pada umumnya lebih banyak mengandung bahan pencemar dari pada air bahan baku dari mata air dan sumur artesis.
    Cara-cara utama yang digunakan di dalam pabrik pengolahan air, khususnya di kota, untuk menghasilkan air dengan kualitas yang aman untuk konsumsi manusia adalah : sedimentasi, filtrasi, dan klorinasi (Hadioetomo, 1981). Sementara itu Winarno (1986) menjelaskan, bergantung pada kualitas air, cara pengolahan dan penjernihan air dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu : pengendapan, penggumpalan, penyaringan, aerasi, klorinasi, dan pelunakan air.
    Pengolahan air yang berasal dari sungai dapat dilakukan dengan cara koagulasi, flokulasi, pengendapan, penyaringan, dan disinfeksi.

    Koagolasi bertujuan membubuhkan koagulan dan mengaduknya dengan cepat sehingga tersebar ke dalam air dan terjadi penggumpalan partikel-partikel menjadi gumpalan-gumpalan yang besar sehingga mudah diendapkan atau disa-ring pada proses pengendapan. Sedangkan disinfeksi bertu¬juan mematikan mikroorganisme yang terdapat dalam air.


    Menurut, kepala Laboratorium, Agung Widodo, secara garis besar pengolahan air minum dibagi menjadi 3 jenis.

    Pertama, Pengolahan Fisik. Yaitu pengolahan yang ditujukan untuk mengurangi kotoran kasar seperti benda-benda terapung, pasir, dan zat organik yang ada didalam air. Proses pengolahan ini adalah Bar Screen, Sedimentasi, dan Filtrasi.

    Kedua, Pengolahan Kimiawi. Yaitu pengolahan yang ditujukan untuk mengurangi kotoran didalam air dalam bentuk koloidal, menghilangkan dan memperbaiki unsur-unsur kimia yang tidak dikehendaki yang terdapat didalam air dengan menggunakan bahan kimia. Proses pengolahan kimiawi adalah seperti Aerasi, Koagulasi, Flokulasi dan Netralisasi.

    Ketiga, Pengolahan Bakteriologis. Yaitu pengolahan yang ditujukan untuk memusnahkan bakteri yang terdapat didalam air dengan cara pembubuhan desinfektan

    BalasHapus
  77. NAMA : MELINDA AYU W
    KELAS : XI KI-2
    NO.ABSEN : 09


    PROSES PEMBESARAN

    Adalah proses mengubah benda berukuran kecil menjadi berukuran lebih besar. Contohnya dari serbuk menjadi butir-butir kecil.
    Klasifikasi proses pembesaran:
    1.flokulasi (flocculation)
    2.fusi (fusion): Aglomerisasi, Nodulasi
    3.pengompakan (compacting): Briket, pelet, tablet, granulasi

    1.FLOKULASI
    Adalah penggabungan suatu koloid disperse partikel-partikel zat padat yangp yang sangat halus dalam cairan untuk disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung jadi satu hingga ukurannya menjadi besar.
    Flokulasi terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan(untuk mengurangi tegangan permukaan) atau elektrolit (untuk menetralkan). Contoh flokulasi dalam industri adalah pengendapan latex dengan penambahan elektrolit.
    urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah : Pencampuran, Flokulasi, Sedimentasi /penyaringan. Oleh karena itu, alat flokulasi atau disebut flokulator bentuknya sama dengan alat sedimentasi.

    2.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3.PENGOMPAKAN
    a.briket
    pembuatannya : campuran granule dipres dalam cetakan berbentuk tertentu lalu ditambahkan pelincir seperti talk, wax, dll, agar tidak menempel pada cetakan. Kadang-kadang juga diperlukan zat pengikat.
    b.pellet
    Pembuatannya : dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga berbentuk pellet.
    c.tablet
    Pembuatannya: dengan mengisikan bahan yang berbentuk serbuk dalam cetakan kemudian dipres. Alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer.
    d.granulasi
    Adalah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    2. Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sebagai debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    Ada beberapa cara pembuatan granule:
    1.Menggunakan zat perekat
    2.Melalui Briket
    3.Dengan pengering pancar (spray dryer)
    4.Dengan proses sphronizing

    BalasHapus
  78. TUGAS 1
    NAMA: PUJI I.
    KELAS:XI KI-2/19

    PROSES PEMBESARAN

    1.PENDAHULUAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
    -Flokulasi (flocculation)
    -Fusi (fusion): Aglomerisasi, Nodulasi
    -Pengompakan (compacting): Briket, Pelet, Tablet, Granulasi
    Terkadang perubahan ukuran linier juga dimasukkan kedalam proses pembesaran.
    Proses ini disebut pencetakan (molding) dan eksruksi (extrusion)

    2.FLOKULASI
    Flokulasidapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface-active agents) atau elektrolit. Zat aktif permukaan dapat mengurangi tegangan permukaan, dan elektrolit untuk menetrallkan muatan partikel tadi tau mengubah PH dan maka partikel tersebut dapat bergabung satu sama lain.
    Urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah: pencampuran, flokulasi, sedimentasi/penyaringan.
    Alat flokulasi disebut flokulator bentuknya seperti alat-alat sedimentasi (thickener) yang dilengkapi dengan pengaduk yang kecepatannya dibuat sedemikian rupa sehinnga pencampuran, flokulasi dan sedimentasi dapat dikerjakan pada alat itu sendiri, misalnya Dorcco Floculator.

    3.FUSI
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair.
    Nodulasi adalah proses pencairan yang terjadi sangat cepat, dan bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi.
    Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam klin berputar (rotary klin) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar, yang berguna memperbesar butiran atau sebuk agar mudah dipindahkan.

    BalasHapus
  79. lanjutan

    4.PENGOMPAKAN
    4.1 Briket
    Briket adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakan aranule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ukuran granule harus memenuhi syarat tertentu, dikarenakan briket yang terbentuk dari granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    Dalam proses ini biasa digunakan pelincir antara lain: talk, wax, asam borax, garam stearat, dan terkadang dalam pembuatan briket ini diperlukan zat pengikat.

    4.2 Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalamcetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahanyang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.

    4.3 Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak sepererti plunyer yang berguna untuk mendorong keluar tablet yang telah terbentuk dalam cetakan itu.
    urutan prosesnya adalah sbb:
    mula" cetakan ini diisi dengan bahan pembuat tablet
    kemudian dilekatkan dengan penekan P
    penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas sehingga tablet keluar diatas
    lubang diisi serbuk bahan melelui corong pengisi
    lubang itu berputar melalui perata
    lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    penekan terangkat dan dasarnya mendorong tablet keatas
    tablet yang telah berada diatas keping dengan pisau peanggaruk digeser ke pinggir
    demikian seterusnya

    4.4 Granulasi
    granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    tujuan granulasi:
    mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    untuk memudahkan transportasi/penyimpanan
    mengurangi kehilangan sebagai debu
    mengirangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara
    cara untuk membuat granule:
    1. menggunakan zat perekat
    beberapa zat yang digunakan sebagai perekat adalah gula, gelatin, dextrinaci, melase dan sebagainya
    2. melalui briket
    pada cara ini serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentudijadikan briket
    3. dengan pengering pancar
    dengan cara ini serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan
    4. dengan proses spheronizing
    pada cara ini tidak diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. hasil dari cara ini kurang kuat sehingga nudah berubah kembali menjadi serbuk.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  80. TUGAS 2
    NAMA:HERNI INDAHWATI
    KELAS: XI KI-2/01

    Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
    Dalam pengolahan air bersih diperlukan unit sebagai berikut :
    1. Intake
    Beberapa lokasi intake pada sumber air yaitu intake sungai, intake danau dan waduk, dan intake air tanah. Jenis-jenis intake, yaitu intake tower, shore intake, intake crib, intake pipe atau conduit, infiltration gallery, sumur dangkal dan sumur dalam (Kawamura, 1991).

    2. Aerasi
    Aerasi digunakan untuk menyisihkan gas yang terlarut di air permukaan atau untuk menambah oksigen ke air untuk mengubah substansi yang di permukaan menjadi suatu oksida. Dalam keadaan teroksidasi, besi dan mangan terlarut di air. Bentuk senyawa dengan larutan ion, keduanya terlarut pada bilangan oksidasi +2, yaitu Page 2


    Evaluasi Desain Instalasi Pengolahan Air PDAM Klaten

    Fe+2 dan Mn+2. Ketika kontak dengan oksigen atau oksidator lain, besi dan mangan akan teroksidasi menjadi valensi yang lebih tinggi, bentuk ion kompleks baru yang tidak larut ke tingkat yang cukup besar. Oleh karena itu, mangan dan besi dihilangkan dengan pengendapan setelah aerasi.
    Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut
    (Peavy, 1985):
    4 Fe+2 + O2 + 10 H2O
    4Fe(OH)3 l + 8 H+
    2 Mn+2 + O2 + 2 H2O
    2MnO2 l
    + 4 H+
    Ada empat tipe aerator yang seringdigunakan, yaitu gravity aerator, spray aerator, air diffuser, dan mechanical aerator. Fungsi dari proses aerasi adalah menyisihkan methana (CH4), menyisihkan karbon dioksida(CO2), menyisihkan H2S, menyisihkan bau dan rasa, menyisihkan gas-gas lain (Fair, 1968).

    3. Koagulasi
    Pada proses koagulasi, koagulan dicampur dengan air baku selama beberapa saat hingga merata. Setelah pencampuran ini,akan terjadi destabilisasi koloid yang ada pada air baku. Koloid yang sudah kehilangan muatannya atau terdestabilisasi mengalami saling tarik menarik sehingga cenderung untukmembentuk gumpalan yang lebih besar.
    Faktor yang menentukan keberhasilan suatu proses koagulasi yaitu jenis koagulan yang
    digunakan, dosis pembubuhan koagulan, dan pengadukan dari bahan kimia (Martin D, 2001;
    Sutrisno, 2002).
    Pengadukan cepat dapat dilakukan dengan cara: pengadukan secara
    hidrolis (terjunan dan pengadukan dalam pipa)
    dan pengadukan secara mekanik. GxTd yang
    disyaratkan untuk koagulasi adalah 20000-
    30000 (Martin D, 2001).

    4. Flokulasi
    Flok-flok kecil yang sudah terbentuk di koagulator diperbesar disini. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk flok yaitu kekeruhan pada air baku, tipe dari suspended solids, pH, alkalinitas, bahan koagulan yang dipakai, dan lamanya pengadukan (Sutrisno,
    2002).
    GxTd yang disyaratkan untuk flokulasi adalah 10.000-100.000 (Martin D, 2001).
    Beberapa tipe flokulator adalah channel floculator (buffle channel horizontal, buffle channel vertikal, buffle channel vertikal dengan diputar, melalui plat berlubang, dalam Cone,
    dan dengan pulsator),
    pengadukan secara mekanik, pengadukan melalui media, pengadukan secara pneumatik (dengan udara).

    5. Sedimentasi
    Sedimentasi adalah pemisahan partikel secara gravitasi. Pengendapan kandungan zat padat di dalam air dapat digolongkan menjadi pengendapan diskrit (kelas 1), pengendapan flokulen (kelas 2), pengendapan zone, pengendapan kompresi/tertekan (Martin D, 2001; Peavy, 1985; Reynolds, 1977).
    Jenis bak pengendap adalah bak pengendap aliran batch dan bak pengendap dengan aliran kontinu. Uniformitas dan turbulensi aliran pada bidang pengendap sangay berpengaruh. Oleh sebab itu, bilangan Fraude yang menggambarkan tingkat uniformitas aliran dan turbulensi aliran yang digambarkan oleh bilangan Reynold harus memenuhi kriteria yaitu:
    bilangan Fraude Fr>10-5 dan bilangan
    Reynold Re < 500.

    BalasHapus
  81. LANJUTAN TUGAS 2

    6. Filtrasi
    Proses filtrasi adalah mengalirkan air hasil sedimentasi atau air baku melalui media pasir. Proses yang terjadi selama penyaringan adalah pengayakan (straining), flokulasi antar butir, sedimentasi antar butir, dan proses biologis. Dilihat dari segi desain kecepatan, filtrasi dapat digolongkan
    menjadi saringan pasir cepat (filter bertekanan dan filter terbuka) dan saringan pasir lambat (Martin D, 2001). Setelah filter digunakan beberapa saat,filter akan mengalami penyumbatan. Untuk itu perlu pembersihan, yang dapat dilakukan dengan pencucian dengan udara dan pencucian dengan air (pencucian permukaan filter dengan penyemprotan dan pencucian dengan backwash).Sedangkan tenaga untuk pencucian dapat dilakukan dengan cara pompa (memompa air yang ada di reservoir penampungke dasar filter), menggelontor air yang ada di reservoir atas (elevated tank) secara gravitasi kedasar filter, dan menggelontor air yang ada di filter sebelahnya ke filter yang sudah jenuh (interfilter). Hal yang dipertimbangkan dalam mendesain proses filtrasi adalah media filter dan hidrolika filtrasi. Page 3

    7. Desinfeksi
    Desinfeksi air minum bertujuan membunuh bakteri patogen yang ada dalam air. Desinfektan air dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:pemanasan, penyinaran antara lain dengan sinar UV, ion-ion logam antara lain dengan copper dan silver, asam atau basa, senyawa-senyawa kimia, dan
    chlorinasi (Sutrisno, 2002).
    Proses desinfeksi dengan klorinasi diawali dengan penyiapan larutan kaporit dengan konsentrasi tertentu serta penetapan dosis klor yang tepat. Metode pembubuhan dengan kaporit yang dapat diterapkan sederhana dan tidak membutuhkan tenaga listrik tetapi cukup tepat pembubuhannya secara kontinu adalah:
    metoda gravitasi dan metode dosing proporsional (Martin D, 2001).

    8. Reservoir
    Reservoir digunakan pada sistem distribusi untuk meratakan aliran, untuk mengatur tekanan, dan untuk keadaan darurat. Jenis pompa penyediaan air yang banyak digunakan adalah: jenis putar (pompa sentrifugal, pompa diffuser atau pompa turbin meliputi pompa turbin untuk sumur dan pompa submersibel untuk sumur dalam), pompa jenis langkah positif (pompa torak, pompa tangan, pompa khusus meliputi pompa vortex atau pompa kaskade, pompa gelembung udara atau air lift pump, pompa jet, dan pompa bilah). Efisiensi pompa umumnya antara 60 sampai 85% (Noerbambang, 2000).
    Sumur dalam I
    Sumur dalam II
    Q = 8,5 L/detik
    Q = 6,7 L/detik
    Air Baku
    Q = 15,2 L/detik
    Fe = 2,5 mg/L
    Aerasi
    Fe = 1,5 mg/L
    Koagulasi
    Fe = 1,4 mg/L
    Flokulasi
    Fe = 1,2 mg/L
    Sedimentasi
    Fe = 0,9 mg/L
    Filtrasi
    Fe = 0,2 mg/L

    Reservoir kapasitas 350 m3

    ^_RnIe_^

    BalasHapus
  82. TUGAS 1
    HERNI INDAHW.
    XI KI-2/01

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
    -Flokulasi (flocculation)
    -Fusi (fusion): Aglomerisasi, Nodulasi
    -Pengompakan (compacting): Briket, Pelet, Tablet, Granulasi
    Terkadang perubahan ukuran linier juga dimasukkan kedalam proses pembesaran.
    Proses ini disebut pencetakan (molding) dan eksruksi (extrusion)

    1.FLOKULASI
    Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface-active agents) atau elektrolit.
    Fungi Zat aktif permukaan : dapat mengurangi tegangan permukaan, dan elektrolit untuk menetrallkan muatan partikel tadi tau mengubah PH dan maka partikel tersebut dapat bergabung satu sama lain.
    Urutan proses penggunaan flokulasi yaitu:
    1. pencampuran
    2.flokulasi
    3.sedimentasi/penyaringan.
    Alat flokulasi disebut flokulator bentuknya seperti alat-alat sedimentasi (thickener) yang dilengkapi dengan pengaduk yang kecepatannya dibuat sedemikian rupa sehinnga pencampuran, flokulasi dan sedimentasi dapat dikerjakan pada alat itu sendiri, misalnya Dorcco Floculator.

    2.FUSI
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair.
    proses pencairan yang terjadi sangat cepat disebut Nodulasi
    bila prosesnya lambat disebut aglomerisasi.
    Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam klin berputar (rotary klin) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar ( untuk memperbesar butiran atau sebuk agar mudah dipindahkan).

    3.PENGOMPAKAN
    1.Briket
    Briket adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakan aranule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ukuran granule harus memenuhi syarat tertentu, dikarenakan briket yang terbentuk dari granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    sebagai Pelincir biasa digunakan talk, wax, asam borax, garam stearat, dan terkadang dalam pembuatan briket ini diperlukan zat pengikat.

    2. Pelet
    Pembuatan pelet yaitu dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.

    3. Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak sepererti plunyer yang berguna untuk mendorong keluar tablet yang telah terbentuk dalam cetakan itu.
    urutan prosesnya sbb:
    mula" cetakan ini diisi dengan bahan pembuat tablet
    kemudian dilekatkan dengan penekan P
    penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas sehingga tablet keluar diatas
    lubang diisi serbuk bahan melelui corong pengisi
    lubang itu berputar melalui perata
    lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    penekan terangkat dan dasarnya mendorong tablet keatas
    tablet yang telah berada diatas keping dengan pisau peanggaruk digeser ke pinggir
    demikian seterusnya

    4. Granulasi
    granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    tujuan granulasi:
    mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    untuk memudahkan transportasi/penyimpanan
    mengurangi kehilangan sebagai debu
    mengirangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara
    cara untuk membuat granule:
    1. menggunakan zat perekat (zat yang seing digunakan sebagai perekat a.l: gula, gelatin, dextrinaci, melase dan sebagainya)
    2. melalui briket
    3. dengan pengering pancar
    4. dengan proses spheronizing
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  83. Nama : Riska Putri. D
    Kelas : X KI 2
    No.absen : 25
    TUGAS 2
    Instalansi Pengolahan Air Minum,
    secara umum ada beberapa unit untuk bangunan IPAM ini dan variatif, umumnya yang konvensional suatu bangunan IPAM memiliki….
    1. Intake (bangunan pengumpul air)
    2. Bar Screen (penyaring kasar)
    3. Bak Prasedimentasi (optional)
    4. Bak Koagulasi
    5. Bak flokulasi
    6. Sedimentasi
    7. filtrasi
    8. desinfeksi
    1. Intake
    merupakan bangunan pengumpul air yang akan diolah, letaknya pada sumber air
    lanjut Gan!!
    2. Bar Screen
    Bar = batang , berbentuk batang batang yang berjajar secara vertikal berfungsi sebagai filter dari pengotor yang berukuran besar (sampah, daun-daun, batang pohon)
    3. Prasedimentasi
    Untuk sumber air baku yang karakteristik turbiditasnya tinggi(kekeruhan yang bikin air coklat2 itu) ,butuh bangunan ini, bentuknya hanya berupa bak sederhana *kyk kolam renang* fungsinya untuk pengendapan partikel2 diskrit dan berat seperti pasir dll..
    4. Koagulasi
    Nah, disinilah proses kimiawi terjadi, air baku akan diberikan suatu koagulan (alumunium sulfat, atau PAC) tujuannya adalah memisahkan air dengan pengotor yang terlarut didalamnya, analoginya misahin air pada susu kedelai . pada unit ini, terjadi pengadukan cepat (rapid mixing) supaya koagulan dapat terlarut merata namun dalam waktu yang singkat. Bentuknya bervariasi, ada yang menggunakan blade-blade pengaduk, atau dibuat suatu terjunan, pokoknya yang bisa bikin airnya terkocok-kocok

    5. Flokulasi
    Merupakan kelanjutan koagulasi, nah pengotor yang awalnya terlarut pada air terpisah, dan akan mengumpul & menumpuk jadi satu (pengotor yg terendapkan disebut flok) ,artinya butuh lokasi yang alirannya lebih tenang namun tetap ada pengadukan supaya pada numpuk (slowmixing) bentuk bangunannya seperti bak dengan blade-blade pengaduk yg lebih lambat, atau dengan kompartemen-kompartemen yang berbentuk seperti labirin. Untuk meningkatkan efisiensi, biasanya ditambah dengan senyawa kimia yang mampu mengikat flok-flok tersebut
    6. Sedimentasi
    nah setelah air dan pengotor terpisah, harus ada tempat buat misahinnya dong? dan bangunan ini tempatnya, yang kuno sih bentuknya seperti bak dengan bentuk prisma terpancung, kayak rumah kebalik aja, ada bagian untuk mengumpulkan flok-flok yang telah terbentuk sebelumnya
    7. Filtrasi
    Masih belum usai, ternyata masih butuh penyaringan lagi, kali ini dengan proses filtrasi. bangunan ini berbentuk persegi panjang berlapis pasir silica, antrasit dll. jadi air akan dialirkan dari atas bangunan dan akan *terfilter* lalu dikumpulkan airnya dibawah bangunan.
    8. Desinfeksi
    Nah setelah bersih dari pengotor, masih ada kemungkinan ada kuman dan bakteri yang hidup, so ditambahlah senyawa kimia yang dpat mematikan kuman ini, yaitu senyawa klor (yang biasanya disebut kaporit) , tapi kor yg konsentrasinya tinggi mematikan lho (hehehe), tapi kaporit yg masih tercium kadang2 di air pam aman kok… dan air siap digunakan hangat hangat.

    BalasHapus
  84. Nama : Riska Putri. D
    Kelas : X KI 2
    No.absen : 25
    TUGAS 1
    PROSES PEMBESARAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu proses pengerjaan untuk menggubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran bertujuan untuk mempermudah proses selanjutnya, yaitu proses penyimpanan dan proses pengendapan.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    • Flokulasi (flocculation)
    • Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    • Pengompakan (compacting) :Briket, Pelet, Tablet, Granulasi
    FLOKULASI
    Alat flokulasi disebut juga Flokulator bentuknya seperti alat-alat sedimentasi (Thickener). Alat ini dilengkapi pengaduk yang kecepatannya dibuat sedemikian rupa sehingga pencampuran, flokulasi dan sedimentasi dapat dikerjakan pada alat itu sendiri, misalnya Dorcco Flocculator.
    FUSI
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikelsehingga sebagian menjadi cair.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi, bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    PENGOMPAKAN
    • Briket
    Briket adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule harus memenuhi syarat. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    • Pelet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    • Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer; gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    • Granulasi
    Granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule ini biasanya dibentuk dari serbuk.
    Ada beberapa cara untuk membuat granule ini yaitu :
    1. menggunakn zat perekat
    2. melalui briket
    3. dengan pengering pancar (spray Dryer)
    4. dengan proses Spheronizing
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdidi dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  85. Nama :Nurohman
    Kelas :XI KI 2
    No Absen:14

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    1. Pendahuluan
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
    Flokulasi (Flocculation).
    Fusi :Aglomerisasa, Nodulasi.
    Pengompakan (compacting):Briket, Pelet, Granulasi.

    2. Flokulasi
    Flokulasi adalah penggabungan beberapa partikel menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar.Flokulasi daapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface-active agents) atau elektrolit.Alat flokulasi atau disebut flokulator bentuknya seperti alat sedimentasi (Thickner).

    3. Fusi
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair.Bila proses pencairan ini sangat cepat maka disebut Nodulasi, bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi.

    4. Pengompakan
    4.1 Briket
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan pengompakkan granule menjadi satu.Dalam proses mencetak diperlukan pelincir (lubricant) seperti talk,wax,asam borak,garam stearat dan sebagainya.
    4.2 Pelet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan cara menekan bahan-itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah pellet.
    4.3 Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres.Urutan prosesnya adalah sebagai berikut:
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet.
    - Kemudian ditekan dengan penekan P.
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas.
    4.4 Granulasi
    Granulasi adalah butiran-butiran kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule ini biasanya dibentuk dari serbuk.Ada beberapa cara untuk membuat granule ini yaitu:
    - Menggunakan zat perekat
    - Melalui briket
    - Dengan pengeringan pancar (Spray Dryer)
    - Dengan proses Spheronizing.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  86. Nama : Venny Armanda
    Kelas : XI KI 2
    No.absen : 31

    TUGAS 2

    FLOKULSI


    Unit flokulasi merupakan unit pengadukan lambat setelah koagulasi, yang berfungsi untuk mempercepat penggabungan partikel-partikel kolid sehingga terbentuk partikel-partikel berukuran besar yang dengan mudah dan cepat mengendap.Secara garis besar mekanisme pembentukkan flok terdiri atas 4 tahap :
    •Tahap destabilisasi partikel koloid

    •Tahap pembentukkan mikroflok•Tahap penggabungan mikroflok

    •Tahap pembentukkan makroflokTahap pertama dan kedua berlangsung selama proses koagulasi, sedangkan tahap ketiga dan keempat berlansung pada proses flokulasi.Kriteria desain dari unit flokulasi hidrolis adalah sebagai berikut ;G = 10 – 100 /detik (Schulz & Okun, 1992)GT = 10.000 – 100.000 (Kawamura, 1991)Td = 15 – 30 menit (Kawamura, 1991)Tingkat efisiensi terjadinya proses flokulasi sebagian besar ditentukan oleh banyaknya tabrakan yang terjadi antara patikel-partikel teragulasi dalam satuan unit waktu.

    Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam desain unit flokulasi :
    •Kualitas air baku dan karakteristik flokulasi•Kualitas tujuan dari proses pengolahan

    •Headloss tersedia dan variasi debit instalasiFlokulasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu :

    •Hidrolis, prinsip kerja flokulator ini adalah dengan cara pengadukan (mixing) contohnya adalah horizontal-flow baffle channel, vertikal- flow baffle channel dan heksakoloidal-flokulator

    •Mekanis, contoh : mekanik paddle dan mekanik propeller

    •Pneumatis, flokulator ini dirancang dengan cara mensuplai udara ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi.

    Jenis flokulator ini jarang sekali kita temukan saat iniDalam instalasi PDAM Poncol pada unit flokulasi menggunakan jenis flokulasi vertical baffle channel. Dalam 1 unit flokulasi terdapat 6 kompartemen yang berbentuk hexacoiddal.

    BalasHapus
  87. Nama : Linda Purwanti
    Kelas : XI KI-2
    No.Absen ; 07

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement )adalAh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Misal dari serbuk menjadi butir-butir atau butir2 kecil menjadi tablet.Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    1. FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa karena zat ini tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan muatan elektrotatis yang sama.
    Penggabungan antara partikel-partikel yang menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar disebut Flokulasi.Urutan proses dalam penggunaan Flokulasi adalah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi
    Alat Flokulasi disebut Flokulator yang bentuknya seperti alat sedimentasi.

    2. FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. PENGOMPAKAN
    a. Briket,
    Yaitu dengan mengompakkan granulemenjadi satu. Dalam pembuatan briket granule-granule yang berukuran sama akan kurang kuat,maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    Campuran partikel-partikel itu kemudian dipres dalam cetakanyang bentuknya tertentu,dalam proses mencetakini perlu ditambahkan pelincir agar tidak menempel pada cetakan.
    b. Pelet,
    Yaitu,dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.
    c. Tablet,
    Prinsipnya, engan mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dapat bergerak seperti plunyer,gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan.
    Pembuatan tablet juga dapat dilakukan secara kontinyu,yaitu dengan membuat lubang-lubang cetak itu pada keeping silinder. Keping silinder ini kemudian diputar oleh sbuah motor,sehingga lubang-lubang itu turut berputar.
    d. Granulasi,
    Granulasi adalah butir-butir yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator ialah suatu gilingan yg terdiri dr batang” horizontal yg membentuk silinder dan bergerak bolak balik
    Tujuan granulasi adalah:
    - Mempersiapkanbenda untukproses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan.
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu.
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.
    Beberapa cara untuk membuat granule :
    a. Menggunakan zat perekat, untuk serbuk-serbuk yang daya rekatnya kurang
    b. Melalui briket,
    c. Dengan pengering pancar,
    d. Dengan proses Spheronizing.

    BalasHapus
  88. Nama : M. Ali Wafa
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 10

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran besar. Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

    - Flokulasi (flocculation)
    - Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulisasi
    - Pengompakan (compacting) : briket, pellet, tablet, granulasi


    FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa. Partikel-partikel zat itu tidak dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabkan adanya muatan elektrostatis yang sama. Disamping itu juga karena tegangan muka antara partikel dan zat cair cukup besar. partikel-partikel itu baru akan dapat disaring atau diendapkan bila beberapa partikel menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar. Penggabungan itu disebut Flokulasi.
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi/penyaringan

    3.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    4.PENGOMPAKAN

    A. Briket
    Ini adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.

    B.Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.

    C.Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Kemudian ditekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar tiap-tiap lubang menjalani proses sebagai berikut :
    - Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi
    - Lubang itu berputar melalui perata
    - Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    - Penekan terangkat, dan dasarnya mendorong tablet keatas
    - Tablet yang telah berada diatas keeping dengan pisau penggaruk digeser kepinggir
    - Demikian seterusnya.

    D. Granulasi
    Adalah, butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horisotal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik

    BalasHapus
  89. Nama : Yenni Indrawati
    Kelas : XI KI-2
    No.Absen : 33

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement )adalAh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Misal dari serbuk menjadi butir-butir atau butir2 kecil menjadi tablet.
    Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    1. FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa karena zat ini tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan muatan elektrotatis yang sama.
    Penggabungan antara partikel-partikel yang menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar disebut Flokulasi.Urutan proses dalam penggunaan Flokulasi adalah : Pencampuran, Flokulasi,Sedimentasi.
    Alat Flokulasi disebut Flokulator yang bentuknya seperti alat sedimentasi.

    2. FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3. PENGOMPAKAN
    a. Briket,
    Yaitu dengan mengompakkan granulemenjadi satu. Dalam pembuatan briket granule-granule yang berukuran sama akan kurang kuat,maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    Campuran partikel-partikel itu kemudian dipres dalam cetakanyang bentuknya tertentu,dalam proses mencetakini perlu ditambahkan pelincir agar tidak menempel pada cetakan.
    b. Pelet,
    Yaitu,dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang.kemudian bahan yang keluar dari lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pelet.
    c. Tablet,
    Prinsipnya, engan mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk ke dalam cetakan, kemudian dipres.alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dapat bergerak seperti plunyer,gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan.
    d. Granulasi,
    Granulasi adalah butir-butir yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator ialah suatu gilingan yg terdiri dr batang” horizontal yg membentuk silinder dan bergerak bolak balik
    Tujuan granulasi adalah:
    - Mempersiapkanbenda untukproses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi dan penyimpanan.
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu.
    - Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dengan udara.
    Beberapa cara untuk membuat granule :
    Menggunakan zat perekat melalui briket,dengan pengering pancar,dengan proses Spheronizing.

    BalasHapus
  90. Nama : Iwan dwi prasetiyo
    Kelas : XI KI 2
    No.absen : 05

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    1. Pendahuluan
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
    Flokulasi (Flocculation).
    Fusi :Aglomerisasa, Nodulasi.
    Pengompakan (compacting):Briket, Pelet, Granulasi.

    2.FLOKULASI
    Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface-active agents) atau elektrolit.
    Fungi Zat aktif permukaan : dapat mengurangi tegangan permukaan, dan elektrolit untuk menetrallkan muatan partikel tadi tau mengubah PH dan maka partikel tersebut dapat bergabung satu sama lain.
    Urutan proses penggunaan flokulasi yaitu:
    1. pencampuran
    2.flokulasi
    3.sedimentasi/penyaringan.
    Alat flokulasi disebut flokulator bentuknya seperti alat-alat sedimentasi (thickener) yang dilengkapi dengan pengaduk yang kecepatannya dibuat sedemikian rupa sehinnga pencampuran, flokulasi dan sedimentasi dapat dikerjakan pada alat itu sendiri, misalnya Dorcco Floculator.

    3.FUSI
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikelsehingga sebagian menjadi cair.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi, bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    4.PENGOMPAKAN
    • Briket
    Briket adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule harus memenuhi syarat. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    • Pelet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    • Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer; gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    • Granulasi
    Granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule ini biasanya dibentuk dari serbuk.
    Ada beberapa cara untuk membuat granule ini yaitu :
    1. menggunakn zat perekat
    2. melalui briket
    3. dengan pengering pancar (spray Dryer)
    4. dengan proses Spheronizing
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdidi dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  91. Generasi Enom"an16 April 2010 03.05

    Nama : Revan Jaya Kusuma
    Kelas : XI KI2
    No.absen : 23

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement )adalAh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Misal dari serbuk menjadi butir-butir atau butir2 kecil menjadi tablet.Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    1. FLOKULASI
    Suatu koloid dispersi partikel-partikel zat padat yang sangat halus dalam cairan, tidak dapat disaring atau diendapkan secara biasa karena zat ini tidak dapat bersatu karena gaya tolak-menolak yang disebabkan muatan elektrotatis yang sama.
    Penggabungan antara partikel-partikel yang menggabung menjadi satu sehingga ukurannya menjadi besar disebut Flokulasi.Urutan proses dalam penggunaan Flokulasi adalah :
    a. Pencampuran
    b. Flokulasi
    c. Sedimentasi
    Alat Flokulasi disebut Flokulator yang bentuknya seperti alat sedimentasi.

    2. FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara partikel-partikel kecil sehingga sebagian menjadi cair. Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi. Bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln) yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    3.PENGOMPAKAN

    A. Briket
    Ini adalah suatu bentuk tertentu yang dapat dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule itu harus memenuhi syarat tertentu. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.

    B.Pelet
    Pembuatan pelet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.

    C.Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Urutan prosesnya adalah sebagai berikut :
    - Mula-mula cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    - Kemudian ditekan dengan penekan P
    - Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar tiap-tiap lubang menjalani proses sebagai berikut :
    - Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi
    - Lubang itu berputar melalui perata
    - Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    - Penekan terangkat, dan dasarnya mendorong tablet keatas
    - Tablet yang telah berada diatas keeping dengan pisau penggaruk digeser kepinggir
    - Demikian seterusnya.

    D. Granulasi
    Adalah, butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu.
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang-batang horisotal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  92. Nama : M. Ali Wafa
    Kelas : XI KI 2
    No. Absen : 10

    Tugas 2
    Pengolahan Air Limbah

    Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli. Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan.

    Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, blowdown beberapa peralatan seperti kettle boiler dan sistem air pendingin, serta sanitary wastes. Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.

    Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari total organic carbon (TOC), chemical oxygen demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak dan lemak (O&G), dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi.

    Teknologi Pengolahan Air Limbah
    Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:

    1. Pengolahan Awal (Pretreatment)
    Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.

    2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
    Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.

    3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
    Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated lagoon, stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.

    4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
    Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.


    5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
    Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.

    BalasHapus
  93. Nama : M. Jawairul Ulum
    Kelas : XI KI 2
    No.absen : 11

    TUGAS 1

    PROSES PEMBESARAN
    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu proses pengerjaan untuk menggubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran bertujuan untuk mempermudah proses selanjutnya, yaitu proses penyimpanan dan proses pengendapan.
    Proses pembesaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
    • Flokulasi (flocculation)
    • Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    • Pengompakan (compacting) :Briket, Pelet, Tablet, Granulasi
    FLOKULASI
    Alat flokulasi disebut juga Flokulator bentuknya seperti alat-alat sedimentasi (Thickener). Alat ini dilengkapi pengaduk yang kecepatannya dibuat sedemikian rupa sehingga pencampuran, flokulasi dan sedimentasi dapat dikerjakan pada alat itu sendiri, misalnya Dorcco Flocculator.
    FUSI
    Fusi adalah proses pemanasan sementara partikel-partikelsehingga sebagian menjadi cair.
    Bila proses pencairan itu sangat cepat maka disebut Nodulasi, bila prosesnya lambat disebut Aglomerisasi. Alat nodulasi atau aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.
    PENGOMPAKAN
    • Briket
    Briket adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan mengompakkan granule menjadi satu. Dalam pembuatan briket ini ukuran granule-granule harus memenuhi syarat. Karena briket yang terbentuk dari granule-granule yang ukurannya sama kurang kuat, maka fraksi dari ukuran yang lebih kecil ini harus tertentu.
    • Pelet
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan-bahan itu dalam cetakan yang berlubang-lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang-lubang tadi dipotong sehingga terjadilah bentuk pellet.
    • Tablet
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan-bahan yang berbentuk serbuk kedalam cetakan, kemudian dipres. Alat pembuat tablet ini terdiri dari lubang yang berbentuk silinder yang dasarnya dapat bergerak seperti plunyer; gunanya untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    • Granulasi
    Granulasi ialah butir-butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule ini biasanya dibentuk dari serbuk.
    Ada beberapa cara untuk membuat granule ini yaitu :
    1. menggunakn zat perekat
    2. melalui briket
    3. dengan pengering pancar (spray Dryer)
    4. dengan proses Spheronizing
    Granulator adalah suatu gilingan yang terdidi dari batang-batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak-balik.

    BalasHapus
  94. Generasi Enom"an16 April 2010 03.22

    Nama : Revan jaya kusuma
    Kelas : XI KI2
    No.absen : 23

    TUGAS 2

    Teknologi Pengolahan Air Sumur Untuk Air Minum

    Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Karena itu jika kebutuhan akan air tersebut belum tercukupi maka dapat memberikan dampak yang besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Air yang layak diminum, mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan bakteriologis, dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diminum. Pemakaian air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara perlahan.

    Untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satu alternatif yakni dengan cara mengolah air tanah atau air sumur sehingga didapatkan air dengan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan.

    Tujuan teknologi pengolahan air ini adalah unutk meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya masyarakat yang masih menggunakan air tanah atau air sumur sebagai sumber kebutuhan air bersih. Sedangkan sasarannya adalah menyebar luaskan paket teknologi pengolahan air sumur siap minum kepada masyarakat yang memerlukan.

    Unit alat pengolahan air ini dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas air sumur atau air tanah sehingga langsung dapat diminum tanpa proses pemanasan. Unit alat ini sangat cocok digunakan untuk keperluan Asrama, Pesantren, Pemukiman padat penduduk, Dll.

    BAHAN
    Pasar Silika
    Kerikil
    Mangan Zeolit
    Karbon Aktif Butiran (Granular)
    Kaporit

    PERALATAN
    Spesifikasi teknis peralatan (Kapasitas 10000 liter/hari)
    A. Pompa Air Baku
    B. Pompa dosing
    C. Tangki Bahan Kimia
    D. Tangki Reaktor
    E. Saringan Pasir Cepat (Sand Filter)
    F. Filter Mangan Zeolit
    G. Filter Karbon Aktif
    H. Filter Cartridge
    I. Sterilisator Ultra Violet

    CARA PEMBUATAN
    Untuk mengolah air sumur menjadi air yang siap minum, proses pengolahannya adalah seperti ditunjukkan pada gambar 1. Air dari sumur dipompa dengan menggunakan pompa jet, sambil diinjeksi dengan larutan klorine atau kaporit dialirkan ke tangki reaktor. Dari tangki reaktor air dialirkan ke saringan pasir cepat untuk menyaring oksida besi atau oksida mangan yang terbentuk di dalam tangki reaktor. Setelah disaring dengan saringan pasir, air dialirkan ke filter mangan zeolit. Filter mangan zeolit berfungsi untuk menghilangkan zat besi atau mangan yang belum sempat teroksidasi oleh khlorine atau kaporit.

    BalasHapus
  95. Nama : Iwan dwi prasetiyo
    Kelas : XI KI2
    No.absen : 05

    TUGASE 2

    pemurnian Air adalah proses mengeluarkan zat kimia yang tidak diinginkan, bahan, dan kontaminan biologis dari air baku. Tujuannya adalah untuk menghasilkan air cocok untuk tujuan tertentu. Sebagian besar air murni untuk konsumsi manusia ( air minum ) tetapi juga pemurnian air dapat dirancang untuk berbagai tujuan lain, termasuk memenuhi persyaratan medis, farmakologi, kimia dan aplikasi industri. Secara umum metode yang digunakan mencakup proses fisik seperti filtrasi dan sedimentasi , proses biologis seperti filter pasir lambat atau lumpur aktif , proses kimia seperti flokulasi dan klorinasi dan penggunaan radiasi elektromagnetik seperti sinar ultraviolet .

    Standar untuk minum kualitas air biasanya ditetapkan oleh pemerintah atau dengan standar internasional. Standar-standar ini biasanya akan menetapkan minimum dan maksimum konsentrasi kontaminan untuk penggunaan yang terbuat dari air.

    Menurut tahun 2007 Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan, 1,1 miliar orang tidak memiliki akses ke ditingkatkan air minum pasokan, 88% dari 4 milyar tahunan kasus penyakit diare yang disebabkan oleh air yang tidak aman dan tidak memadai sanitasi dan kebersihan, dan 1,8 juta orang meninggal karena diare penyakit setiap tahun. WHO memperkirakan bahwa 94% dari kasus diare dapat dicegah melalui modifikasi lingkungan, termasuk akses terhadap air bersih. [1] teknik sederhana untuk pengolahan air di rumah, seperti klorinasi, filter, dan disinfeksi surya, dan menyimpannya dalam aman kontainer bisa menyelamatkan sejumlah besar nyawa setiap tahun. [] 2 Mengurangi kematian akibat penyakit ditularkan melalui air adalah utama kesehatan masyarakat tujuan di negara-negara berkembang.


    SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH

    Sistem pengolahan air bersih dengan sumber air baku sungai, tanah dan air pegunungan, dengan skala atau standar air minum, memerlukan beberapa proses. Mengenai proses yang perlu diterapkan tergantung dari kualitas air baku tersebut. Proses yang diterapkan dalam sistem pengolahan air bersih antara lain:

    Proses penampungan air dalam bak penampungan air yang bertujuan sebagai tolak ukur dari debit air bersih yang dibutuhkan. Ukuran bak penampungan disesuaikan dengan kebutuhan (debit air) yang mana ukuran bak 2 kali dari kebutuhan

    Proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air agar kadar-kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya yang terkandung dalam air mudah terurai. Dalam proses ini ada beberapa perlakuan yang bisa dilakukan seperti dengan penambahan oksigen dengan sistem aerasi (dengan menggunakan alat aerator) dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan katalisator bahan kimia untuk mempercepat proses terurainya kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya (dengan menggunakan clorine, kaporite, kapur dll

    Proses pengendapan atau koagulasi, proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti bahan koagulan (Hipoklorite/PAC) dengan rumus kimia juga proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik lamela plate

    Proses filtrasi (carbon actived), proses ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran – kotoran yang masih terkandung dalam air dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas air agar air yang dihasilkan tidak mengandung bakteri (sterile) dan rasa serta aroma air. Biasanya proses ini menggunakan bahan sand filter yang disesuaikan dengan kebutuhan baik debit maupun kualitas air dengan media filter (silica sand/quarsa, zeolite, dll)

    Proses terakhir adalah proses pembunuhan bakteri, virus, jamur, makroba dan bakteri lainnya yang tujuannya mengurangi patogen yang ada, proses ini menggunakan proses chlorinator atau sterilisasi dengan menggunakan kaporit.

    BalasHapus
  96. Nama : M. Jawairul Ulum
    Kelas : XI KI 2
    No.absen : 11

    PENGOLAHAN AIR MINUM

    Proses pengolahan air merupakan upaya untuk mendapatkan air yang bersih dan sehat untuk air ninum dan keperluan sehari-hari sesuai dengan standar mutu air untuk kesehatan. Adapun tujuan pengolahan air adalah untuk :
    o menurunkan kekeruhan
    o menghilangkan bau, rasa dan warna
    o menurunkan dan mematikan mikroorganisme (bakteri)
    o megurangi kadar zat kimia yang terlaut dalam air.
    o meurunkan kesadahan

    -Memperbaiki derajat keasaman (pH)
    Berikut ini diuraikan pengolahan air dengan menggunakan proses dua tahap yaitu : pengendapan dengan cara kimia dan penyaringan. Tahap pengendapan dilakukan untuk mengendapkan kotoran berupa lumpur/tanah liat, ion-ion penyebab kesadahan air (besi dan mangan) dan zat-zat terlarut lainnya. Tahap penyaringan dilakukan untuk menghilangkan bau dan endapan.
    1. Alat dan bahan yang diperlukan :

    a. Bahan Kimia untuk Pengendapan :

    Bahan kimia yang digunakan untuk pengolahan 100 liter air adalah 10 gram tawas, 5 gram kaporit, 10 gram kapur (untuk bahan bangunan atau makan sirih). Jumlah dan komposisi bahan pengendap dapat berubah tergantung kondisi air yang diolah. Berapa jumlah yang tepat yang diperlukan untuk mengendapkan sangat tergantung kepekatan kandungan kimiawi air tersebut (berdasarkan pengujian dengan air teh). Bila kandungan kimiawi tidak terlalu pekat maka jumlah bahan kimia yang digunakan dapat dikurangi. Cobalah dahulu dengan satuan terkecil.

    b. Bahan Penyaring

    Bahan penyaring berupa : pasir hitam (diameter 0,3 – 1,2 mm), kerikil (diameter 12 – 30 mm), ijuk, dan arang aktif 9arang dari batok kelapa atau kayu yang dihaluskan). Bila tidak tersedia pasir yang memenuhi syarat dapat digantikan dengan zeolit yang banyak dijual di pasaran.

    c. Bahan Unit Pengolahan

    o 2 buah drum plastik (masing-masing kapasitas 100 liter), bila drum terbuat dari kaleng sebaiknya bagian dalam dilapisi dulu dengan semen untuk mencegah karat.
    o Kayu atau besi untuk rak
    o Keran 2 buah
    o Pipa paralon untuk mengalirkan air
    o (Bahan unit pengolahan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan)

    2. Pengolahan Air

    o Buatlah unit pengolahan air seperti terlihat pada gambar 3
    o Bahan-bahan yang akan digunakan sebagai penyaring dicuci bersih dengan membilas berulang kali dan terahir dengan air panas.
    o Siapkan bahan pengendap dalam dua wadah: pada wadah pertama , Larutkan kaporit dan kapur sebanyak yang dibutuhkan ke dalam setengah liter air hangat. Aduk hingga terlarut. Dalam wadah yang kedua, larutkan tawas dengan setengah liter air hangat.
    o Masukkan air yang akan diolah ke dalam bak pertama sampai penuh. Kemudian tambahkan larutan pengendap dari wadah pertama (campuran kaporit dan kapur) aduklah. Biarkan beberapa saat. Kemudian masukkan larutan pengendap dari wdah kedua (tawas). Biarkan sampai 2 jam hingga semua zat pengotor atau ion-ion mengendap. Lamanya pengendapan ini tergantung banyaknya zat pengotor, jika hanya sedikit tentu akan lengkap mengendap dalam waktu yang kurang dari 2 jam.
    o Setelah lengkap mengendap alirkan air perlahan-lahan ke tangki penyaring. Tangki penyaring tersebut telah diberi alas penyaring Penyaring ini berfungsi untuk menyaring endapan dan menyerap bau yang terdapat dalam air (misalnya bau kaporit berlebih). Air yang dihasilkan, sebelum diminum harus dimasak/didihkan terlebih dahulu Pemeliharaan.

    o Pemeliharaan
    Bila air yang keluar telah keruh dan alirannya kurang lancar berarti dalam saringan sudah banyak kotoran yang terperangkap. Oleh karena itu unit pengolahan air harus dibersihkan. Keluarkan semua bahan-bahan penyaring dan dicuci berulang kali hingga air cucian terlihat bersih. Gunakan air panas pada bilasan terahir. Setelah itu bahan penyaring disusun kembali seperti semula.

    BalasHapus
  97. Nama :Prasetyo Agung
    Kelas :XI ki-2
    No :18

    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklarifikasi menjadi 3 yaitu :
    1.Flokulasi (flocculation)
    2.Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    3.Pengompakan (compacting) : Briket, Pelet, Tablet, Granulasi

    1.FLOKULASI
    Adalah suatu penggabungan antara partikel – partikel yang kecil sehingga ukuran menjadi lebih besar. Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface – active agents) atau elektrolit yang berfungsi untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah PH. Dengan demikian, maka partikel – partikel dapat bergabung satu sama lain. Beberapa contoh flokulasi dalam industry antara lain :
    a. Penambahan ion Al3+ atau Fe3+ pada pembersihan air
    b. Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    c. Pengendapan latex dengan penambahan elektrolit
    d. Penambahan HCl untuk memflokulasikan tanah liat
    Jadi, urutan pada proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi atau penyaringan
    Oleh karena itu, alat flokulasi disebut flokulator yang berbentuk seperti alat sendimentasi (Thickener).

    2.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara pertikel – partikel kecil sehingga sebagian menjadi air. Bila proses pencairan itu sangat cepat, maka disebut Nodulasi, sedangkan bila prosesnya sangat lambat, maka disebut Aglomerisasi. Alat Nodulasi atau Aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    PENGOMPAKAN
    a)BRIKET
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan pengompakan granule menjadi satu.
    b)PELET
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan – bahan itu dalam cetakan yang berlubang – lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang – lubang tadi dipotong, sehingga terjadilah bentuk pellet.
    c)TABLET
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan – bahan yang berbentuk serbuk kedalm cetakan, kemudian diproses. Alat pembuat ini berbentuk silinder yang dasarnyadapat bergerak seperti plunyer yang berfungsi untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    Urutan prosesnya yaitu :
    1.Cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    2.Tekan dengan penekan P
    3.Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    d)GRANULASI
    Ialah butir – butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukan yaitu :
    - Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu
    - Mengurangi luas permukaan dari puder
    Ada beberapa cara untuk membuat granule yaitu :
    1.Menggunakan zat perekat
    Cara ini digunakan untuk serbuk – serbuk yang mempunyai daya rekat kurang. Karena itu, perlu ditambahkan perekat. Contoh zat perekat yaitu air, gula, gelatin, dextrin aci, melase, dll.
    2.Melalui Briket
    Pada cara ini, serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket, kemudian digiling dan diayak.
    3.Dengan Pengering Pancar
    Dengan cara ini, serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan yang memerlukan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan cara yang lainnya.
    4.Dengan Proses Spheronizing
    Cara ini tidak diberi zat tambahan apapun. Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horizontal. Hasil cara ini kurang kuat, sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.
    Granulator adalah suatun gilingan yang terdiri dari batang – batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak – balik. Dibawahnya dilengkapi ayakan dengan ukuran (mesh) tertentu. Bahan – bahan dalam granulator tersebut ditekan oleh batang – batang tadi kedasar ayakan dan keluar dari bawah sebagai granule.

    BalasHapus
  98. Nama : Fatmawati
    Kelas : XI KI-1
    Absen : 28


    TUGAS 1
    Proses Pembesaran

    Proses pembesaran (size enlargement )adalh suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Misal dari serbuk menjadi butir-butir atau butir2 kecil menjadi tablet.Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    a. Flokulasi adalah suatu proses penggabungan partikel2 menjadi satu sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring/diendapkan. Suatu koloid dispersi partikel2 zat padat yang sangat halus dalam cairan, tdk dapat disaring/diendapkan secara biasa. Partikel2 zat itu tdk dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabakan adanya muatan elektrolistis yang sama. Dan tegangan permukaan antara partikel & zat cair cukup besar. Contoh dalam industri : - Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    - Penambahan Hcl untukmemflokulasikan tanah liat
    Jadi urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi/penyaringan
    b. Fusi adlh proses pemanasan smentara partikel2 kecil shg mjd cair.cairan ini kmudian mengikat zat padt lainnya mjdi satu shingga ukurannya lebh besar.
    Nodulasi adlh proses pncairan yg sangt cpatsdanka aglomerisasi adlhproses yg berlangsung lambat.
    c. Pengompakan
    c.1 briket adlh suatu bentuk tertentu yg dibuat dg mengompakkan grenule mjd satu
    campuran partikek2 itu kmudian di pres dlm cetakan yg bntuknya tertentu.dlm prosesnya ditambhkan pelincir(lubricant)agar tdk menempel pd cetakan.sperti talk,waxdll
    c.2 pelet dibuat dg menekan bahn 2 itu dlm cetakan yg berlubang kmudian bahn yg keluar lubang2 tadi dipotong shngga trjadi bentuk pelet
    c.3 tablet prinsipnya pembuatannya yaitu mengisikan bahn2 yg berbntuk serbuk kdalm ctakan kemudian dipres
    kmudian dipres. Urutan proses pembuatannya sbg brkut:
    1. Mula2 bahan diisi dgn bahn pembuat tablet
    2. Kmudian ditekan dgn penekan P
    3. Penekan dilepas & dasar D ditekan keatas shg tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar taip2 lubang menjalani proses seperti diatas yaitu :
    1. Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi]
    2. Lubang itu beroutar melalui perata
    3. Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    4. Penekan teangkat & dasarnya mendorong tablet keatas
    5. Tablet yang telah berada daitas keping dg pisau penggaruk digesr kepinggir,demikian seterusnya.
    c.4 granulasi adalh butir2 kecil yang mempunyai ukuran & bentuk tertentu . biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda2 untuk proses selanjutnya misalnya pembuatan pelet/tablet, untuk katalisator
    2. Untuk memudahkan transporatsi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sbg debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    cara pembuatan grenule sbg berikut :
    1. Menggunakan zat perekat : cara ini terutama dipakai untuk serbuk2 yang daya ikatnya kurang bagi zat pelarut dalam air dapat ditaambahkan dengan air. Bila pelarut punya daya pelarut cukak besar biasanya dicampur dengan pelarut lain. Beberapa zat yang sering dipakai sbg zat perekat antara lain gula,gelatin, dextrin aci,melase,dsb. Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang2 horisontal yang membentuk silinder & bergerak bolak-balik. Dibawahnya dilengkapi dengan ayakan.
    2. Melalui Briket : pada cara ini serbuk setelah dibahasi dg kadar tertentu dijadikan briket.
    3. Dengan pengering pancar (spray dryer) : pada cara ini serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan proses sphronizing : pada cara ini tdk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Serbuk yang akan dijadikan grenule diaduk dg car mekanis dg arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  99. Nama : Fatmawati
    Kelas : XI KI-1
    Absen : 28

    Lanjutan...


    TUGAS 2

    Tangki Sedimentasi Pada IPAL

    Sedimentasi adalah pemisahan padatan dan cairan (solid-liquid) dengan menggunakan gaya gravitasi untuk mengendapkan partikel suspensi, baik dalam pengolahan air bersih (IPAM), maupun dalam pengolahan air limbah (IPAL). Ada empat kelas atau jenis pengendapan partikel secara umum yang didasarkan pada konsentrasi dari partikel yang saling berhubungan.

    Kriteria ini secara langsung mempengaruhi konstruksi dan disain sedimentasi. Empat jenis Pengendapan tersebut adalah :Masing-Masing terjadi pada pengolahan air bersih maupun pengolahan air limbah. Pertama adalah Discrete settling adalah pengendapan yang memerlukan konsentrasi suspended solid yang paling rendah, sehingga analisisnya menjadi yang paling sederhana. Di dalam Discrete settling, partikel secara individu mengendap dengan bebas dan tidak mengganggu atau tidak mencampuri pengendapan dari partikel lainnya. Contoh aplikasi dari Discrete settling adalah grit chambers. Jenis pengendapan kedua adalah flocculant settling. Pada flocculant settling inilah konsentrasi partikel cukup tinggi terjadi pada penggumpalan (agglomeration). Peningkatan rata-rata massa partikel ini menyebabkan partikel karam lebih cepat. Flocculant settling banyak digunakan pada primary clarifier Jenis yang ketiga adalah Hindred Settling. Di dalam Hindred Settling, atau Zone Settling, konsentrasi partikel adalah tidak terlalu tinggi (cukup) kemudian partikel bercampur dengan partikel lainnya dan kemudian mereka karam bersama-sama.

    Hindred Settling sebagian besar digunakan di dalam secondary clarifiers. Jenis terakhir adalah Compression Settling. Compression Settling berada pada konsentrasi yang paling tinggi pada suspended solid dan terjadi pada jangkauan yang paling rendah dari clarifiers. Pengendapan partikel dengan cara memampatkan (compressing) massa partikel dari bawah. Tekanan (compression) terjadi tidak hanya di dalam zone yang paling rendah dari secondary clarifiers tetapi juga di dalam tangki sludge thickening. Secara aktual sedimentasi terdiri dari rectangular dan circular. Bak single-rectangular akan lebih ekonomis dibandingkan dengan bak circular pada ukuran yang sama; bagaimanapun, jika banyak tangki diperlukan, unit rectangular dapat dibangun dengan dinding pada umumnya dan menjadi yang paling hemat.

    BalasHapus
  100. Nama : Fatmawati
    Kelas : XI KI-1
    Absen : 28


    RANGKUMAN
    PENGGILING

    Penggiling ada bermacam-macam yaitu :
    1. Penggiling Pusingan (sentrifugal)
    Gaya giling terjadi oleh gaya sentrifugal benda yang berputar. Ada 2 macam penggiling pusingan yaitu :
    a. Penggiling fuller
    Cara kerja : sebuah peluru atau lebih yang bergerak beas dalam rumah-rumah atau lintasan giling akan bergerak berkeliling dalam sebuah lintasan akibat dari pergerakan tangan-tangan yang diputarkan oleh sebuah sumbu.
    b. Penggiling Raymond
    Penggiling Raymond digunakan untuk menggiling batu fosfat, arang bubuk, kapur,dll.

    2. Penggiling Peluru
    Bentuk dari hasil gilingan peluru tidak perna bersudut melainkan berbentuk bola. Penggiling peluru biasanya digunakan untuk menggiling tepung thomas, tulang, tanah liat, arang kayu, email, kwarsa, dll.

    3. Penggiling Buhston
    Penggiling ini terdiri dari dua batu penggiling yang tersusun yang satu diatas yang lain pada waktu bekerja batu yang diam disebut dengan batu baringdan batu yang bergerak disebut batu jalan.

    4. Penggiling Ultra
    Cara kerja : kepingan yang diatas diputarkan oleh sebuah turbin bahan giling dimasukan dari bagian bawah dengan ukuran butir 0,2 mm. bahan giling digilas hingga halus.

    5. Penggiling Putar
    Penggiling putar ini biasanya digunakan untuk menghalus berbagai jenis zat yang lunak dan setengah keras, seperti tanah liat, kapur,pasir cetak, tulang-tulang dan selulose.


    Pak Onny,sebelumnya saya minta maaf...saya kira tugas rangkuman bab penggilingan saya sudah masuk,ternyata setelah hari ini saya lihat kok rangkuman saya tidak ada padahal sudah saya kerjakan waktu liburan hari ke-3 lewat Handphone...saya harap bapak maklum dan sebelumnya saya minta maaf sekali lagi...
    terima kasih ya Pak...

    BalasHapus
  101. NAMA:INDAH ALFIA
    KELAS:XI KI-2
    ABSEN:03


    TUGAS 1


    PROSES PEMBESARAN

    Proses pembesaran (size enlargement) adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi benda yang berukuran lebih besar.
    Proses pembesaran dapat diklarifikasi menjadi 3 yaitu :
    1.Flokulasi (flocculation)
    2.Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    3.Pengompakan (compacting) : Briket, Pelet, Tablet, Granulasi

    1.FLOKULASI
    Adalah suatu penggabungan antara partikel – partikel yang kecil sehingga ukuran menjadi lebih besar. Flokulasi dapat terjadi dengan penambahan zat aktif permukaan (surface – active agents) atau elektrolit yang berfungsi untuk menetralkan muatan partikel atau mengubah PH. Dengan demikian, maka partikel – partikel dapat bergabung satu sama lain. Beberapa contoh flokulasi dalam industry antara lain :
    a. Penambahan ion Al3+ atau Fe3+ pada pembersihan air
    b. Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    c. Pengendapan latex dengan penambahan elektrolit
    d. Penambahan HCl untuk memflokulasikan tanah liat
    Jadi, urutan pada proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi atau penyaringan
    Oleh karena itu, alat flokulasi disebut flokulator yang berbentuk seperti alat sendimentasi (Thickener).

    2.FUSI
    Adalah proses pemanasan sementara pertikel – partikel kecil sehingga sebagian menjadi air. Bila proses pencairan itu sangat cepat, maka disebut Nodulasi, sedangkan bila prosesnya sangat lambat, maka disebut Aglomerisasi. Alat Nodulasi atau Aglomerisasi adalah semacam kiln berputar (rotary kiln), yaitu suatu silinder yang letaknya miring dan dapat berputar.

    PENGOMPAKAN
    a)BRIKET
    Adalah suatu bentuk tertentu yang dibuat dengan pengompakan granule menjadi satu.
    b)PELET
    Pembuatan pellet dilakukan dengan menekan bahan – bahan itu dalam cetakan yang berlubang – lubang. Kemudian bahan yang keluar dari lubang – lubang tadi dipotong, sehingga terjadilah bentuk pellet.
    c)TABLET
    Prinsip pembuatan tablet ialah mengisikan bahan – bahan yang berbentuk serbuk kedalm cetakan, kemudian diproses. Alat pembuat ini berbentuk silinder yang dasarnyadapat bergerak seperti plunyer yang berfungsi untuk mendorong keluar tablet yang telah dibentuk dalam cetakan itu.
    Urutan prosesnya yaitu :
    1.Cetakan diisi dengan bahan pembuat tablet
    2.Tekan dengan penekan P
    3.Penekan dilepas dan dasar D ditekan keatas, sehingga tablet keluar keatas
    d)GRANULASI
    Ialah butir – butir kecil yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu. Granule biasanya dibentuk dari serbuk.tujuan pembentukan yaitu :
    - Mempersiapkan benda untuk proses selanjutnya
    - Untuk memudahkan transportasi atau penyimpanan
    - Mengurangi kehilangan sebagai debu
    - Mengurangi luas permukaan dari puder
    Ada beberapa cara untuk membuat granule yaitu :
    1.Menggunakan zat perekat
    Cara ini digunakan untuk serbuk – serbuk yang mempunyai daya rekat kurang. Karena itu, perlu ditambahkan perekat. Contoh zat perekat yaitu air, gula, gelatin, dextrin aci, melase, dll.
    2.Melalui Briket
    Pada cara ini, serbuk setelah dibasahi dengan kadar tertentu dijadikan briket, kemudian digiling dan diayak.
    3.Dengan Pengering Pancar
    Dengan cara ini, serbuk dibasahi, kemudian disemprotkan kedalam pengeringan yang memerlukan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan cara yang lainnya.
    4.Dengan Proses Spheronizing
    Cara ini tidak diberi zat tambahan apapun. Serbuk yang akan dijadikan granule diaduk dengan cara mekanis dengan arah vertical atau horizontal. Hasil cara ini kurang kuat, sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.
    Granulator adalah suatun gilingan yang terdiri dari batang – batang horizontal yang membentuk silinder dan bergerak bolak – balik. Dibawahnya dilengkapi ayakan dengan ukuran (mesh) tertentu. Bahan – bahan dalam granulator tersebut ditekan oleh batang – batang tadi kedasar ayakan dan keluar dari bawah sebagai granule.

    BalasHapus
  102. Nama : ika mardiana
    Kelas : XI KI 2 / 2
    Rangkuman

    Proses pembesaran (size enlargement )adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar.
    Proses pembesaran diklasifikasikan sebagai berikut :
    a. Flokulasi ( floculation)
    b. Fusi (fusion) : Aglomerisasi, Nodulasi
    c. Pengompakan ( compacting) : Briket, pelet,tablet,granulasi

    A. Flokulasi
    adalah suatu proses penggabungan partikel2 menjadi satu sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring/diendapkan. Suatu koloid dispersi partikel2 zat padat yang sangat halus dalam cairan, tdk dapat disaring/diendapkan secara biasa. Partikel2 zat itu tdk dapat bersatu karena gaya tolak menolak yang disebabakan adanya muatan elektrolistis yang sama. Dan tegangan permukaan antara partikel & zat cair cukup besar. Contoh dalam industri :
    - Penambahan tepung aci pada flokulasi coal
    - Penambahan Hcl untuk memflokulasikan tanah liat
    Urutan proses pada penggunaan flokulasi ialah :
    1. Pencampuran
    2. Flokulasi
    3. Sedimentasi/penyaringan
    B. Fusi
    adalah proses pemanasan smentara partikel2 kecil sehingga menjadi cair.cairan ini kmudian mengikat zat padat lainnya mjdi satu shingga ukurannya lebh besar.
    Nodulasi adalah proses pncairan yg sangt cepat sedangkan aglomerisasi adalah proses yg berlangsung lambat.
    C. Pengompakan
    1. Briket adalah suatu bentuk tertentu yg dibuat dg mengompakkan grenule menjadi satu campuran partikek2 itu kmudian di pres dlm cetakan yg bntuknya tertentu.dlm prosesnya ditambhkan pelincir(lubricant)agar tdk menempel pd cetakan.sperti talk,waxdll
    2. Pelet dibuat dg menekan bahn 2 itu dlm cetakan yg berlubang kmudian bahn yg keluar lubang2 tadi dipotong shngga trjadi bentuk pelet
    3. Tablet prinsip pembuatannya yaitu mengisikan bahn2 yg berbntuk serbuk kedalam cetakan kemudian dipres .
    Urutan proses pembuatannya sbg berikut:
    1. Mula2 bahan diisi dgn bahn pembuat tablet
    2. Kmudian ditekan dgn penekan P
    3. Penekan dilepas & dasar D ditekan keatas shg tablet keluar keatas
    Pada waktu berputar tiap2 lubang menjalani proses yaitu :
    1. Lubang diisi serbuk bahan melalui corong pengisi]
    2. Lubang itu beroutar melalui perata
    3. Lubang yang telah terisi rata itu ditekan dengan penekan
    4. Penekan teangkat & dasarnya mendorong tablet keatas
    5. Tablet yang telah berada daitas keping dg pisau penggaruk digesr kepinggir,demikian seterusnya.
    4. Granulasi adalah butir2 kecil yang mempunyai ukuran & bentuk tertentu ,biasanya dibentuk dari serbuk.
    Tujuan pembentukannya yaitu :
    1. Mempersiapkan benda2 untuk proses selanjutnya misalnya pembuatan pelet/tablet, untuk katalisator
    2. Untuk memudahkan transporatsi atau penyimpanan
    3. Mengurangi kehilangan sbg debu
    4. Mengurangi luas permukaan dari puder agar sedikit berhubungan dg udara
    Cara pembuatan grenule sbg berikut :
    1. Menggunakan zat perekat : cara ini terutama dipakai untuk serbuk2 yang daya ikatnya kurang bagi zat pelarut dalam air dapat ditaambahkan dengan air. Bila pelarut punya daya pelarut cukak besar biasanya dicampur dengan pelarut lain. Beberapa zat yang sering dipakai sbg zat perekat antara lain gula,gelatin, dextrin aci,melase,dsb. Granulator adalah suatu gilingan yang terdiri dari batang2 horisontal yang membentuk silinder & bergerak bolak-balik. Dibawahnya dilengkapi dengan ayakan.
    2. Melalui Briket : pada cara ini serbuk setelah dibahasi dg kadar tertentu dijadikan briket.
    3. Dengan pengering pancar (spray dryer) : pada cara ini serbuk dibasahi kemudian disemprotkan kedalam pengeringan disini diperlukan kadar air yang masih tinggi dari pada dg cara lain.
    4. Dengan proses sphronizing : pada cara ini tdk diberi zat tambahan seperti pada cara sebelumnya. Serbuk yang akan dijadikan grenule diaduk dg car mekanis dg arah vertikal atau horisontal. Hasil dari cara ini kurang kuat sehingga mudah berubah kembali menjadi serbuk.

    BalasHapus
  103. NAMA:INDAH ALFIA
    KELAS :XI KI-2
    ABSEN:03


    TUGAS 2....

    FLOKULASI

    Secara umum keterdapatan air di bumi yang dapat dikonsumsi oleh manusia terdiri dari :

    -Air Hujan
    -Air Permukaan
    -Air tanah

    Dan dari ketiga macam air di atas, yang dapat langsung di konsumsi oleh manusia adalah air hujan dan air tanah dengan kriteria tertentu.

    Air permukaan adalah air hujan yang telah terendap dipermukaan bumi selama beberapa waktu, oleh karena itu tidak dapat dikonsumsi langsung karena :

    Rentan terhadap penyebaran penyakit yang dapat disebarkan melalui air (water borne desease)

    Tidak layak dikonsumsi karena akan menyebabkan gangguan kesehatan. Secara hukum hal ini telah direfleksikan ke dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tanggal 6 Juni 1990 Kualitas Air Golongan A. Misalnya kekeruhannya tinggi dan sifat keasamannya yang rendah sehingga kalau dikonsumsi langsung akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia (sakit perut).

    Untuk mengatasi hal tersebut air permukaan perlu diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh manusia.

    Klasifikasi Air Permukaan Di Indonesia

    Kontaminan utama terhadap air murni H20 adalah zat padat dengan mineral-mineral yang terikut didalamnya. Selain itu, apabila aliran air melalui permukaan tanah dengan tingkat organik yang tinggi seperti tanah gambut, maka kandungan organik akan tinggi pula; demikian juga pada badan-badan air yang telah tercemar limbah atau dipakai sebagai media untuk berkembang biaknya makhluk hidup seperti ikan. Tetapi pada umumnya, panampakan karakteristik air dan metode pengolahannya tergantung dari tingkat kekeruhannya.

    Karakteristik air baku permukaan yang ada di Indonesia secara umum dapat digolongkan menjadi :

    -Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang tinggi
    -Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang rendah sampai sedang
    -Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang sifatnya temporer
    -Air permukaan dengan kandungan warna yang sedang sampai tinggi.
    -Air permukaan dengan kesadahan yang tinggi.
    -Air permukaan dengan kekeruhan sangat rendah.

    Penggolongan ini dapat diuraikan sebagai berikut :

    Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang tinggi

    Air permukaan ini telah mengalir pada permukaan tanah yang rentan terhadap erosi atau ditutupi dengan vegetasi yang rendah kerapatannya. Contohnya adalah :

    -Air irigasi dengan tingkat sedimen yang tinggi
    -Bagian hilir aliran air Sungai Brantas dan Bengawan Solo di Pulau Jawa, utamanya pada saat banjir atau pada daerah aliran yang rentan terhadap erosi dengan tingkat kepadatan vegetasi rendah
    -Air permukaan seperti Sungai Citarum dan Sungai Cisadane di Jawa Barat, yang umumnya telah melewati daerah aluvial (endapan gunung api)

    Kondisi ini umumnya terdapat di Pulau Jawa, tetapi ada pula di wilayah lain seperti pada sistem aliran sungai Walanae di Sulawesi Selatan.

    Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang rendah sampai sedang.

    Air ini umumnya stabil di waduk atau di danau yang sedikit mengandung gulma atau tanaman air. Air ini adalah seperti air pada golongan yang pertama hanya telah mengalami pengendapan yang cukup lama di suatu badan air dengan waktu tinggal yang cukup lama (lebih dari 1 minngu). Contoh air ini adalah :

    -Air di Waduk jati Luhur
    -Air di Kedung Ombo
    -Air di Danau Tempe
    -Air di Waduk Gajahmungkur

    BalasHapus